Ekonomi Lomba Blog

Memacu Konektivitas untuk Percepatan Pemerataan Pembangunan Indonesia

Satu dasawarsa yang lalu jika kita berbincang mengenai transportasi di tanah air, maka ada anggapan bahwa pembangunan hanya terfokus pada Indonesia barat khususnya Jawa. Terjadi ketimpangan antara Jawa dengan pulau-pulau lain, terlebih jika dibandingkan dengan wilayah timur. Hal ini menyebabkan konektivitas antar wilayah belum terjain dengan baik.

Secara historis, pembangunan transportasi di Jawa bahkan telah terjadi beratus tahun lalu, saat Daendes membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi lebih banyak terfokus di Jawa semata. Bermacam industri atau pusat-pusat perekonomian, mengikuti sarana jalan yang telah dibangun. Sementara di wilayah yang lain, nyaris tak tersentuh.

Namun, perubahan terjadi selama lima tahun terakhir, di mana pemerintah terus membangun transportasi di negeri ini. Upaya tersebut diakukan untuk menciptakan konektivitas dan pemerataan sehingga seluruh masyarakat di tanah air dapat merasakan manfaatnya. Segala bentuk infrastruktur transportasi dibangun, mulai dari jalan tol, bandar udara, hingga pelabuhan.

Jalan tol yang dibangun antara lain Jalan Tol Balikpapan – Samarinda (99,35 km), Manado – Bitung (39 km), Panimbang – Serang (83,6 km), 15 Ruas Jalan Tol Trans Sumatera (304 km), Probolinggo – Banyuwangi (170,36 km), dan Yogyakarta – Bawen (71 km).

Sementara pembangunan bandar udara meliputi pembuatan bandara baru, seperti Bandar Udara Kertajati, Jawa Barat dan Bandar Udara Internasional Yogyakarta, dan pengembangan bandar udara, seperti Banda Udara Ahmad Yani, Semarang, Bandar Udara S. Babullah, Ternate, Bandar Udara Raden Inten II, Lampung, Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangkaraya, dan Bandar Udara Sebatik, Nunukan.

Di sektor perairan, pelabuhan yang dibangun misalnya Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung, Pelabuhan Hub Internasional Bitung, Pelabuhan Patimban. Program Tol Laut dicanangkan sejak tahun 2014 dan terus diikuti dengan dukungan pembangunan infrastruktur, khususnya kawasan Indonesia Timur. Hal ini akan melancarkan konektivitas antar pulau, sebagai konsekuensi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17 ribu pulau.

Pembangunan tak lagi hanya di pusat (ibukota) saja, namun juga sampai ke pinggiran. Hal inilah yang telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan saat ini.

“Membangun Indonesia dari pinggiran itu suatu keniscayaan. Sudah saatnya rakyat Indonesia merasakan pembangunan sesungguhnya. Keterhubungan antardaerah, jalan menuju perubahan Indonesia yang lebih baik.”

(Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan RI)

Pembangunan di bidang transportasi yang dilaksanakan secara masif dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia tersebut menjadi lompatan bagi Indonesia untuk menuju negara maju. Indonesia kini telah memiliki pondasi yang kokoh untuk mencapai cita-cita Indonesia maju. Masifnya pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia dalam 5 tahun terakhir mulai dirasakan manfaatnya dalam mendorong bergeraknya ekonomi regional.

Pembangunan di bidang transportasi akan menciptakan lapangan kerja serta memiliki multiplier effect terhadap pembangunan nasional dan daerah. Selain itu juga memiliki peran penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, misanya dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran.

Dengan pembangunan di bidang transportasi di semua wilayah, konektivitas pun tercipta. Hal ini membantu kegiatan produksi dan distribusi barang dan jasa di seluruh tanah air. Dampaknya, pemerataan pembangunan terwujud yang selanjutnya berkonstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hal ini dapat dilihat dari PDB negara kita yang semakin naik. Produk domestik bruto (PDB) atau dalam bahasa Inggris gross domestic product (GDP) adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.

Sejak tahun 2017, Indonesia masuk dalam daftar 15 negara dengan PDB US$ 1 Triliun. Tidak hanya itu, Indonesia bahkan diprediksi menjadi ekonomi terbesar nomor 4 di dunia pada tahun 2030, dengan urutan China (PDB sebesar US$ 64,2 triliun), India (US$ 46,3 triliun), Amerika Serkat (US$ 31 triliun), dan Indonesia (US$ 10,1 triliun).

Pembangunan transportasi juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan, yang dapat dilihat dari berkurangnya kemiskinan dan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia. Prosentase penduduk miskin di Indonesia semakin menurun, di mana pada tahun 2015 sebesar 11,13%, 2016 sebesar 10,70%, 2017 sebesar 10,12%, 2018 sebesar 9,66%, dan 2019 (Semester 1) sebesar 9,41%.

Sementara Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia terus meningkat, tahun 2015 sebesar 69,55, tahun 2016 sebesar 70,18, tahun 2017 sebesar 70,81, dan tahun 2018 sebesar 71,39.

Sumber: Instagram @kemenhub151

Selain itu, Logistic Performance Index (LPI) terus membaik, dari peringkat 53 dunia (tahun 2014) menjadi peringkat 46 dunia (tahun 2018). Juga, Global Competitiveness Index (GCI) yang naik dari peringkat 81 dunia (tahun 2014) ke peringkat 71 dunia (tahun 2018).

Masifnya pembangunan transportasi akan terus memacu konektivitas antarwilayah di Indonesia. Konektivitas akan memudahkan kegiatan orang dan barang antar wilayah sehingga meningkatkan efisiensi dan kelancaran arus barang dan jasa antar wilayah di Indonesia. Konektivitas tersebut dapat mengakselerasi pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia.

(Ilustrasi gambar, sumber: sgs.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *