Pustaka

Mangun: Sebuah Novel Perjalanan Cinta Kasih Sang Romo

Novel Mangun karya Sergius Sutanto

Novel Mangun ditulis oleh Sergius Sutanto, dan diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada tahun 2016. Buku Mangun ini novelisasi kisah hidup Y. B. Mangunwijaya sejak kecil, menempuh pendidikan, serta perjuangannya membantu warga di Kali Code, Yogyakarta serta Kedung Ombo.

Akhir September 2019 lalu saya berada di Juwana beberapa hari karena sebuah keperluan. Momen ini saya pergunakan pula untuk menyempatkan diri pulang ke rumah orang tua di Pati yang jaraknya cukup dekat dengan Juwana. Saat pulang ke Pati siang hari itu, saya menonton film lawas G30S/PKI yang ditayangkan di salah satu stasiun tv, bersama bapak dan keponakan.

Saya sempat berbincang dengan Bapak, lebih tepatnya bertanya tentang peristiwa kelam yang dialami warga desa kami di masa lampau, terkait dengan peristiwa tahun 1965. Beberapa kisah pahit mungkin sudah banyak kita tahu, misalnya warga yang ditangkap aparat hanya karena pernah ikut kegiatan yang diduga terkait dengan organisasi tertentu. Siang itu Bapak cukup lancar menceritakan apa yang pernah ia ketahui di masa lampau, dan tentu akan berbeda jika Bapak menceritakan kisah tersebut bukan pada masa sekarang.

Obrolan kemudian belanjut ke peristiwa Kedung Ombo, yang lokasinya tidak jauh dari Pati. Peristiwa Kedung Ombo sendiri terjadi saat saya masih SD, sekitar akhir tahun 80-an. Di masa itu, informasi yang sampai ke saya adalah versi pemerintah, yang diberitakan di TVRI sebagai satu-satunya stasiun tv kala itu.

Ada kisah pahit warga setempat tidak terekspos. Warga yang tanahnya akan dipergunakan sebagai waduk, dipaksa melepaskannya dengan harga tidak manusiawi dan mereka kemudian ditransmigrasikan ke Bengkulu. Mereka yang menolak akan mendapat intimidasi, atau pada KTP-nya diberikan tanda khusus. Kisah Kedung Ombo inilah yang menjadi bagian dari novel Mangun yang akan saya ulas di bagian selanjutnya.

Novel Mangun ditulis oleh Sergius Sutanto, dan diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada tahun 2016. Buku setebal xxx + 412 halaman ini adalah novelisasi kisah hidup Y. B. Mangunwijaya sejak kecil, menempuh pendidikan, serta perjuangannya membantu warga di Kali Code, Yogyakarta serta Kedung Ombo.

Pada bagian prolog novel, pembaca disuguhkan adegan menegangkan di tahun 1989 saat Mangun berhadap-hadapan dengan tentara yang memaksa Mangun meninggalkan Sragen malam itu. Sang Romo bahkan diintimidasi akan dibedil kepalanya.

Tolong dengar ini. Dengar dan sampaikan kepada komandanmu … Mangunwijaya tidak akan tunduk di bawah kata-kata atau perintah Danramil, Dandim, atau Gubernur sekalipun. Saya hanya tunduk pada semangat kesetiakawanan sosial dan Pancasila!

Lepas dari ketegangan pada bagian prolog, pembaca kemudian diajak mengikuti masa kecil Mangunwijaya di Magelang di tahun 1930-1940’an, beliau sendiri lahir tahun 1929 di Ambarawa. Mangun bersekolah di HIS Fransiscus Xaverius di Muntilan (1937-1943). Selain gambaran Magelang masa lalu sebagai sebuah firdaus dengan sungai dan bukit-bukitnya serta kotanya yang tertata rapi, pembaca juga disuguhkan kisah masa lalu Mangun, orang tua, dan adik-adiknya di masa peralihan kependudukan Belanda menuju kependudukan Jepang.

Mangun kemudian melanjutkan pendidikan di STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947). Di kota Yogyakarta ini ia bergaul dengan teman-teman dari banyak daerah, serta melihat kekejaman Jepang.  Pada masa kemerdekaan tahun 1945, Mangun mendaftarkan diri dan diterima menjadi TKR Batalyon X divisi III dan bertugas di asrama militer di Vrederburg, lalu di asrama militer di Kotabaru, Yogyakarta.

Mangun sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Setahun kemudian, dia kembali melanjutkan sekolahnya di STM Jetis dan bergabung menjadi prajurit Tentara Pelajar. Saat menjadi tentara, Mangun melihat sisi buruk perlakuan tentara Indonesia kepada rakyatnya sendiri.

Mangun kemudian berpindah kota untuk melanjutkan pendidikan di SMU-B Santo Albertus di Malang. Karena panggilan untuk melayani di gereja, Mangun kemudian melanjutkan studi di Seminari Menengah Kotabaru di Yogyakarta, Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan Yogyakarta, dan Seminari Tinggi. Sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Pada tahun 1959 Mangun ditahbiskan menjadi Imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.

Mangun kemudian mempelajari arsitektur di Teknik Arsitektur  ITB. Beliau juga melanjutkan studi arsitekturnya di Aanhen, Jerman. Lulus tahun 1966, ia kembali ke Indonesia.

Cinta kasih Sang Romo dalam membela rakyat tertindas dilakukan Mangun ketika ia membantu warga Kali Code Yogyakarta dari penggusuran. Ia menyumbang pemikirannya untuk membangun hunian-hunian dengan eksterior yang akrab dengan kondisi sosial-budaya warga setempat, namun tetap indah dipandang. Mangun juga turut membangun mentalitas warga Kali Code untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Bagian klimaks dari novel Mangun ini yaitu ketika Romo Mangun membela para petani di Kedung Ombo yang digusur karena wilayahnya akan dijadikan waduk. Beliau sedang sakit dan dokter melarangnya beraktivitas karena penyakit jantung. Tapi relawan berkunjung dan minta Romo Mangun masuk Kedung Ombo.

Tentara berjaga-jaga di sekitar Kedung Ombo dan melarang bantuan dari luar. Romo Mangun akhirnya berhasil masuk dan menemui warga Kedung Ombo, walaupun akhirnya ia harus dikejar-kejar tentara. Warga kemudian menyembunyikan Romo ke perahu, dan ia berhari-hari mengapung sendirian di atas perahu. Setelah keadaan mulai tenang, penduduk menjemput Mangun kembali pada hari ketujuh.

“Kekalahan” Mangun dan warga Kedung Ombo menjadi akhir dari novel ini. Jika sebelumnya ia berhasil membantu warga Kali Code, tidak demikian dengan Kedung Ombo. Dengan membaca novel ini, pembaca bisa dibangkitkan semangat berkeadilan dengan berkaca pada apa yang dilakukan Romo Mangun.

Baca juga: Eni Rosita: A Story That Says I Survived

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *