Hiburan

Konyolnya “Bike Man”, Film Komedi dari Thailand

Bersama komunitas Komik Kompasiana, pada Jumat (6/9) yang lalu saya hadir dalam screening film Bike Man di CGV Grand Indonesia. Film bergenre komedi asal Thailand ini sebenarnya dirilis tahun 2018 lalu, namun baru tayang di bioskop Indonesia pada September 2019.

Tidak banyak informasi yang bisa saya peroleh tentang film ini sebelum menontonnya langsung. Beberapa situs review film di dunia maya hanya menulisnya satu-dua paragraf belaka. Berkisah tentang seorang pemuda yang berprofesi sebagai pengemudi ojek yang berusaha menutupi pekerjaannya tersebut dengan berpura-pura menjadi karyawan sebuah bank.

Film dibuka dengan adegan seorang pemuda yang tengah mengendarai sepeda motor dengan dua penumpang di belakangnya. Penumpang tersebut adalah ibu dan nenek dari pemuda tersebut. Sang nenek posisinya ada di tengah-tengah.

Situasi pada adegan tersebut menggambarkan bahwa mereka tengah terburu-buru. Dengan wajah tegang, pemuda tersebut memacu kendaraannya melewati tikungan, menyalip kendaraan-kendaraan lain, hingga akhirnya ketegangan memuncak saat sepeda motor hendak melewati perlintasan kereta api di mana sebuah kereta api terlihat hendak mendekat. Adegan yang sebenarnya adalah bagian klimaks dari film Bike Man ini kemudian terhenti, dan film dilanjutkan dengan cerita sebelum kejadian tersebut berlangsung.

Saya langsung teringat dengan film Premium Rush (2012) yang juga menampilkan plot serupa. Pada Premium Rush, film dibuka dengan seorang pengendara sepeda yang terlihat terburu-buru di tengah keramaian kota. Ia berkelak-kelok di tengah lalu-lalang mobi. Hingga akhirnya di sebuah perempatan, ia tak dapat menghindari dari sebuah mobil. Adegan klimaks tersebut kemudian berhenti, dan cerita dilanjutkan dengan bagian sebelum adegan tabrakan tersebut terjadi.

Balik lagi ke Bike Man, cerita film ini sederhana saja. Tokoh utama drama komedi ini adalah Sakkarin (diperankan oleh Pachara Chirathivat), seorang pemuda dari Ayutthaya, Thailand yang tinggal bersama ibu dan neneknya di sebuah rumah di tepian sungai.

Menumpang perahu dan dilanjutkan kereta api, setiap pagi Sakkarin berangkat menuju Bangkok untuk bekerja. Penampilannya terlihat rapi, dengan kemeja berwarna putih beremblem nama sebuah bank. Namun begitu sampai di Bangkok, ia segera mengganti pakaiannya.

Ternyata ia bukanlah karyawan bank, melainkan pengemudi ojek. Kepura-puraannya menjadi karyawan bank tersebut semata-mata untuk menyenangkan sang ibunda yang memang menginginkannya berprofesi sebagai banker, sebagaimana profesi almarhum sang ayah.

Sakkarin kemudian bertemu dengan kawan sekolahnya dulu bernama Jai (diperankan oleh Sanathachat Thanapatpisal). Jai bekerja di bank, dan memiliki atasan sekaligus kekasih bernama A (diperankan oleh Pramote Pathan). Di sisi lain, Sakkarin menyukai Jai meskipun Jai sudah punya kekasih, A. Sementara itu, A ternyata mendua hati dan ternyata malah menyukai wanita lain yang juga bekerja di bank tersebut.

Kekonyolan-kekonyolan pun terjadi. Misalnya ketika ibunda Sakkarin mengundang teman-teman Sakkarin datang ke rumah di Ayutthaya. Dengan cerdik, teman-teman Sakkarin sesama pengemudi ojek datang dengan mengenakan seragam bank.

Pada akhirnya kebohongan Sakkarin terungkap. Ibundanya tahu apa profesi Sakarin sebenarnya. Bahkan sang nenek jatuh pingsan. Adegan Sakkarin, nenek, dan ibunya yang berada di atas sepeda motor seperti di awal film ternyata mengambarkan ketika mereka terburu-buru menuju rumah sakit.

Secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Penonton akan dibuat tertawa sepanjang film dengan adegan, dialog, dan aksen Thailand yang khas dan menurut saya cukup lucu. Pesan moral dari film ini adalah kejujuran merupakan hal penting, sepahit apapun kita menerimanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *