Hiburan

Merayakan Pramoedya Ananta Toer di Film Bumi Manusia

Selasa (13/8) yang lalu saya sempat buru-buru datang ke bioskop untuk menonton film Bumi Manusia. Saya melihat di aplikasi online, film ini sudah nongol di daftar tayang, tanpa mengecek terlebih dahulu kapan hari tayangnya. Saya akhirnya harus keluar dari tempat tersebut setelah mengetahui Bumi Manusia baru tayang Kamis ini (15/9). Untung saja jarak bioskop tidak jauh dari rumah. Dan hari ini saya akhirnya bisa menonton film keren ini, yang berdurasi 3 jam. Cukup lama, namun tak sedikit pun terasa membosankan. 

Saya masih ingat, tahun lalu di media sosial dan blog sempat ramai ketika novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini akan dilayarlebarkan. Banyak penggemar Pramoedya yang protes terhadap pemilihan aktor utama, Iqbaal Ramadhan yang akan memainkan tokoh Minke. Alasan utamanya karena karakter Iqbaal dianggap kurang cocok buat memerankan Minke. Iqbaal memang sudah terlanjur dikenal sebagai Dilan, anak SMA yang suka berkelahi. Karakter yang berbeda jauh dengan Minke di Bumi Manusia, seorang pemuda terpelajar yg penuh karisma.

Kekuatan film Bumi Manusia ini tentu saja pada jalan ceritanya. Saya akan sedikit saja menulisnya di postingan ini. Minke (Iqbaal Ramadhan), anak  seorang Bupati di Jawa yang juga bersekolah di HBS bersama anak-anak keturunan Belanda. Minke jatuh cinta dengan Annelies Mellema (Mawar de Jongh), seorang wanita blasteran, anak dari ibunya bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) yang berdarah Jawa dan bapaknya bernama Herman Mellema yang seorang Belanda. Nyai Ontosoroh sendiri adalah gundik dari Herman Mellema, dan Herman juga mempunyai istri di Belanda.

Ayah Minke (Donny Damara) tidak menyukai kedekatan Minke dengan Nyai tersebut, karena status Nyai dianggap rendah di mata sosial. Sebaliknya, Minke malah mengagumi pemikiran Nyai yang revolusioner untuk melawan hagemoni bangsa Eropa. Kisah cinta Minke dan Annelies berlanjut hingga keduanya menikah. Permasalahan muncul saat Herman Mellema meninggal. Pernikahannya dengan Nyai Ontosoroh dianggap tidak sah di mata hukum kolonial saat itu. Hubungan pernikahan Minke dan Annelies juga dipandang tidak sah. Pengadilan memutuskan Annelies harus kembali ke Belanda untuk mendapatkan pengasuhan yang sah sesuai hukum. Perlawanan dilakukan Minke dan Nyai Ontosoroh di pengadilan, namun mereka akhirnya tetap kalah. 

Tentang akting dari para pemain film Bumi Manusia, saya cukup puas. Iqbaal cukup lumayan memerankan Minke. Yang paling mengesankan justru akting Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Ine bisa menggambarkan sosok Nyai sebagai wanita yang kuat dan tangguh. Pemeran-pemeran film ini banyak menggunakan orang Belanda. Sang Sutradara, Hanung Bramantyo, memang sengaja melakukan casting di Belanda untuk memperkuat film Bumi Manusia yang dibuatnya.

Banyak dialog di Bumi Manusia yang memiliki kedalaman makna. Misalnya, “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan,” kata Jean Marais (sahabat Minke), saat sedang mendengar Minke yang menceritakan perasaannya terhadap Annelies dan Nyai Ontosoroh.  

Kemudian, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” kata Nyai Ontosoroh kepada Minke saat mereka kalah melawan pengadilan. Kata-kata Nyai Ontosoroh ini menjadi kalimat penutup dalam film (juga kata penutup pada novel Bumi Manusia setebal 535 halaman) mempunyai makna begitu dalam, berbicara perlawanan dengan penuh kehormatan sampai batas terakhir.

Kekuatan gambar di film ini juga perlu diacungi jempol. Hanung Bramantyo bisa menggambarkan dengan baik situasi tanah Jawa di masa pendudukan Belanda. Saya terkesan dengan penggambaran kondisi jalanan desa dengan saluran air di sepanjang sisinya, kemudian jalan dan saluran air itu diapit oleh sawah-sawah hijau. Pun dengan rumah dan perkebunan milik keluarga Herman Mellema yang sangat banyak muncul di film ini. Juga dengan penggambaran kereta api masa lalu dengan asap yang mengepul, melaju di rel dengan pemandangan hijau di sekitarnya. Ada juga stasiun Bojonegoro tempo dulu yang berukuran kecil, yang akan membangkitkan kembali kenangan para pengguna layanan sepur di masa-masa lalu.

Merayakan Pramoedya Ananta Toer

Saat ini novel-novel dari Pramodeya Ananta Toer bisa dengan mudah kita temukan. Padahal di masa Orde Baru, karya Pram sempat dilarang. Sang sutradara, Hanung Bramantyo, mengaku secara sembunyi-sembunyi membaca Bumi Manusia saat ia masih SMA dulu, karena takut ditangkap polisi. Hal serupa juga dikatakan oleh Donny Damara (pemeran ayah Minke). Donny menceritakan, buku Pram yang beredar pada zamannya (tahun 1986-1987) berbentuk buku berbahan kertas merang, fotokopian, dan stensilan.

Karya-karya Pram banyak  berisi kritik sosial. Dalam Bumi Manusia, kita bisa melihat kritik terhadap sekat-sekat yang menghalangi manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Tokoh Minke harus berjuang ketika cintanya terbentur hukum di masa kolonialisme.

Di masa lalu, Pram pernah ditangkap dan dipenjara di Cipinang, Tangerang, Nusa Kambangan, hingga Pulau Buru. Jalan hidup yang keras membentuknya menjadi sosok yang penuh kemarahan dan perlawanan., yang diungkapkannya melalui tulisan-tulisannya. Lebih dari 50 karyanya kini berhasil diterbitkan dan diterjemahkan ke 41 bahasa. Pram juga meraih sejumlah penghargaan internasional.

Beruntung, saat ini kita bisa dengan mudah mendapatkan karya-karya Pram. Kita bisa membaca Bumi Manusia, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Perburuan, dan novel-novel lainnya, tanpa harus khawatir ditangkap oleh polisi. Karya-karya tersebut terus dicetak ulang, bahkan Bumi Manusia (dan juga Perburuan) akhirnya difilmkan dan bisa kita saksikan di layar lebar bulan Agustus ini. Apa yang pernah ditakuti di masa lalu, telah dirayakan kini. Mari rayakan Pramoedya Ananta Toer dengan menyaksikan Bumi Manusia yang luar biasa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *