Serba-serbi

Gerakan “One Earth Movement” dari Batiqa Hotels untuk Kelestarian Lingkungan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni. Untuk tahun 2019, tema utama yang diangkat yaitu mengendalikan sampah plastik. Sampah plastik saat ini telah menjadi ancaman sangat serius terhadap lingkungan hidup. Negara-negara di dunia termasuk Indonesia telah membuat gerakan bersama mengatasi sampah yang sulit terurai tersebut.

Di Indonesia, komposisi sampah plastik sekitar 16 % dari total timbulan sampah secara nasional. Sampah plastik tersebut berasal dari kemasan makanan dan minuman, kemasan consumer goods, kantong belanja, serta pembungkus barang lainnya. Diperkirakan baru 10-15% saja dari total timbulan sampah plastik tersebut yang telah didaur ulang. Sisanya, 60-70 % ditimbun di TPA dan 15-30 % belum terkelola dan terbuang ke lingkungan terutama perairan seperti sungai, danau, dan laut.

Beberapa foto atau video yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu, memperlihatkan bagaimana pantai dan laut seakan menjadi tempat pembuangan sampah, sebagian besar berupa plastik. Binatang-binatang laut ikut menjadi korban, misalnya penyu yang kesakitan karena hidungnya kemasukan sebatang sedotan minuman atau ikan paus yang mati dengan sampah-sampah plastik ditemukan teronggok di dalam perutnya. Miris sekali!

Kondisi memprihatinkan ini harus segera diatasi jika kita tidak ingin laut Indonesia berubah menjadi kuburan plastik. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan harus segera dimulai. Laut dan pantai Indonesia adalah sebuah berkah yang luar biasa yang diberikan kepada kita. Tidak hanya terkenal karena keindahannya, laut Indonesia juga memiliki kekayaan biota laut yang melimpah. Bahkan spesies tertentu hanya bisa ditemukan di laut Indonesia.

Menikmati keindahan salah satu pantai di Rote

Awal Mei 2019 ini, saya berkunjung ke Pulau Rote, NTT. Beberapa hari saya dan tim menginap di Nemberala, Rote Barat untuk sebuah proyek penelitian sosial. Di waktu senggang, saya sempatkan untuk datang ke beberapa pantai di Rote Barat dan Rote Barat Daya. Saya melihat dan menikmati keelokan yang dimiliki oleh pantai di Rote ini. Air laut yang jernih dan pasir putih yang lembut saat diinjak, semua menjadi daya tarik tersendiri.

Di sore terakhir sebelum kembali ke Jakarta, saya sempat berbincang dengan seseorang wanita. Ia dan timnya dari sebuah universitas di NTT, datang ke Rote untuk meneliti biota laut. Tak jauh dari Nemberala, ada sebuah pulau kecil di mana perairan di sekitarnya menjadi lokasi pari manta untuk membersihkan tubuhnya dari parasit. Sayang sekali, ia tak sempat melihat perilaku unik dari pari manta tersebut, karena kondisi gelombang yang kurang bagus menjadi kendala untuk kegiatan menyelam.

Spesies unik lainnya yang hidup di Indonesia misalnya terdapat di Kepuluan Derawan di Kalimantan Timur. Kepulauan ini terdiri dari Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Beberapa spesies seperti penyu, pari manta hingga ubur-ubur tak beracun bisa dijumpai. Di Pulau Kakaban, ada sebuah danau yang menjadi habitat ubur-ubur tak beracun.

Pulau Kakaban sendiri awalnya adalah sebuah atol dengan laguna yang berada di tengahnya pada 2 juta tahun lalu. Karena pergerakan lempeng, atol tersebut naik perlahan-lahan hingga mencapai ketinggian sekitar 50 meter melalui proses selama ribuan tahun. Air laut yang berada di dalam laguna tersebut akhirnya terjebak dan tidak bisa keluar lagi, lalu menjadi sebuah danau yang bentuknya seperti dipeluk oleh daratan. Nama Kakaban dalam bahasa lokal memiliki arti ‘memeluk’.

Ubur-ubur di Kakaban (dok. Kakaban Trip)

Karena perubahan evolusi yang cukup lama oleh air hujan dan air tanah, maka air laut yang ada di dalam danau tersebut berubah menjadi lebih tawar dibandingkan dengan air laut di luar pulau. Perubahan ini berpengaruh terhadap fauna yang menghuni danau tersebut, salah satunya adalah ubur-ubur yang hidup di danau tersebut. Melalui evolusi yang panjang, ubur-ubur tersebut akhirnya kehilangan kemampuan sengatnya karena nyaris tanpa predator di dalam danau.

Gerakan ‘One Earth Movement’ dari Batiqa Hotels untuk Konservasi Alam Indonesia

Kekayaan laut Indonesia telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang memberikan kontribusi ekonomi. Kepedulian para wisatawan terhadap lingkungan mutlak diperlukan, agar kelestariannya tetap terjaga. Tidak hanya wisatawan, pemerintah dan para pelaku wisata lainnya juga perlu memiliki kepedulian yang sama.

Batiqa Hotel Karawang

Batiqa Hotels sebagai salah satu pelaku pariwisata terpanggil untuk ikut serta dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dalam rangka menyambut hari lingkungan hidup sedunia, Batiqa Hotels berkomitmen untuk mengambil peran aktif dalam gerakan konservasi alam Indonesia, khususnya di kawasan-kawasan wisata bahari seperti di Kepulauan Derawan dan Pulau Rote.

Terkait sosialisasi hal tersebut, Pada tanggal 17 Mei yang lalu saya hadir dalam acara buka puasa bersama yang dilanjukan dengan talkshow “Pariwisata yang Memperhatikan Lingkungan” yang diadakan di Batiqa Hotel Karawang, Jawa Barat. Narasumber acara tersebut yaitu Bapak Amir Michael Tjahaja (Vice President Director BHM Hospitality), Mr. Matthew Lim (Operational Director BHM Hospitality), Bapak Budi Santoso (Director of Development The Nature Conservacy dari Yayasan Konsevasi Alam Nusantara) dan Annisa Malati (Travel Influencer). Acara ini dipandu oleh Wardah Fajri atau Mbak Wawa (Founder Bloggercrony Community).

Bapak Amir Tjahaja menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk berperan aktif dalam menjaga ekosistem Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui gerakan #OneEarthMovement yang juga mendapatkan dukungan dari Yayasan Konsevasi Alam Nusantara (YKAN). Gerakan #OneEarthMovement bertujuan mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian alam indonesia dan mengedukasi masyarakt atas isu conscious hospitality.

Conscious hospitality merupakan konsep layanan yang mengaplikasikan keramahtamahan dengan penuh kesadaran, bertujuan dan pertimbangan yang bijaksana. Sebagai salah satu pelaku industri pariwisata, kelestarian lingkungan di destinasi wisata bahari seperti di Derawan dan Rote merupakan hal yang menjadi perhatian Batiqa Hotels.

Talkshow: Pariwisata yang Memperhatikan Lingkungan

Salah satu upaya Batiqa Hotels untuk mengurangi kerusakan lingkungan yaitu dengan meminimalisasi penggunaan plastik di lingkungan hotel. Batiqa hotels secara bertahap mengganti amenities hotel yang berbahan dasar plastik menjadi Ecoplas yang terbuat dari singkong. Ecoplas lebih cepat terurai dibandingkan dengan plastik, dan tentunya membantu dalam meminimalisasi jumlah limbah plastik.

Sementara itu, Mr. Matthew Lim mengungkapkan bahwa Indonesia mempunyai potensi pariwisata yang besar. Karena itu, Batiqa Hotel membuka hotel di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam membangun hotel, aspek lingkungan tetap diperhatikan oleh Batiqa Hotel. Batiqa Hotel sejauh ini lebih banyak menyasar daerah-daerah di luar Jakarta, seperti Palembang, Lampung dan lainnya, serta ingin menciptakan the next Bali seperti Labuan Bajo dan daerah lain.

Sedangkan Bapak Budi Santoso mengungkapkan betapa penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan data Yayasan Konsevasi Alam Nusantara (YKAN), Indonesia bukan hanya negara kepulauan terbesar melainkan juga negara dengan keanekaragaman hayati laut terbanyak.   

Kerjasama Batiqa Hotels dengan YKAN

Traveler Annisa Malati membagikan pengalamannya saat berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Ia bercerita tentang keindahan alam dan cara hidup masyarakatnya, misalnya di Pulau Morotai. Pulau ini selain cantik, kondisi lingkungannya juga terjaga kebersihannya. Ia tak menemukan sampah selama berada di sana. Kesadaran masyarakat Morotai untuk menjaga kebersihan lingkungan cukup baik. Banyak tempat sampah yang disediakan oleh warga di berbagai lokasi sehingga wisatawan tidak membuang sampah sembarangan.

Batiqa Hotel Karawang dan Fasilitasnya

Batiqa Hotel Karawang berlokasi di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang. Kawasan ini menjadi tempat pertama kali Batiqa Hotel berdiri. Batiqa Hotel Karawang berada di lokasi strategis, tidak jauh dari pintu tol Karawang Timur. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, seperti restoran, kolam renang, dan gym. Saat ini Batiqa Hotel hadir di Cirebon, Jababeka, Palembang, Pekanbaru, Lampung, dan Surabaya.

Nuansa budaya Sunda di Batiqa Hotel Karawang

Budaya lokal juga menjadi hal yang diperhatikan oleh Batiqa Hotel Karawang. Di lobi hotel yang terhubung langsung dengan restoran, kita bisa melihat budaya nusantara yang ditampilkan. Sepasang wayang golek khas Sunda, seperangkat angklung, hingga angkringan yang menyediakan menu makanan tradisional menjadi hal menarik yang bisa kita temui.

Makanan dan minuman yang disediakan juga cukup lengkap, dan tentu saja rasanya yang nikmat. Selain itu, saat bulan Ramadan ini Batiqa Hotel Karawang juga menyediakan hidangan santap sahur bagi para tamu.

Upaya Menjaga Kelestarian Lingkungan

Batiqa Hotels memiliki beberapa upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Upaya tersebut antara lain:

Penggantian plastik dengan ecoplas

Batiqa Hotels secara bertahap mengganti amenities hotel yang berbahan dasar plastik menjadi Ecoplas yang terbuat dari singkong. Ecoplas lebih cepat terurai dibandingkan dengan plastik, dan tentunya membantu dalam meminimalisasi jumlah limbah plastik.

Produk ecoplas

Donasi untuk konservasi lingkungan

Penggalangan donasi untuk konservasi lingkungan juga dilakukan oleh Batiqa Hotels. Misalnya untuk konservasi penyu dan ubur-ubur di Kakaban dan Rote, melalui beberapa cara yang ditempuh yaitu:

– Mendonasikan Rp10.000/transaksi untuk setiap reservasi yang dilakukan dengan cara walk-in dan Rp5000/transaksi untuk setiap reservasi melalui situs resmi www.batiqa.com.

– Menawarkan ecoplas kepada tamu hotel ataupun masyarakat sekitar. Batiqa Hotels akan mendonasikan Rp15.000 dari setiap ecoplas yang terjual.

– Memfasilitasi masyarakat yang ingin berdonasi langsung secara mandiri melalui link yang ada di www.batiqa.com.

Pusat pengolahan limbah terpadu

Limbah dari kawasan industri Suryacipta Karawang, termasuk Batiqa Hotel Karawang diolah melalui fasilitas Waste Water Treatment Plant (WWTP) Organica Suryacipta.  Limbah air dari hotel dan juga properti lain tersebut diolah dengan teknologi pengolahan limbah dari Hungaria yang menerapkan penguraian limbah berkonsep kebun bunga dan buah.

WWTP Organica Suryacipta
Taman di unit pengolahan limbah

Beberapa tanaman buah dan bunga bisa kita jumpai di WWTP Organica Suryacipta. Setiap tanaman diberikan label nama, berikut nama latinnya. Tanaman yang hijau dan subur tersebut mampu menciptakan udara yang segar serta lingkungan yang indah dan asri.

Upaya yang telah dilakukan oleh Batiqa Hotels ini merupakan langkah positif untuk berperan serta menjaga kelestarian lingkungan. Langkah tersebut patut diapresiasi, serta dicontoh oleh perusahan-perusahaan lainnya.

1 thought on “Gerakan “One Earth Movement” dari Batiqa Hotels untuk Kelestarian Lingkungan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *