Serba-serbi

Berkreasi Shibori Bersama SOIna di Sabang Merauke 2019

Rabu (17/7) yang lalu saya berkesempatan hadir di RPTRA Kelapa Nias IX Jakarta Utara dalam acara Sabang Merauke 2019 yang pada hari tersebut memiliki agenda ‘Bermain dan Belajar Membatik Bersama SOIna (Special Olympics Indonesia). Rangkaian kegiatan Sabang Merauke 2019 sendiri sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya. Pada tanggal 5/7, saya juga ikut hadir saat kunjungan ke Pura Aditya Jaya dan Wihara Jakarta Dhammacaka Jaya untuk mengenal keragaman agama.

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) merupakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi, pendidikan, dan keIndonesiaan. Dalam program ini, 20 anak dari berbagai daerah di Indonesia akan tinggal bersama keluarga asuh yang berbeda agama atau budaya, serta berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang selama 3 minggu. Setelah kembali ke daerahnya, mereka akan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di daerahnya masing-masing.

Kegiatan membatik di RPTRA Kelapa Nias IX berlangsung dalam suasana gembira. Teknik shibori diperkenalkan kepada peserta, teknik ini mudah dipelajari serta bisa dilakukan dalam waktu yang relatif cepat. Shibori merupakan kesenian dari Jepang, di mana sebuah pola pada kain diciptakan melalui proses pencelupan pada pewarna. Di Indonesia, contohnya adalah kain jumputan (Palembang) dan sasirangan (Banjar, Kalimantan Selatan).

Baca juga: Mengenal Kebhinnekaan dan Merawat Toleransi di Sabang Merauke 2019

Dasar pembuatan Shibori mirip seperti membatik, di mana beberapa bagian kain dilindungi dengan benda-benda tertentu (kelereng, kotak kayu, tali, pipa paralon, dan lain-lain) agar tidak terkena pewarna. Hasil akhirnya akan memberikan pola sesuai dengan bagian yang diwarnai dan dilindungi. Shibori memiliki berbagai macam teknik. Namun pada kegiatan hari tersebut, ada 4 teknik yang diperkenalkan kepada peserta yaitu miura, arashi, itajime, dan kanoko.

Miura shibori merupakan teknik yang sangat mudah sehingga paling sering digunakan. Kain cukup diikat  kencang dengan tali. Setelah dicelupkan ke dalam pewarna, hasilnya akan membentuk pola yang menyerupai air.

Arashi shibori dibuat dengan cara melilitkan kain pada pipa paralon. Kemudian lilitan kain diikat kencang dengan tali dan didorong sedemikian rupa sehingga membentuk kerutan. Setelah dicelup ke dalam pewarna, pola yang dihasilkan seperti aliran air hujan di waktu badai.

Itajime shibori dibuat dengan cara melipat kain sedemikian rupa. Kemudian kain ditekan dengan balok atau kotak kayu pada kedua sisinya, lalu diikat dengan tali. Lipatan kain yang ditekan dengan dua kotak kayu ini mirip seperti sandwich. Setelah proses pewarnaan, dihasilkan pola yang simetris pada kain.

Kanoko shibori dibuat dengan cara mengikat kelereng dengan karet atau tali. Pola yang dihasilkan bergantung pada seberapa kencang ikatan tersebut. Setelah diwarnai, akan dihasilkan pola lingkaran acak.

Saya juga ikut berkreasi dalam kegiatan ini. Itajime shibori saya pilih karena mudah dan cepat. Setelah lembaran kain saya lipat, kemudian saya tempatkan dua kotak kayu di bagian atas dan bawah lipatan kain tersebut. Tak lupa saya ikat ‘sandwich’ tersebut dengan karet gelang. Sebelum melakukan pewarnaan, jangan lupa gunakan apron atau celemek untuk melindungi baju, serta sarung tangan.

Proses pencelupan ke dalam pewarna juga merupakan bagian yang tak kalah pentingnya. Ada beberapa warna yang disediakan saat itu, yaitu merah, biru, kuning, dan hitam. Seberapa pekat warna pada kain ditentukan oleh seberapa intens kain tersebut dicelupkan ke pewarna.

Setelah pewarnaan selesai, kain dicuci dengan air bersih. Kemudian ikatan-ikatan pada kain dilepas. Ada beberapa peserta yang terlihat cukup repot untuk melepas ikatan pada kain, karena banyak ikatan dan pola yang dibuatnya. Setelah semua ikatan dilepas, kain dijemur hingga kering. Kain dengan pola dan warna cantik pun dihasilkan.

Tentang SOIna

Special Olympics Indonesia atau SOIna adalah satu-satunya organisasi di Indonesia yang mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga bagi warga disablitas intelektual (tunagrahita) di Indonesia. Indonesia bergabung menjadi anggota Special Olympics International pada 9 Agustus 1989. 

Penyandang disabilitas intelektual adalah mereka yang dinilai oleh psikolog menderita kelemahan dalam berpikir dan belajar, serta kesulitan dalam berbicara dan mengeluarkan pendapat. Bila diukur melalui tes IQ, rata-rata nilai mereka berada di bawah angka 70. namun sebagai masyarakat, mereka memiliki hak untuk hidup secara layak, bersosialisasi dan mengembangkan potensi dirinya. Melalui program olahraga khusus ini, diharapkan mereka mampu memenuhi fungsi sosialnya, dapat mandiri dan menjadi warga masyarakat yang dihargai.

Dalam Special Olympics World Games yang dilaksanakan bulan Maret 2019 lalu, Indonesia berhasil meraih 11 medali emas, 6 medali perak, 4 medali perunggu, serta total tujuh ribbon. Atletik menyumbang medali emas terbanyak dengan empat medali emas dan empat medali perak, disusul oleh bulutangkis dengan tiga medali emas. Renang menyumbang dua medali emas dan satu perunggu, sementara tenis meja dan futsal putri menambah masing-masing satu medali emas.

Special Olympics World Games berbeda dibandingkan dengan gelaran multisport lainnya. Atlet akan dibagi sesuai gender, usia, dan kemampuan dalam divisioning. Selain medali emas, perak, dan perunggu, peserta di luar tiga besar juga tetap mendapat medali tanda partisipasi. Special Olympics International juga menggelar kompetisi unified sebagai bagian dari inklusi. Partisipasi di World Games bisa menjadi parameter kepedulian sebuah negara terhadap para penyandang disabilitas intelektual.

21 thoughts on “Berkreasi Shibori Bersama SOIna di Sabang Merauke 2019”

  1. Wah keren nih mas kegiatannya. salam kenal ya.
    Kalau blog saya kebanyakan buat fotografi, nanti kalau mampir komen juga dong hehe

  2. Wah menarik nih. Caranya sederhana,hasilnya bagus banget mas. Bisa dijafiin satu atasan gak iti,hahahha. Acara SOI nya juga bagus,bersahabat dengan anak disabilitas. Sukses terus ya melestarikan budaya dan mendukung anak2 berkebutuhan khusus.

    1. wow ini kegiatan yang keren sekali. Dan, ga nyangka ternyata prestasi indonesia di Special Olympic World Games cemerlang juga ya. Kok ga ‘kedengeran’ ya beritanya? apa saya yang kurang update ya?

  3. Kegiatan serupa begini mesti sering-sering diselenggarakan nih. Nggak cuma bermanfaat buat kita, tapi juga adik-adik ABK. Belajar keterampilan begini bisa merangsang kreativitas dan inovasi, supaya di tengan gempuran teknologi yang makin canggih, kita tetep kenal sama cara konvensional yang unik dan penuh nilai budaya macam shibori. Saya aja baru tau dari tulisan ini ada teknik membatik namanya shibori. Haha

  4. Ih jadinya cakep banget ya teknik pewarnaan pakai metode shibori ini
    Motifnya bagus-bagus. Ternyata caranya cukup praktis
    Ini kalau pas pencucian luntur gak warnanya?

  5. keren banget ini kegiatan sabang-merauke 2019, nggak cuma belajar kebudayaan dari banyak daerah di indonesia tapi juga bisa belajar hal-hal baru dari negara lain seperti berkreasi dengan shibori dari negara jepang ini yah mas.

    semoga setiap tahun akan ada event seperti ini.

  6. Baru tau kalo Sabang Merauke juga punya kegiatan-kegiatan seperti ini. Makasih infonya! Oiya, saya juga tau tentang prestasi teman-teman di SOI. Keep it up!

  7. Aku pernah ikut beljar membatik pake canting. Dan itu susaaahhh. Jadi gak heran klo harga batik tulis tu mahal. Nah klo sibori ini aku blm pernah coba. Kayaknya sih lebih mudah dibanding pake canting ya…

  8. Ternyata bikin shibori ada banyak tekniknya ya. Aku pikir cuma dililit-lilit aja trus jadi deh motifnya. Suka banget sama kain shibori. Pingin juga jadinya ikut workshop shibori… Kegiatannya bagus banget SOI, semoga terus berlanjut..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *