Serba-serbi

Jejak Aroma Lada di Banten dalam Sejarah Jalur Rempah

banten dalam sejarah jalur rempah

Minggu siang itu saya berada di kawasan alun-alun Rangkasbitung, Lebak, Banten. Sebuah bangunan yang berada di sisi timur alun-alun kemudian menjadi tempat yang saya tuju. Museum Multatuli, demikian nama tempat tersebut, yang banyak menyimpan sejarah Banten.

Sebelum masuk ke bangunan utama, saya terlebih dahulu menuju ke halaman sisi kanan. Pohon-pohon rindang menaungi  3 buah patung  yang ada di halaman tersebut, yakni patung Multatuli serta Saidjah dan Adinda. Patung Multatuli berukuran paling besar, dengan posisi duduk sambil membaca buku. Di sampingnya, ada sebuah rak buku.

Museum Multatuli menyimpan banyak barang bersejarah milik Eduard Douwes Dekker, pemilik nama asli Multatuli. Museum ini memiliki tujuh ruang pameran. Dan masing-masing ruangan mewakili periode di dalam sejarah kolonialisme di Indonesia.

Pada salah satu ruang, ada sebuah rak kaca yang menyimpan sejumlah sampel rempah-rempah yang dahulu menjadi komoditas perdagangan, yakni lada, pala, cengkeh, dan kayu manis. Produk tersebut dihasilkan oleh berbagai daerah di kepulauan Indonesia. Banten, Sumatera bagian selatan, dan Aceh menghasilkan lada. Pulau Banda menghasilkan pala. Sementara itu cengkeh dihasilkan terutama oleh Ambon dan Ternate, serta kayu manis dihasilkan oleh kepulauan Nusa Tenggara.

Lada hitam (piper nigrum) merupakan salah satu jenis rempah yang paling dicari karena kemampuannya untuk disimpan selama bertahun-tahun tanpa kehilangan rasa dan aroma. Lada hitam dengan karakteristik rasa pedas dan aroma yang khas dianggap sebagai rempah yang utama dibandingkan rempah-rempah lainnya. Lada hitam adalah rempah yang selalu tersedia di dapur di hampir seluruh rumah tangga.

patung multatuli di museum multatuli

Baca juga: Jelajah Museum Multatuli di Rangkasbitung

Lada dalam Toponimi Banten

Penamaan sebuah tempat bekaitan dengan sejarahnya di masa lalu. Toponimi atau penamaan nama tempat tersebut bisa berdasarkan komunitas etnis, kegiatan perekonomian, dan lainnya. Di kawasan Banten Lama, toponimi turut memberikan andil dalam jalur rempah.

Ada tempat berlatar belakang komunitas etnis, seperti Pecinan, Pakojan, Kebalen, Karoya, dan Kampung Bugis. Kampung Pecinan, yang berkaitan dengan keberadaan etnis Tionghoa, berada di sebelah Barat Masjid Agung Banten. Pedagang Cina di Kesultanan Banten merupakan golongan mayoritas di antara pedagang-pedagang asing lainnya. Mereka sangat berperan dalam menjembatani para petani lada di Banten dengan para pembeli dari Eropa.

Kampung Pakojan berkaitan dengan etnis Timur Tengah. Jejak peninggalan di Kampung Pekojan Banten berupa bekas masjid Koja. Lokasinya berada di selatan jalan yang menghubungkan Karangantu dan benteng Speelwijk.

Kampung Kebalen, yang berkaitan dengan etnis dari Bali, berada di sebelah selatan Keraton Surosowan. Kampung Karoya (bekaitan dengan etnis dari India) terletak di sebelah tenggara Keraton Surosowan. Sedangkan Kampung Bugis letaknya di dekat Pelabuhan Karangantu dengan ciri khas rumah panggung dari kayu yang masih bisa dilihat hingga saat ini.

Toponimi lainnya terkait kegiatan perekonomian di Banten pada masa lampau. Misalnya, Pabean terletak di sebelah barat laut Keraton Surosowan. Tempat ini dahulu terkait dengan aktivitas penarikan pajak di pelabuhan.

Selanjutnya, daerah Pamarican yang berkaitan dengan lada. Pamarican yang berada di dekat Benteng Speelwijk dulu merupakan gudang-gudang merica atau lada. Hal ini menjadi bukti bahwa Banten memang menjadi pusat lada sejak lama.

Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten, Banten memang sudah berkembang sebagai daerah makmur dengan penghasilan utama lada. Awalnya, pusat pemerintahan Banten berada di pedalaman bernama Banten Girang yang berjarak sekitar 56 kilometer dari Banten Lama.

Pada akhir 1526, pasukan Demak merebut Pelabuhan Banten dan ibu kota Banten Girang. Banten Girang pun menjadi negara bagian dari Demak. Dari sinilah awal mula berkembangnya kerajaan Islam. Sebelumnya, Banten Girang merupakan kerajaan Hindu.

Baca juga: Semalam di Baduy

Banten dalam Sejarah Jalur Rempah

Ada sebuah catatan pendek di Museum Multatuli ini yang berkaitan dengan lada. Mengutip dari buku berjudul Spices: The Story of Indonesia’s Spice Trade karangan Joanna Hall Brierly. Lada (Piper nigrum) sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-6 melalui Pulau Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, lada mendapat sebutan nama baru merica yang diambil dari bahasa Sansekerta.

Lada berasal dari Malabar, India. India menguasai perdagangan lada dunia selama berabad-abad, sampai abad ke-15 dan ke-16. Setelah dikuasai Inggris, India kehilangan pamor. Sementara Nusantara tumbuh sebagai penghasil baru komoditas lada.

Lada pertama kali dibawa oleh pedagang Arab dan Persia, kemudian ditanam di sekitar Banten. Dari Banten, tumbuhan lada kemudian dikembangkan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun karena hasilnya kurang bagus, lada kemudian dibawa ke Sumatera. Di Sumatera bermunculan varietas-varietas lada yang menunjukkan nama-nama tempat, seperti Aceh, Kerinci, dan Jambi.

Lada (merica) liar yang belum diolah dari Sumatera dan Jawa telah sejak lama dijual ke pasar internasional sebelum kedatangan bangsa Eropa Abad ke-16. Banten sebagai kota pelabuhan didatangi oleh pedagang dari Timur Tengah, India, Melayu, dan Cina. Mereka datang ke Banten untuk membeli lada.

Produksi lada Banten didukung oleh Lampung dan Sumatera Selatan. Daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten saat itu. Pada abad ke-16, masyarakat Lampung bahkan diiwajibkan untuk menanam dan menjual hasil panen lada ke Kesultanan Banten.

Di awal abad ke-16 Banten terlibat konflik dengan VOC dalam memperebutkan kota Jayakarta.  VOC berhasil menguasai Jayakarta, kemudian menggantinya dengan nama Batavia. Sementara itu, pedagang Asia memainkan peranan penting di kota pelabuhan Banten.

Posisi Banten sebagai produsen dan pemegang monopoli perdagangan lada mulai mengalami kemunduran pada pertengahan abad ke-17. Penyebabnya yaitu pertentangan politik di kalangan keluarga sultan yang memperebutkan tahta.

Sekitar tahun 1680 terjadi perselisihan dalam Kesultanan Banten. Anak dari Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Sultan Haji, berusaha merebut kekuasaan dari tangan sang ayah. Sultan Haji sebagai putra mahkota Kesultanan Banten meminta bantuan kepada VOC. Jika putra mahkota berhasil menduduki tahta Kesultanan, VOC akan mendapat imbalan berupa hak monopoli perdagangan lada di Banten.

VOC memberi dukungan dan bantuan persenjataan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara menjadi tak terhindarkan. Akibat sengketa tersebut, Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya. Kemudian pada 1683 Sultan Ageng ditangkap VOC dan ditahan di Batavia. VOC pun mendapatkan hak monopoli perdagangan yang ditandai dengan diusirnya para pedagang non Belanda yang singgah di pelabuhan Banten.

Naik turunnya harga lada menyertai sejarah redup dan berkembangnya lada di Banten. Kenaikan harga yang menggiurkan membuat penanaman lada tak terkendali, hingga membuat padi sebagai bahan makanan pokok dikesampingkan. Akibatnya terjadi kelaparan, dan harga lada jatuh. Tumbuhan lada ditebang dan kebun lada diubah menjadi sawah.

Ketika harganya naik, petani Banten menanam lada lagi. Namun, Banten terlanjur ”lenyap” dari peta lada nasional. Banten yang pernah menjadii titik awal penyebaran dan pusat perdagangan lada, tidak lagi masuk dalam 10 besar provinsi penghasil lada.

Indonesia sendiri pernah menjadi produsen lada terbesar di dunia. Produksi lada Indonesia mencukupi 80 persen kebutuhan lada dunia. Sampai akhirnya Vietnam datang belajar ke Indonesia tahun 1986-1987.

Keseriusan Vietnam dalam budidaya lada akhirnya mampu menggantikan posisi Indonesia sebagai penghasil lada terbesar dunia. Saat ini Vietnam mampu memproduksi 163.000 ton atau sekitar 34% dari produksi dunia. Indonesia merupakan produsen terbesar kedua dengan 89.000 ton sedangkan India menghasilkan 53.000 ton.

Share this:

12 thoughts on “Jejak Aroma Lada di Banten dalam Sejarah Jalur Rempah”

  1. Aku tinggal di Prov. Banten tapi baru tau kalau ini adalah jalur rempah. Kalau diulik ke belakang, ada banyak hal menarik yang bisa ditemui, yaa. Makasih udah sharing, yaa.

  2. Aku kemarin Juga jalan2 k Banten… bnyak cerita sejarahnya. Dan Banten Salah satu jalur yang dilewati Kapal besar dulu untuk mengangkut lada, pala, cengkeh, dan kayu manis. dari berbagai daerah di kepulauan Indonesia.

  3. Aahhh sayang banget Indonesia ga lagi jadi penghasil terbesar 🙁 . Malah Vietnam yg tadinya belajar di Indonesia, jadi bisa menyalip yaaa.

    Jadi tahu nih mas, ttg sejarah lada di Banten. Selama ini tahunya cuma garis besar kalo Indonesia kaya rempah, dijajah juga karena itu. Tapi detilnya, blas lupaa 😀

  4. Aku baru tersadar kalau ada nama Bante juga di dalam jalur rempah. Nggak terpikirkan sebab ketika mendengar kata rempah, hal pertama yang terpikir adalah Bnada Neira dan Maluku. Jadi penasaran akan rupa dari Museum Multatuli di Rangkasbitung.

    Mampir ke mari, banyak banget pengetahuan baru yang kudapat.

  5. sebagai orang tangerang aku baru tahu loh kalo banten adalah salah satu jalur rempah, dan pernah menjadi pengahasil lada terbesar di dunia yah mba. keren banget.

    emang agak jauh sih rangkasbitung mungkin itu penyebab mungkin hanya sedikit masyarakat banten yang tahun dengan museum multatuli di rangkasbitung ini.

    terima kasih sudah mampir kesana mas dan berbagi ceritanya. seneng banget bacanya.

  6. Selama ini saya taunya hanya lada putih dan hitam. Sampai kemudian saya beli produk impor, dalam 1 botol itu terdiri dari campuran beberapa lada. Dari situ saya tau kalau lada ada warna lain juga.

    Saya jadi penasaran kenapa lada lain gak begitu populer ya di Indonesia? Malah kalau baca di paragraf terakhir di postingan ini, Vietnam menggeser Indonesia di posisi produsen lada. Padahal telor ceplok aja kalau dikasih lada campuran gini rasanya jadi semakin enak.

  7. jujur aku baru tau klo banten pun punya sejarah penghasil merica/lada sampe akhirnya ada wilayah namanya pamarican yaa mas, kan biasanya yang terkenal tuh banda neira buat penghasil rempah.

  8. Wah Museum Multatuli. Menarik nih pastinya koleksi museumnya. Aku membaca tulisan ini sambil membayangkan situasi perdagangan lada pada masa silam. Salam kak Daniel.

  9. Wah, aku baru tahu Banten termasuk daerah penghasil lada. Kupikir pusatnya di luar Jawa. Ternyata memang kemudian terjadi perubahan kondisi sehingga status itu nggak lagi disandang oleh Banten, ya. Tapi sejarah sudah merekamnya sampai ada nama daerah Pamarican yang jelas berkaitan dengan merica. Kira-kira memungkinkan nggak, ya, untuk dibangkitkan kembali di sana?

  10. Banyak banget ya sejarah Banten. Ngga cuma ada kerajaan aja, tapi sejarah lain yg patut dipelajari juga. Nah, ngomongin soal rempah, Indonesia kan kaya banget ya sama hasil bumi yg satu ini. Malah jadi rebutan. Tapi rasanya kok masih kurang famous aja di kalangan rakyat Indonesia sendiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *