Destinasi Nusa Tenggara & Bali

Berkunjung ke Gereja Kristen Pertama di Rote yang Kondisinya Memprihatinkan

Sebuah lagu lawas milik Panjaitan Bersaudara melintas di benak saya begitu saja di siang pada bulan Mei 2019 itu. Lirik lagu Gereja Tua itu memang memberikan kenangan tersendiri bagi penikmat tembang nostalgia. Namun bila Gereja Tua milik Panbers membawa suasana tenang dan teduh, tidak demikian dengan sebuah gereja tua yang berdiri di hadapan saya. Ada rasa sedih dan terenyuh saat melihatnya.

Rumah Tuhan di salah satu sudut Pulau Rote itu berukuran tidak terlalu besar, seukuran rumah bertipe kecil. Fondasi dan dinding bagian bawah terbuat dari batu dan semen, menopang tiang-tiang dan dinding berpapan kayu di atasnya. Ia seolah berdiri dalam kesunyian di tepi jalan kecil beraspal yang menanjak menuju ke ujung bukit.

Kondisinya memprihatinkan. Tiang-tiangnya keropos di sana-sini. Beberapa bagian rangka dan dinding patah dan terlepas. Masuk ke dalam ruangan, sebuah mimbar batu berdiri di dekat mimbar kayu. Sebuah Alkitab ada di atas mimbar kayu. Butir-butir kotoran kambing berserakan di seluruh lantai berplester semen.

Baca juga: Kain Tenun dan Sasando, Kerajinan Tangan Khas dari Rote

Nilai historis dimiliki oleh gereja tersebut, berkenaan dengan masuknya agama Kristen di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1700-an. Di tempat tersebut berdiri gereja pertama di Rote, dan bangunan direnovasi pada tahun 1994. Bangunan hasil renovasi 1994 itulah yang kondisinya kurang terawat seperti yang saya gambarkan di atas.

***

Adalah Foeh Mbura, seorang tokoh yang memiliki peran penting bagi sejarah kekristenan di Rote. Foeh Mbura (Benyamin Mesakh) adalah raja dari Nusak (Kerajaan) Thie, salah satu dari sekian kerajaan lokal yang ada di Rote saat itu.

Foeh Mbura prihatin akan situasi keamanan, kesejahteraan, dan pengetahuan rakyatnya. Dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, Foeh Mbura pada tahun 1729 meninggalkan Nusak Thie. Ia dan rombongan berlayar dengan perahu menuju Batavia untuk mempelajari bahasa, ilmu pemerintahan, agama Kristen, dan pengetahuan yang lain (pertukangan, pertanian, perikanan, hingga membuat senjata api).

Foeh Mbura bisa disebut sebagai seorang yang hebat dan idealis, selain sebagai seorang pelaut handal. Tim ekspedisi yang dipimpin Foeh Mbura diterima Gubernur Jenderal Batavia, Diderik Durven dengan senang hati dan berjanji akan memenuhi keinginan mereka. Setelah masa waktu 3 tahun belajar, Foeh Mbura akhirnya kembali dari Batavia dan berlabuh di Rote pada tahun 1732.

Foeh Mbura pun menerapkan pengetahuan yang didapatkannya di Batavia. Selain menerapkan ilmu pemerintahan, ia juga memperkenalkan Injil dan juga bertindak sebagai guru. Ia dibantu oleh Mbate Moi (Johanis Moi) dalam mengajar rakyatnya, dari anak-anak hingga orang dewasa. Untuk keperluan mengajar tersebut, istana raja dipakai sebagai tempat pendidikan. Peserta didik tidak hanya berasal dari Nusak Thie saja, tetapi dari nusak lain. Para siswa dari nusak lain yang menuntut ilmu tersebut tinggal di rumah-rumah penduduk sekitar istana.

Untuk modernisasi, pada tahun 1733 Foeh Mbura meminta bantuan tenaga guru agama dari Kupang bernama Johanis Senghaje. Dan sebuah gedung sekolah dibangun tahun 1734 tidak jauh dari istana raja. Dari gedung inilah berawal adanya klasifikasi (pembagian kelas). Keberadaan gedung sekolah tersebut membuat bertambah banyak siswa yang datang dari Nusak Thie di Fiulain, dan juga nusak-nusak lain yang ada di Pulau Rote.

Bendera sebagai lambang kerajaan dikibarkan setiap hari di depan istana. Tiang bendera tersebut ditempatkan di atas sebuah batu karang di tepi laut dan batu itu dikenal dengan Batu Dedeo (Batu Bendera). Dalam peringatan Yubelium GMIT pada tahun 1997, pada puncak Batu Bendera dipancang sebuah salib yang terbuat dari besi.

Foeh Mbura terbunuh dalam suatu pertemuan para raja Rote dengan para pembesar Kompeni di Termanu pada tanggal 12 Oktober 1746. Sebuah makam bertulis namanya terletak tak jauh dari salib besi di Batu Bendera.

***

Bangunan gereja hasil renovasi, makam Foeh Mbura, dan juga tiang salib yang letaknya berdekatan, bisa kita temui hingga saat ini. Lokasinya berada di sebuah bukit dan berada jauh dari pemukiman penduduk.

Saya menduga, karena lokasinya yang berjarak dari pemukiman itulah yang membuat bangunan gereja menjadi tidak terawat seperti yang saya lihat pada Mei 2019 lalu. Hal ini tentunya sangat disayangkan. Situs bernilai historis ratusan tahun sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

11 thoughts on “Berkunjung ke Gereja Kristen Pertama di Rote yang Kondisinya Memprihatinkan”

  1. Aku miris lihat kondisi bangunannya. Untung masyarakatnya tetap semangat beribadah, ya. Salut. Semoga berangsung-angsur kondisi bangunannya akan ada kemajuan. Tapi di sisi lain, saya lihat ini jadi terkesan natural. Terlihat sejuk dan menenangkan. Tempat dan bangunan ini seperti ingin saya datangi berkali2. Mungkin karena sudah terlalu sering lihat beton2 ibukota kali, ya.

  2. Sayang banget ya, bangunan bersejarah begini ngga terawat dengan baik. padahal, penting banget ya sebagai jejak sejarah. Semoga bisa dirawat dengan baik…. dan Pemerintah setempat lebih peduli ya, mengingat Gereja ini punya nilai historis yang berharga banget…

    Thanks for sharing ya Mas

  3. Semoga pemerintah daerah memperhatikan bangunan ini ya.. dari kondisinya sih sudah cukup lama juga ya tidak diperhatikan.. apalagi tempat ibadah, jadi harus diperhatikan supaya masyrakat juga lebih nyaman beribadah..

  4. Benar-benar sangat disayngkan yah, padahal pemerintah harusnya bisa memperhatikan bangunan ini yang punya nilai aset sejarah dan bisa dijadikan juga sebagai destinasi wisata.

  5. Bangunan tua ini punya nilai historic, seharusnya pemerintah setempat bisa lebih peduli untuk menjaga bangunan bersejarah ini ya. Miris deh, padahal mayoritas masyarakat dan pimpinan di Rote beragama Kristen/Katholik ya harusnya bisa memberi perhatian lebih.

Leave a Reply to Jalan-Jalan KeNai Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *