Destinasi Jawa

Jelajah Museum Multatuli di Rangkasbitung

Minggu siang di awal September sekitar jam 12.30 saya tiba di alun-alun Rangkasbitung, Lebak, Banten. Seperti alun-alun di beberapa kota di Jawa, pada sisi barat alun-alun Rangkasbitung ini berdiri masjid besar. Kantor bupati berada di sisi selatan alun-alun, sedangkan di sisi timur terdapat Museum Multatuli yang bersebelahan dengan Perpustakaan Saidjah Adinda. Sementara di sisi utara terdapat pusat kuliner.

Saya bergerak menuju Museum Multatuli. Di halaman museum, beberapa orang terlihat tengah membuat semacam gerbang yang terbuat dari batang-batang bambu yang disusun di sisi kiri dan kanan jalur masuk, di mana ujung-ujung bambu tersebut saling bertemu di bagian atas membentuk bangun segitiga.

Pada bangunan pendopo, belasan pemuda tengah beristirahat. Pendopo dengan atap berbentuk limas ini berada di depan bangunan atau rumah utama yang difungsikan sebagai museum. Sekumpulan alat musik dari bambu berada di pendopo tersebut, seperti calung, seruling dan angklung berukuran besar.  Selain itu, terdapat juga alat musik ritmis seperti tambur, stand kendang, hingga simbal.

Sebelum masuk ke bangunan museum, saya terlebih dahulu menuju halaman sisi kanan yang terdapat patung Multatuli serta Saidjah dan Adinda. Naungan pohon-pohon di sekeliling halaman ini mampu membuat teduh suasana siang yang cukup cerah itu. Patung Multatuli berukuran paling besar, dengan posisi duduk sambil membaca buku. Sebuah rak buku berada di sampingnya.

Museum Multatuli berdiri di bangunan yang dahulu dipergunakan sebagai kantor Kewedanaan Rangkasbitung. Museum seluas 1.842 meter persegi ini memiliki banyak barang bersejarah milik Eduard Douwes Dekker, pemilik nama asli Multatuli. Museum ini memiliki tujuh ruang pameran. Dan masing-masing ruangan mewakili periode di dalam sejarah kolonialisme di Indonesia.

Ruang pertama berada di bagian depan-tengah bangunan yang merangkap sebagai lobi. Di lobi ini terdapat sebuah hiasan wajah Multatuli terbuat dari mozaik kaca, serta kalimat kutipan: “Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia”.

Sebuah patung dada dari Eduard Douwes Dekker juga ada di ruangan ini. Selain itu juga ada prasasti peresmian museum tertanggal 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Hj. Iti Octavia Jayabaya.

Bergerak ke ruang kedua, pengunjung akan dibawa ke masa-masa awal kedatangan penjelajah Eropa ke Nusantara. Ada miniatur dan lukisan kapal-kapal Eropa abad ke-17 dan 18 di ruang ini, seperti kapal De Batavia, Halve Maan, Prins Willem, dan De Ruyter.

Hal unik lainnya pada ruang ini yaitu sebuah lemari kaca yang di dalamnya berisi sampel rempah-rempah yang membuat bangsa Eropa datang ke Nusantara, seperti pala (Myristica fragrans), lada (Piper nigrum), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan kayu manis (Cinnamomum zeylanicum).

Menuju ke ruang ketiga, pengunjung akan memeroleh informasi tentang periode tanam paksa dengan fokus pada budidaya kopi. Bibit kopi pertama kali dibawa oleh VOC dari Malabar, India ke Jawa pada akhir abad 17 dan mulai ditanam pada awal abad 18. Bibit kopi dibagi-bagikan kepada para bupati di sepanjang pantai utara Jawa, mulai Batavia hingga Cirebon. Namun budidaya kopi ini gagal, karena kopi tidak bisa tumbuh di dataran rendah.

Budidaya kopi selanjutnya dipindahkan ke pedalaman. Priangan menjadi daerah lumbung kopi pada masa itu. Bahkan, pada 1726 hampir separuh lebih pasokan kopi dunia berhasil dipenuhi oleh VOC, yang sebagian besar berasal dari budidaya kopi di Priangan.

Ruang keempat berisi informasi mengenai Multatuli dan pengaruhnya kepada para tokoh gerakan kemerdekaan. Beberapa testimoni tentang Multatuli dari tokoh-tokoh terkenal ditampilkan di ruangan ini, seperti testimoni dari R. A. Kartini, Presiden Soekarno, Ahmad Subardjo, Jose Rizal (tokoh besar Filipina), hingga sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pada ruang keempat ini juga sudah menggunakan multimedia. Pengunjung bisa menyaksikan video singkat mengenai Multatuli yang ditayangkan di layar monitor.

Ada dua surat penting yang turut dipamerkan di Museum Multatuli, yakni surat Eduard Douwes Dekker untuk Raja Willem III dan surat Sukarno kepada sahabatnya Samuel Koperberg. Surat Eduard Douwes memuat protes atas situasi di tanah jajahan yang pernah dialaminya. Douwes Dekker memohon agar Raja Willem III memberikan perhatian lebih kepada Hindia Belanda yang dikelola sembarangan dan banyak merugikan rakyat.

Ruang kelima menceritakan gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap penjajahan Belanda, misalnya perlawanan Haji Wakhia (1854), perlawanan Nyimas Gamparan (1829), hingga perlawanan petani Banten (1888).

Selain itu, gerakan yang lebih modern juga dikisahkan di ruang kelima ini. Misalnya berdirinya Sarekat Islam, Budi Utomo, atau Indische Partij. Dilanjutkan dengan perlawanan komunis di Jawa dan Sumatera terhadap Belanda (1926), kedatangan Jepang (1942), hingga Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Pada ruang keenam, pengunjung akan mendapatkan informasi peristiwa-peristiwa bersejarah di Lebak. Misalnya, pada tahun 1828 saat terbentuknya Kabupaten Lebak. Berdasarkan SK Komisaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hindia Belanda, saat itu wilayah Karesidenan Banten dibagi menjadi 3 kabupaten, yaitu Serang, caringin, dan Lebak.

Benda paling mencolok di ruangan ini adalah sebuah prasasti bersejarah yang ditempatkan dalam sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Prasasti Cidanghiyang ini berasal dari era Kerajaan Tarumanegara (abad 4-5) yang ditemukan di Desa Lebak, Munjul, Kabupaten Pandeglang. Pada  prasasti tersebut terdapat kalmat yang berarti: “Inilah tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.” Prasasti ini membuktikan pengaruh kekuasaan Tarumanegara sampai ke daerah Banten.

Masuk ke ruang ketujuh, ditampilkan foto-foto mereka yang pernah lahir, menetap serta terinspirasi dari Lebak. Misalnya Rendra yang pernah menulis kumpulan puisi “Orang-orang dari Rangkasbitung”, atau Maria Ullfah yang lahir di Serang dan merupakan sarjana hukum perempuan pertama  dari Indonesia yang lulus dari Universitas Leiden, Belanda yang pernah menjabat sebagai menteri sosial di era Kabinet Syahrir (1946-1947).

Sebuah rak buku juga terdapat di ruangan ini, memajang “Max Havelaar” karangan Multatuli yang diterbitkan dari berbagai masa. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860 dalam bahasa Belanda dengan judul asli “Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij” (Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda). Karya besar ini diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia, di mana salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati dan sering dipentaskan di berbagai panggung.

Selesai berkeliling di Museum Multatuli, saya keluar melalui pintu belakang dan berjalan menuju ke bagian pendopo. Para pemuda yang sebelumnya beristirahat, rupanya mulai berlatih kembali memainkan calung, seruling, angklung, tambur, kendang dan sebagainya. Saya cukup sangat menikmati permainan mereka, yang konon dipersiapkan untuk sebuah festival yang akan berlangsung di Museum Multatuli pada minggu kedua September ini.

7 thoughts on “Jelajah Museum Multatuli di Rangkasbitung”

  1. Wah salut banyak masyarakat yang mau datang ke museum. Jas merah, jangan sampai melupakan sejarah. Saya baru tahu kalau multatuli itu nama lain dari Douwes Dekker.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *