Serba-serbi

Menyeduh Cerita Secangkir Kopi

Secangkir kopi menyimpan banyak cerita. Dalam setiap seduhan nikmatnya, banyak inspirasi dan imajinasi yang muncul karenanya. Tak heran jika si hitam ini menjadi kawan bagi mereka yang tengah mengalami buntu pikiran. Pun sekedar untuk menghalau kantuk, kopi menjadi pilihan.

Konon, sejarah kopi bermula pada abad ke-9 di Ethiopia. Budidaya dan perdagangan kopi baru mulai dipopulerkan oleh pedagang Arab di Yaman pada abad ke-15. Kemudian kopi masuk ke Eropa pada abad ke-17, namun tanaman kopi tidak dapat tumbuh baik di benua biru ini. Bangsa-bangsa Eropa pun menggunakan daerah jajahannya untuk membudidayakan tanaman kopi ini.

Indonesia memiliki andil yang besar dalam sejarah dan persebaran jenis kopi di dunia. Museum Multatuli di Rangkasbitung mencatat periode tanam paksa di Pulau Jawa dengan fokus pada budidaya kopi ini. Bibit kopi pertama kali dibawa oleh VOC dari Malabar, India ke Jawa pada akhir abad 17 dan mulai ditanam pada awal abad 18. Bibit kopi dibagi-bagikan kepada para bupati di sepanjang pantai utara Jawa, mulai Batavia hingga Cirebon.

Namun budidaya kopi tersebut gagal, karena kopi tidak bisa tumbuh di dataran rendah. Budidaya kopi selanjutnya dipindahkan ke pedalaman. Priangan menjadi daerah lumbung kopi pada masa itu. Bahkan, pada 1726 hampir separuh lebih pasokan kopi dunia berhasil dipenuhi oleh VOC, yang sebagian besar berasal dari budidaya kopi di Priangan.

Beruntunglah kita yang hidup di zaman modern ini, karena tak perlu berpayah-susah mendapatkan secangkir kenikmatan dari minuman kopi. Ia hadir di warung pinggir jalan, hingga restoran mewah di pusat keramaian. Dari yang berbentuk bungkus siap saji sampai racikan barista ahli, begitu gampang mendapatkannya.

Saya sendiri mengenal kopi sejak kecil. Merunut ke masa lalu, sebenarnya tidak banyak anggota keluarga kami yang menjadikan secangkir kopi sebagai sebuah minuman wajib di pagi hari. Almarhum nenek adalah satu-satunya orang yang menggemari kopi untuk memulai kegiatan pagi. Mungkin saat itu saya masih 6-7 tahun, ketika biasanya saya setiap pagi menyelinap masuk ke rumah nenek yang bersebelahan dengan rumah orang tua saya. Kopi hitam adalah kopi yang sering dinikmati beliau. Demi sehirup dua hirup kopi, sering kali saya berlaku ‘tidak sopan’ dengan mendahului meminum kopi yang masih secangkir utuh, masih mengepul uap-uap panasnya yang beraroma khas. Secangkir kopi di masa lalu itu menjadi media sambung rasa antara cucu dan sang nenek.

Beranjak besar, saya menyadari ketidaksopanan yang saya lakukan tersebut. Saya pun mulai menyudahi ritual menyelinap ke rumah nenek. Secara tak langsung kebiasaan minum kopi di pagi hari sempat terhapus dari kegiatan rutin saya di pagi hari. Di rumah, segelas teh atau susu lebih sering terhidang di meja makan untuk menemani sarapan pagi. Keduanya memiliki kenikmatan tersendiri, namun tidak akan pernah bisa seistimewa kopi yang dulu menali erat ikatan emosi antara saya dan nenek.

Merantau ke luar kota kelahiran, dimana saya melanjutkan pendidikan selulus SMU, perlahan kopi kembali hadir dalam lingkaran hidup saya. Setidaknya ketika saya harus begadang untuk menyelesaikan tugas menggambar teknik yang sudah mepet tenggat waktu, secangkir kopi adalah sesuatu yang wajib. Meski terkadang bencana kecil hadir manakala ketidaksengajaan menyenggol cangkir kopi yang membuat sebagian isinya berpindah ke atas kertas kalkir. Marah dan mengumpat pun terjadi.

Traveling menjadi hobi saya selanjutnya, yang memiliki hubungan dengan secangkir minuman berwarna hitam yang disebut kopi ini. Sempat beberapa kali berinteraksi dengan masyarakat lokal, kopi menjadi sebuah media sambung rasa antara sang tuan rumah dan sang pejalan. Setidaknya ada tiga tempat yakni di Maratua, Toraja dan Baduy Dalam yang akan selalu lekat dalam ingatan, dan secangkir kopi turut hadir dalam interaksi saya dengan penduduk lokal.

Suatu pagi yang baru saja diguyur hujan lebat, masyarakat di Pulau Maratua, Kalimantan Timur melakukan upacara memohon keselamatan kepada Sang Pencipta. Beberapa hari terakhir memang cuaca tak bersahabat, dan gelombang laut cukup tinggi. Seusai memanjatkan doa, warga Maratua pun menikmati beberapa panganan yang telah disiapkan. Tua, muda dan anak-anak turut dalam upacara itu. Para pria setempat dengan senang hati mengajak saya dan beberapa pejalan yang kebetulan sedang ada di sana untuk menikmati hidangan. Sambil ngobrol, secangkir kopi menjadi minuman yang pas untuk pagi yang lumayan berangin itu.

Toraja adalah bagian selanjutnya dalam cerita saya, ketika saya berkesempatan menyaksi upacara Rambu Solo, yakni upacara pemakaman jenazah, di kota Rantepao, Sulawesi Selatan. Sesaat sebelum acara dimulai, salah satu tetua adat mempersilakan saya dan teman dari Malaysia untuk duduk di salah satu rumah-rumah bamboo yang lazim dibangun untuk kegiatan Rambu Solo. Lagi-lagi, segelas kopi menjadi media sambung rasa antara tuan rumah dan tamunya dalam perbincangan yang hangat.

Dalam sebuah kunjungan di Baduy Dalam, Banten, saya dan dua pemandu sedang berbincang di salah satu rumah penduduk di mala hari. Sebuah bumbung (batang bambu) menjadi wadah istimewa di mana di dalamnya berisi kopi panas yang menemani kami berbincang sepanjang malam. Keramah-tamahan penduduk Baduy Dalam memberikan kesan tersendiri bagi saya.

Di Sumatera Barat, tepatnya di Payakumbuh, saya sempat melakukan kunjungan tanpa rencana ke sebuah pacu jawi. Hujan turun di tengah-tengah kemeriahan acara balapan sapi ini. Saya bernaung di sebuah gubuk sederhana di tepi arena, bersama penduduk setempat. Tawaran kopi panas oleh penduduk setempat mampu menghangatkan suasana sore itu.

Kopi turut hadir dalam kegiatan sehari-hari saya saat ini. Dalam beberapa acara blogger di Tangerang atau Jakarta, kopi menjadi pengisi jeda yang paling dinantikan. Atau ketika tengah mengerjakan tugas dengan teman-teman di Cikupa Tangerang, kami hampir selalu berkumpul di kafe kopi. Tentu saja, kopi menjadi pilihan terbaik untuk membangkitkan semangat.

Kopi tak lagi sekedar minuman. Ia turut hadir menjadi penaut tali kasih antara nenek dan cucunya. Kopi juga turut hadir menjadi media sambung rasa antara penduduk lokal dengan para pejalan yang sedang singgah. Dan kopi pulalah yang menjadi pembangkit semangat untuk terus berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *