Destinasi Jawa

Menikmati Ketenangan di Paddy D’Sawah Guest House

Paddy D'Sawah

Merasa penat dengan hiruk pikuk kota, maka berlibur sejenak ke pedesaan bisa menjadi pilihan saat berakhir pekan. Paddy D’Sawah Guest House menjadi tempat yang pas untuk menginap dan bermalam di Yogyakarta.

Paddy D’Swah Guest House ini berada di Ganjuran,  Bambanglipuro, Bantul. Letaknya tak jauh dari Gereja Ganjuran.  Penginapan ini terbilang masih anyar, baru dibuka sekitar bulan Maret tahun 2017. Saat itu pengunjung hanya sekitar 15 sampai 20 orang saja per bulan, dan kebanyakan adalah tamu gereja.

Saya melakukan pemesanan kamar melalui aplikasi Traveloka, satu minggu sebelum hari H. Harganya sangat terjangkau, 95 ribu rupiah saja per malam. Ulasan positif dari beberapa pengunjung sebelumnya membuat saya tertarik untuk menginap di tempat ini.

Kunjungan saya ke Yogyakarta pada bulan Februari lalu dalam rangka mengikuti lomba Coast to Coast 2020, yang merupakan lomba lari trail yang diadakan setiap tahun. Rute lombanya melewati pantai dan perbukitan di selatan Yogyakarta.

Paddy D'Sawah

Sesuai namanya guest house ini berada di tepi sawah, yang saat itu padi-padinya masih berusia muda dengan warna daun hijau. Sangat menyegarkan mata. Apalagi hembusan angin sepoi mampu mengusir gerah di tubuh.

Bangunan guest house terdiri dari dua lantai. Ornamen bambu dan kayu sangat mendominasi bangunannya. Semua kamar baik di lantai bawah maupun atas menghadap ke sawah. Kamar yang saya pesan terletak di lantai 1. Ada semacam teras mungil di depan kamar dengan dua kursi dan 1 meja yang terbuat bambu.

Masuk ke ruang kamar, ada sebuah ranjang sederhana dengan rangka dari kayu bercat hitam. Kasurnya berukuran besar untuk 2 orang, lengkap dengan bantal dan selimut yang berwarna putih. Seprei penutup kasur juga berwarna putih, dengan gambar tokoh wayang kulit.

Paddy D'Sawah

Sebuah kelambu berwarna merah muda menutupi tempat tidur tersebut. Saya teringat masa kecil dahulu, ketika tempat tidur di rumah orang tua saya juga menggunakan kelambu. Pada waktu itu kelambu lazim digunakan, untuk menghindari gangguan nyamuk saat kita tidur.

Sebuah kamar mandi sederhana berada di sudut ruangan, dengan fasilitas berupa kloset jongkok, kran air, dan sebuah ember lengkap dengan gayung plastik untuk menampung air.  Tidak ada pintu khusus untuk kamar mandi tersebut, namun ada sehelai gorden sebagai penutupnya.

Paddy D'Sawah

Saya kemudian membaringkan tubuh sejenak, sekedar melepas rasa pegal di punggung. Tidak ada pendingin udara di dalam kamar penginapan. Untuk mengusir hawa gerah, saya membuka jendela kamar agar angin dari luar bisa masuk ke dalam kamar.

Agak sore, ada 2 orang yang baru tiba untuk menginap di kamar sebelah. Mereka juga menjadi peserta Coast to Coast 2020. Mereka memesan kamar dua hari sebelumnya, dan harganya kalau tak salah sekitar 125 ribuan rupiah. Kami pun ngobrol-ngobrol sejenak di teras sambil menikmati hamparan sawah hijau yang terbentang di hadapan kami.

Selepas makan malam, saya beristirahat di kamar. Suara serangga malam dari luar kamar cukup jelas terdengar. Udara di dalam kamar cukup sejuk, meski tanpa pendingin. Saya begitu menikmati suasana khas pedesaan tersebut.

Saya memejamkan mata, namun tidak benar-benar tertidur malam itu, agar tidak terlambat menuju lomba lari. Sekitar jam 3 dini hari saya bangun, dan segera berangkat menuju Pantai Depok untuk memulai lomba lari.

Paddy D'Sawah

Sayang sekali, saya tidak bisa menikmati suasana pagi hari di Paddy D’Sawah.  Saya bisa membayangkan betapa indahnya pagi hari sambil memandang sawah hijau, dan menikmati segelas kopi hitam.

Siang hari seusai lomba, saya kembali ke penginapan. Setelah membersihkan diri, saya pun melakukan check-out.  Suatu saat, saya mungkin perlu menginap lebih lama lagi di sini. Tempat yang tenang dan cocok untuk menepi dari hiruk-pikuk perkotaan.

Baca Juga: Rawa Pening Ambarawa pada Suatu Masa

9 thoughts on “Menikmati Ketenangan di Paddy D’Sawah Guest House”

  1. Wah seru banget tempat penginapannya. Terasa natural, pemandangan langsung sawah dan pakai kelambu. Aku ingat tidur pakai kelambu itu pas nginap di Indramayu jaman dulu. Tarifnya juga murmer. Bisa jadi rekomendasi bila berlibur ke sini.

  2. Saya tertarik dengan arsitektur bambunya. Itu ngolah bambunya gimana ya? Supaya tahan lama gak keropos?

  3. Sejauh mata memandang, sawah semuaa. Priceless nih. Bikin mata jadi segar banget. Tapi uwooww kamar mandinya gak pake pintu?

  4. wah kalau hanya 90ribuan, mending sekalian 2 hari ya om daniel. Tapi mngkn krn belum ngerasain, jadi memang test case dulu ya 1 hari. Atau ada agenda lain esoknya ya. Kalau saya kecapekan udah sampe sana, sekalian 2 hari minimal.

  5. Sarapan ada di penginapan kah kak? Ohya seru banget tuh misal ditambah Edutrip menyusuri sawah. Pasti anak2 senang 😀

  6. Duh aku bayangin bangun tidur nyeker ke pematang sawah hahaha…Indah nian pemandangannya itu. Rileks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *