Destinasi Jawa

Magelang, Novel Mangun, dan Borobudur Marathon

Magelang. Daerah tingkat II yang berada di provinsi Jawa Tengah ini bukanlah kota besar seperti Semarang atau Yogyakarta. Saya biasanya melewatinya ketika dalam perjalanan menuju Yogyakarta, atau ketika mengunjungi candi Borobudur. Selain itu, tidak banyak yang saya ketahui tentang Magelang.

Beberapa bulan lalu saya membeli sebuah novel berjudul Mangun. Novel ini berkisah tentang kehidupan Y. B. Mangunwijaya (Romo Mangun) sejak kecil, menempuh pendidikan, serta perjuangannya membantu warga di Kali Code, Yogyakarta serta Kedung Ombo.

Selain mengisahkan tentang Romo Mangun, ada bagian dari novel ini yang menceritakan tentang Magelang. Romo Mangun sendiri semasa kecil hidup bersama orang tua dan adik-adiknya di kota ini. Ada deskripsi tentang Magelang di tahun 1940-an yang bagi saya cukup menarik ditulis di novel Mangun ini.

Baca: Mangun: Sebuah Novel Perjalanan Cinta Kasih Sang Romo

“Kotanya tidak besar tapi apik, bersih, dan rejo yang ditata sedemikian rupa oleh Kolonial Belanda hingga terkesan alami dan mumpuni sebagai tempat pemerintahan daerah, perdagangan, dan hunian tinggal. Berstatus gemeente yang oleh orang pribumi dilafalkan haminte, berarti kota praja. Letaknya di jalur transportasi utama daerah-daerah yang meruah hasil pertaniannya. Di pusat kota, banyak terdapat bangunan besar-kecil bergaya kolonial yang menawan dan tinggi nilai estetikanya. Bentuk dan warnanya menyenangkan mata. Pohon-pohon asam yang rindang di sepanjang jalan seperti ratusan orang kasmaran yang sedang menumbuhkan janji setia. Mereka mengapit setiap baris jalanan yang memanjang dan meliuk dengan sangat tertib.”

Bagian menarik lainnya adalah tentang sebuah selokan yang benama Selokan Manggis. Selokan ini menjadi salah satu tempat bermain bagi Mangun dan teman-teman semasa kecilnya.

“… Bosan menanti layangan nyasar, mereka berenang senang di jalur kanal di atas tanggul yang membelah kota seperti dua belah labu matang, tingginya kira-kira delapan meter. Atau terjun bebas di Selokan Manggis sambil mengapung dengan debog, dan terus mengikuti aliran airnya yang panjang sekali hingga ke tepian kota. Airnya berwarna bening kecoklatan. Saban pagi dan petang selokan itu juga ramai didatangi para ibu untuk mencuci pakaian. Ah, sungguh nikmat tiada tara. Endhas pethak ketiban empyak, bagai kepala botak dikipasi… “

Beberapa foto hitam putih juga ada di novel tersebut. Seperti keluarga dan rumah masa kecil Romo Mangun, dan foto Gereja St. Ignatius Magelang, gereja masa kecil Mangun dan keluarganya, yang masih berdiri hingga sekarang.

Saya sendiri penasaran dengan tempat-tempat yang dideskripsikan di atas, dan ingin melihatnya secara langsung kondisinya saat ini. Bagaimana perubahan yang terjadi, atau malah sudah tidak ada lagi. Entahah, saya belum tahu.

Kebetulan setelah membaca nove Mangun, ada even Borobudur Marathon 2019 (bulan November lalu). Waktu itu saya berniat mengunjungi tempat-tempat yang dideskripskan pada novel setelah saya selesai mengikuti lari. Sesuai namanya, Borobudur Marathon (Bormar) mengambil lokasi di candi Borobudur. Rute larinya di kompleks candi dan daerah sekitarnya.

Saya pertama kali mengikuti Bormar pada tahun 2016. Setelah absen di tahun 2017 dan 2018, saya mendaftar lagi di tahun  2019. Baik di tahun 2016 dan 2019, saya ikut di nomor Full Marathon (42 kilometer). Sebagai pelari rekreasional atau pelari hore, tujuan mengikuti Bormar untuk bersenang-senang saja.  

Jalan aspal yang melewati pedesaan khas Jawa dengan kontur yang naik turun dan pohon-pohon rindang, cukup menyegarkan mata. Sambutan penduduk setempat juga sangat menyenangkan. Pertunjukan seni di beberapa titik di tepi jalan sangat menghibur dan mampu memberikan semangat bagi para pelari. Jika di tahun 2016 saya finish hampir 8 jam (melebihi batas waktu 7 jam yang ditetapkan), maka pada tahun 2019 saya malah berhenti di KM 31 karena sudah tidak kuat lagi untuk berlari.

Usai mengikuti Bormar 2019, saya menginap 1 hari lagi di Magelang. Seperti rencana awal, saya berniat berkunjung ke tempat-tempat seperti yang ditulis pada novel Mangun. Namun, di hari terakhir itu saya enggan beranjak dari kamar hotel karena kondisi tubuh yang masih kelelahan. Tertundalah niat saya untuk melihat masih berdirikah bangunan besar-kecil bergaya kolonial yang menawan dengan bentuk dan warnanya menyenangkan mata, atau bagaimana aliran air di Selokan Manggis itu.

6 thoughts on “Magelang, Novel Mangun, dan Borobudur Marathon”

  1. Review untuk bagian Novel Mangun nya begitu mengesankan mas. Dan keren nih ikutan Bomar saat event kemarin, jujur aja aku mau running aja itu masih belum sanggup haha. Semoga ada waktu ya bua explore seperti yg d ceritakan d novel

  2. Menarik banget ide untuk explore suatu kota berdasarkan novel kisah nyata. Mungkin jangan dibarengin dengan even Bomar, Mas. Selain lebih fokus, tubuh juga gak keletihan karena marathon. Semoga kesampaian, ya. Saya tunggu ceritanya 🙂

  3. Aduh jadi kangen kampung halaman loh kak, suasana magelang emang paling the best. Liat persawahan sungai dan yang paling penting udaranya masih asri bgt. Gmna Bomarnya kak berasa bikin nahih ya kak

  4. Aku suka sekali deh lihat foto-fotonya Borobudur Marathon ini
    Jalur lintasannya itu lho, menyejukkan mata
    Viewnya cakeeeeep. Kalau aku ikutan, bisa-bisa finish terakhir karena sibuk pepotoan hahaha

  5. Menarik sekali ide menelusuri kota dari sebuah novel yaa..
    sayang sekali mas nya pegel-pegel abis ikutan BoMar..

    Mungkin harus meluangkan waktu sendiri kali ya untuk bisa menelusuri kota Magelang. Semoga bisa secepatnya dilakukan karena ku penasaran euy sama penelusurannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *