Hiburan

Film Ziarah dan Memaafkan Masa Lalu

Film Ziarah (2016)

Film Ziarah ini sebenarnya bukan film baru karena diproduksi beberapa tahun lalu. Namun, saya baru menyaksikannya melalui streaming beberapa waktu lalu. Di masa-masa WFH karena pandemi Covid-19, salah satu aktivitas saya menjelang tidur malam yaitu streaming musik maupun film lepas. Salah satu film yang saya saksikan yaitu Ziarah. Bulan April 2020 lalu film ini juga pernah diputar di layar TVRI, namun saya terlewat untuk menyaksikannya.

Penulis skenario, sutradara, dan produser film berdurasi 87 menit ini adalah BW Purba Negara. Film Ziarah berhasil memenangi ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 di Malaysia untuk dua kategori: Best Screenplay dan Special Jury Award.

Penghargaan lainnya yang juga diraih antara lain Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016, Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016, Nominasi Penulis Skenario di Festival Film Indonesia 2016, Nominasi Film Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2016 dan Kompetisi Film di Jogja Netpac Asian Film Festival 2016.

Sinopsis Film Ziarah

Film Ziarah berkisah tentang seorang wanita bernama Mbah Sri (yang diperankan oleh Ponco Sutiyem). Diceritakan, wanita berumur 95 tahun ini memiliki seorang suami bernama Prawiro. Mbah Sri berpisah dengan suaminya ketika terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948 di Yogyakarta. Sang suami tidak pernah lagi pulang setelah perang tersebut usai.

Baca juga: Mengenang Sejarah Perjuangan Nasional di Museum Benteng Vredeburg

Berpuluh-puluh tahun berlalu, Mbah Sri masih masih setia menunggu sang suami. Mbah Sri hidup menjanda. Sahabat-sahabatnya banyak yang berpulang dan dikuburkan di sebelah pusara suami. Mbah Sri berniat mencari makam sang suami agar kelak ia bisa dimakamkan di sebelah orang yang dicintainya tersebut.

Suatu ketika Mbah Sri bertemu dengan tentara veteran yang mengenal Prawiro. Sang veteran tersebut mengetahui lokasi ditembaknya Prawiro oleh Belanda. Berbekal informasi tersebut, Mbah Sri memulai perjalanannya mencari makam sang suami.

Dengan naik angkutan umum dan berjalan kaki, Mbah Sri berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Tubuhnya yang renta tak menghalangi semangat Mbah Sri untuk menemukan makam sang belahan jiwanya.

Perjalanan tersebut ternyata harus berujung pada sebuah fakta yang menyakitkan. Suaminya, Prawiro ternyata memiliki istri lain. Digambarkan pada film tersebut, Mbah Sri pingsan di sebuah makam. Mbah Sri akhirnya memaafkan dan mengikhlaskan peristiwa masa lalu yang dialaminya.

Kekuatan Film

Akting dari tokoh utama Ponco Sutiyem menjadi daya tarik dari film Ziarah ini. Wanita sepuh ini bukanlah seorang aktris. Ia adalah warga asli Gunung Kidul, Yogyakarta dan dipilih oleh BW Purba untuk memerankan tokoh Mbah Sri. BW Purba sebelumnya berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari tokoh untuk memerankan Mbah Sri tersebut.

Inspirasi film Ziarah ini diperoleh BW Purba dari tragedi tsunami Aceh tahun 2004 yang sangat membekas di hati. Saat peristiwa kemanusiaan tersebut, BW Purba bertemu dengan banyak orang yang akhirnya mampu berdamai dan mengikhlaskan kejadian yang dialami.

Tidak banyak dialog yang diucapkan oleh Mbah Sri, namun ekspresi dan penjiwaan dari wanita sepuh ini mampu membawa penonton larut dalam alur cerita. Dialog-dialog dalam film Ziarah ini sebagian besar menggunakan bahasa Jawa.

Visualisasi dalam film juga enak dilihat. Penonton dibawa untuk melihat gunung, waduk, lembah, sawah, dan jalan-jalan khas suasana pedesaan. Salah satu adegan yang sangat kuat yaitu ketika Mbah Sri berada di atas perahu di sebuah waduk, lalu menabur bunga di permukaan air waduk. Di bawah air dulunya ada pemakaman warga, dan sempat diduga makam Prawiro ada di lokasi tersebut.

Isu sejarah republik tercinta ini juga ikut diselipkan dalam cerita. Misalnya tragedi G 30 S/PKI dan peristiwa Waduk Kedungombo, yang banyak memakan korban dari kalangan rakyat kecil.

Baca juga: Mangun: Sebuah Novel Perjalanan Cinta Kasih Sang Romo

Ada sisi klenik yang ikut ditampilkan dalam film ini. Sebuah keris ikut memberi petunjuk kepada Mbah Sri, ke arah mana ia harus berjalan untuk menemukan makam suaminya. Keris yang dimiliki Mbah Sri ternyata punya pasangan keris lainnya yang dimiliki oleh Prawiro.

Moral of Story

Film Ziarah ini menjadi hiburan yang penuh inspirasi. Pesan atau moral dari film ini yaitu tentang berdamai dan memaafkan masa lalu. Setelah mengikuti betapa beratnya perjalanan Mbah Sri, di bagian-bagian akhir ada sebuah plot twist. Sebuah akhir cerita yang tidak terduga, menjadi jawaban mengejutkan atas pertanyaan sepanjang film tersebut.

Digambarkan, bagaimana kecewanya wanita sepuh ini setelah perjalanan panjangnya berakhir di sebuah pemakaman, di mana makam Prawiro berdampingan dengan makam istrinya yang lain. Meski Mbah Sri sempat jatuh pingsan, ia kemudian justru berdoa dan menaburkan bunga di kedua makam tersebut.

Tak mudah tentunya mengambil sikap seperti yang dilakukan Mbah Sri di film Ziarah ini. Memaafkan tentu membutuhkan kebesaran hati. Namun seberat apa pun, memaafkan harus dilakukan. Kita perlu mengambil teladan yang dilakukan Mbah Sri, yang memiliki kebesaran hati untuk memaafkan masa lalunya.

(Gambar utama, sumber: balepoint.com)

Baca juga: Film 1917: Sinematografi Keren dengan Adegan Tanpa Putus

16 thoughts on “Film Ziarah dan Memaafkan Masa Lalu”

  1. Wah penasaran dengan cerita nih film, kejadian di Gunungkidul tetapi terinspirasi dari kejadian di aceh. Ok masuk list untuk di tonton berikutnya

  2. pesang yg saya tangkap adalah apabila cinta sudah ada hubungan dan mengikuti kesetiaan maka saya yakin sampe maut memisahkan pun pasangan akan kekal selamanya di akhirat

  3. plot akhirnya lumayan bikin hati saya miris ya.. nyari2 makam suami, ternyata… aduduh
    jadi penasaran ingin nonton film Ziarah ini. Aku suka film yang punya nilai seni yang bagus.

  4. Belum nonton. Setelah membaca ini jadi penasaran sama film ziarah ini.
    Kesetiaan yg akhirnya mengetahui kenyataan yg berbeda, berat tapi bisa dilalui. Harus ditiru pesan yg disampaikan dalam realita hidup ini, agar ga ada dendam di hati ya.

  5. Saya belum tau film Ziarah ini. Baca jalan ceritanya jadi tertarik ingin nonton langsung. Melihat peran yang dilakukan mbah yang sudah sepuh jadi menimbulkan rasa kangen sama simbah.
    Sedih juga setelah tau endingnya

  6. Astaga sedih banget ceritanya. Itulah kenapa Katanya perempuan bisa menjanda bertahun-tahun bahkan sampai mati. tapi kalau pria nggak kuat Kalau bisa secepatnya menikah setelah ditinggal istri huhuhu. Dari artikel ini saya bisa menyimpulkan kalau jalan ceritanya bagus banget. Salut deh untuk penulis skenarionya.

  7. Sad story banget ini mah, berpuluh-puluh tahun nunggu sang suami, eh tau-taunya :”(
    BTW jarang-jarang ada film yang pemeran utamanya udah nenek-nenek, jadi menambah keunikan sendiri buat film ini.

  8. Tega banget mbah prawiro sama mbah sri. Jadi pengen nonton jugak, btw nontonnya mesti di platform apa ini? Netflix ada ga ya? Bener banget mampu berdamai dan mengikhlaskan kejadian yang dialami adalah kunci kebahagiaan hidup sejati.

  9. Baru membaca judulnya saja film ini membuat saya penasaran apalagi mendengar banyak mendapat penghargaan internasional. Btw, endingnya bikin shock semua penonton pastinya ya.

  10. Cerita yang sangat menarik dan menyentuh hati.

    Btw, aku belom pernah nonton. Apakah bisa ditonton di Netflix atau iflix?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *