Sehat

Hari Diabetes Sedunia 2019: Lindungi Keluarga dari Diabetes

Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap tanggal 14 Nopember. Untuk tahun 2019, tema peringatan Hari Diabetes Sedunia adalah “Lindungi Keluarga dari Diabetes”. Berkaitan dengan peringatan Hari Diabetes Sedunia 2019 tersebut, Kementerian Kesehatan RI mengadakan temu blogger yang bertempat di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kuningan, Jakarta Selatan pada 15 Nopember 2019.

Acara temu blogger tersebut menghadirkan beberapa narasumber yaitu Dr. Cut Putri Arianie selaku Direktur P2PTM Kemenkes RI, Prof. dr. Jose RL Batubara, PhD, SpA (K) dari Divisi Endokrinologi Anak, FKUI – RSCM, dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, KEMD yang merupakan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Suharyati, SKM, MKM, RD – PERSAGI, dan dr. Michael Triangto, Sp.KO.

Tema “Lindungi Keluarga dari Diabetes” sendiri membawa pesan untuk meningkatkan peran dan kepedulian keluarga dalam pencegahan dan edukasi diabetes serta dukungan terhadap anggota keluarga penyandang diabetes. Dukungan tersebut begitu penting mengingat prevalensi diabetes di Indonesia terus meningkat. Hasil Riskesdas tahun 2013 dan 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia meningkat dari 6,9% menjadi 8,5 %.

Diabetes dikenal sebagai mother of diseases dan termasuk dalam kategori penyakit tidak menular. Penyakit Tidak Menular (PTM) masuk ke dalam 10 penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Jika dulu penyakit tidak menular dianggap penyakit degeneratif (karena faktor umur atau usia lanjut), maka saat ini sudah menyerang anak muda usia 12-14 tahun. Hanya 3 dari 10 penderita PTM yang terdeteksi, selebihnya tidak mengetahui bahwa dirinya sakit karena PTM tidak ada gejala dan tanda sampai terjadi komplikasi. Dan dari 3 penderita PTM tersebut, hanya 1 penderita yang berobat teratur.

Kebijakan dan strategi dalam mengurangi risiko PTM yaitu:
1. Promosi kesehatan
2. Deteksi dini
3. Perlindungan khusus termasuk imunisasi
4. Pengobatan

Para peserta temu blogger pada peringatan Hari Diabetes Sedunia 2019

Pola makan, kurangnya aktivitas fisik, merokok (termasuk juga vape atau rokok elektronik) dapat menjadi faktor seseorang terkena Penyakit Tidak Menular. Salah satu cara mencegah PTM yaitu dengan bergerak atau aktivitas fisik. Misalnya dengan jalan kaki minimal 30 menit atau 10.000 langkah setiap hari.

Selain aktivitas fisik, PTM juga dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat dan deteksi dini penyakit. Deteksi dini penyakit dengan melakukan cek tekanan darah, gula darah dan IMT (index massa tubuh). IMT tersebut bisa dilakukan dengan mengukur lingkar perut. Lingkar perut ideal untuk pria <90 cm dan wanita <80 cm.

Diabetes pada Anak

Selama ini banyak yang berpikir bahwa diabetes hanya terjadi pada kelompok usia dewasa. Namun, nyatanya siapa pun bisa terkena diabetes, bahkan termasuk anak-anak. Perubahan tren penyakit menyebabkan Penyakit Tidak Menular yang salah satunya diabetes kini terjadi di usia produktif. Kejadian Diabetes Melitus pada anak jumlahnya terus meningkat, tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Di dunia, hampir 70 ribu kasus setiap harinya, sedangkan di Indonesia hampir setiap hari dan setiap bulan ada kasus baru.

Ada 2 jenis diabetes pada anak yaitu Diabetes Melitus tipe 1 dan tipe 2. Diabetes Melitus tipe 1 terjadi karena kerusakan sel beta pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin. Insulin berperan merubah gula menjadi energi. Karena insulin tidak bisa diproduksi, gula darah tidak bisa diubah sehingga gula darah tetap tinggi. Diabetes Melitus tipe 2 paling sering ditemukan pada orang dewasa serta pada orang yang memiliki berat badan berlebih (obesitas). Pada tipe ini insulinnya diproduksi cukup, namun tidak dapat berfungsi secara normal.

Anak penderita diabetes memiliki gejala klinis seperti berat badan turun drastis, gata-gatal, sering buang air kecil bahkan sampai mengompol, sering haus dan bawaannya ingin minum terus, kesemutan, dan lain-lain. Apabila ada gejala-gejala tersebut, anak agar segera diperiksa ke dokter untuk segera mendapatkan penanganan.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk anak penderita diabetes, di antaranya dengan melakukan suntik insulin seumur hidup untuk mengontrol kadar gula darah, menjaga nutrisi seimbang, melakukan upaya preventif dengan memberikan edukasi, serta harus rutin olahraga. Upaya-upaya tersebut bertujuan untuk mengontrol metabolik.

Untuk kebutuhan kalori, lakukan dengan diet seimbang yaitu 50-55% karbohidrat, protein 15-20%, dan 30% lemak, serta harus sesuai dengan kebutuhan tubuh.  Karbohidrat harus dihitung untuk pemberian insulin. Pada anak diabetes sangat dianjurkan olahraga, karena dengan berolahraga maka sensitivitas pada insulin juga semakin meningkat.

Gaya Hidup Sehat dan Seimbang

Kita harus memliki gaya hidup sehat dan seimbang, yaitu dengan memerhatikan konsumsi makanan yang sehat serta berolahraga.

Untuk mengetahui status gizi kita, maka kita dapat melakukan pengecekan:
– Timbang berat badan
– Ukur tinggi badan

Berat badan normal dan ideal dihitung dengan cara berikut:
Berat badan normal = Tinggi badan (cm) – 100
Berat badan ideal = (Tinggi badan (cm)-100) x 90%

Makanan sehat harus aman serta mengandung zat gizi dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan kita. Selain itu juga harus bebas dari kuman, cemaran fisik dan cemaran kimia. Makanan dengan gizi seimbang mengandung sumber zat tenaga (karbohidrat dan lemak), sumber zat pembangun (protein), dan sumber zat pengatur (vitamin dan mineral).

Bagi penderita tahap awal, diabetes bisa dikontrol dengan melakukan olahraga yang tepat sebelum dibantu dengan obat. Berbagai manfaat olahraga antara lain olahraga yang tepat dapat meningkatkan kepekaan terhadap insulin, penggunaan insulin yang lebih efektif akan memperbaiki kadar glukosa darah, insulin yang optimal akan mengurangi penimbunan lemak, meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru, serta menurunkan lingkar perut.

1 thought on “Hari Diabetes Sedunia 2019: Lindungi Keluarga dari Diabetes”

  1. Wahhh kalau sampai disuntik seumur hidunya agak gimana gitu yaa, tapi yah mau gimana lagi demi kesehatannya juga.. Tapi apakah ada hal hal yang harus dilakukan atau semacam penghindaran agar tidak terkena penyakit seperti itu, apakah ada yang harus dikurangi atau hal yang dihindarkan begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *