Sehat

Kenapa Kelelawar Tetap Hidup Meski Menjadi Inang Virus Mematikan?

Perhatian masyarakat kini tengah tertuju pada wabah virus corona. Dalam beberapa hari terakhir, media massa dan media sosial tak luput membicarakan wabah ini.

Virus dengan nama novel coronavirus (2019-nCoV) ini dideteksi pertama kali di Kota Wuhan, Tiongkok. Korban meninggal dilaporkan sejumlah 80 orang. Virus kemudian menyebar dengan cepat ke negara-negara lain di Asia, Eropa, dan Amerika.

Kelelawar menjadi inang yang menularkan virus corona ini. Mamalia terbang ini telah menjadi inang dari lebih 60 virus yang menginfeksi manusia, seperti rabies, SARS, MERS, hingga Ebola. Seperti halnya tikus yang juga menjadi inang penyakit, pola hidup bekoloni menyebabkan virus mudah berpindah dari satu kelelawar ke kelelawar lainnya.

Kemampuan kelelawar untuk terbang ‘memperparah’ keadaan, yang memungkinkan kelelawar bisa memindahkan virus melalui air liur dan kotoran ke binatang lain seperti kuda, babi, hingga kucing peliharaan. Virus Hendra di Australia, ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui kuda. Virus Nipah yang menjangkiti Malaysia, menular dari kelelawar ke babi dan diteruskan ke manusia.

Kelelawar hidup di tempat-tempat gelap, misalnya gua dan hutan yang sebenarnya jauh dari manusia. Namun karena populasi manusia yang terus bertambah sehingga pemukiman terus berkembang, habitat kelelawar kemudian menjadi dekat atau bersinggungan dengan pemukiman manusia.

Ada satu pertanyaan yang mungkin timbul di pikiran kita. Kelelawar menjadi inang dari berbagai virus yang mematikan manusia, bagaimana bisa kelelawar tidak mati karena virus tersebut?

Ada banyak teori atau penjelasan yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Saya menemukan video di kanal Youtube MinuteEarth, yang begitu gamblang menjelaskan jawaban terhadap  pertanyaan di atas. Animasi yang ditampilkan membuat kita bisa memahaminya dengan baik.

Lagi-lagi, kemampuan terbang kelelawar membuatnya bisa bertahan dari serangan virus. Terbang memerlukan energy yang besar. Ketika energy yang besar digunakan, maka ‘waste’ yang besar juga dihasilkan. Untuk mencegah waste yang reaktif merusak DNA, kelelawar telah berovolusi pada mekanisme pertahanannya yang sekaligus membantu mencegah kelelawar menyerah terhadap penyakit.

Selain itu, kelelawar ketika terbang akan memiliki suhu internal hingga mencapai 40 derajat Celcius. Kondisi tersebut terlalu panas bagi banyak virus. Ibarat pesawat terbang, jika suhu pesawat 40 derajat Celcius maka penumpang menjadi kepanasan.

Suhu tubuh kelelawar yang panas tersebut akan membunuh banyak virus di dalam tubuh kelelawar, sehingga menyisakan hanya virus yang telah berevolusi mekanisme toleransinya. Sialnya, hal ini berarti juga virus tersebut bisa bertoleransi pada suhu demam manusia.

Suhu ideal bagi virus untuk bertahan hidup yaitu pada suhu ruang. Ketika suhu tubuh kita berada bawah 37 derajat celcius maka virus dapat berkembang lebih baik dan sistem imun kita terganggu. Makanya, orang yang kehujanan atau di bawah hembusan AC esok harinya akan lebih mudah terserang pilek. Cara efektif untuk menghindari pilek yaitu dengan menjaga suhu tubuh tetap hangat. Bisa dengan meminum minuman hangat, atau mengenakan pakaian pelindung ekstra.

Dengan begitu banyaknya virus yang dibawa kelelawar, tidak berarti kita harus memusnahkan kelelawar. Hal tersebut akan membawa kerugian karena akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem. Kelelawar memiliki peran penting sebagai pollinator (penyerbuk pada tanaman) dan juga mengonsumsi nyamuk. You win some, you lose some.

11 thoughts on “Kenapa Kelelawar Tetap Hidup Meski Menjadi Inang Virus Mematikan?”

  1. Penjelasan di videonya gamblang banget dan gampang dimengerti ya. Cuma jadi kebayang horornya, mengingat ini kaya wabah demam di abad 19 yang juga banyak menewaskan orang. Teringat beberapa penulis klasik meninggal karena endemik ini

  2. Menjaga daya tahan tubuh dengan gaya hidup sehat, yaitu menjaga pola makan dan rajin berolahraga salah satu metode untuk menjaga ketahanan tubuh kitta agar tidak mudah terserang penyakit. Nice info untuk artikelnya.

  3. Apa kita mesti terbang dan panggil batman?
    Hehehe….

    Artikelnya menarik. Kemaren sempet liat video juga soal virus Corona ini, dari GuruBesar UI. Dia bilang cara kita menjaga agar ga keserang virus ini adalah menjaga daya tahan tubuh dan memasak semua makanan karena virus akan mati dengan suhu 70 derajat. Tyt sejalan dengan soal suhu tubuh kelelawar.

  4. Makasih mas infonya. Saya gak paham buat dengerin youtubenya. Tapi dr penjelasan artikelnya. Menjawab rasa penasaran kenapa kelelawar mampu bertahan dr berbagai virus. Sepertinya saya harus belajar terbang juga. 😅

  5. Penjelasannya sederhana dan mudah dipahami. Saya pun sangat setuju untuk tidak membunuh kelelawar. Memang benar itu kaitannya dengan rantai makanan. Malah jadi nambah masalah baru nantinya kalau sampai dimusnahkan.

    Sebagai manusia, mulai bergaya hidup sehat, deh. Makanannya diperhatikan dan juga harus berolahraga

  6. Setiap makhluk hidup diciptakan tentu tidak dengan maksud, ada kelebihan dan ada kekurangan, seperti kehidupan ada suka dan duka.. nah tugas manusia yang dibekali dengan otak dan budi pekerti untuk belajar bagaimana virus mematikan bisa ada dan belajar bagaimana memperkecil kemungkinan virus bisa menyebar, kalo bisa menghilangkan virusnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *