Ekonomi

Mewujudkan “Making Indonesia 4.0” dengan Menciptakan Enterpreneur Tingkat Dunia

Istilah industri 4.0 akhir-akhir ini menjadi topik yang sering diperbincangkan dan juga perlu mendapat perhatian serius. Era Industri 4.0 sendiri merupakan sebuah fase baru dalam revolusi industri yang menitikberatkan pada interkonektivitas, otomasi, machine learning, dan data yang real time. Sejak tahun 2011 kita telah memasuki Industri 4.0 tersebut yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat dan fungsi tenaga manusia yang mulai digantikan oleh digital.

Sabtu, 19 Januari 2019 yang lalu, C2live bersama dengan Global Entrepreneur and Talent Incubator (GeTI) mengadakan workshop di Grand Slipi Tower, Jakarta Barat. Tema yang diangkat pada workshop yang dihadiri oleh para narablog tersebut yaitu “Making Indonesia 4.0” dengan pembicara Bapak Oi Wicaksono, penanggung jawab Academic Fair dari GeTI.

Revolusi Industri

Sejarah revolusi industri 1.0 dimulai pada tahun 1784 ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin uap. Revolusi ini berhasil mengubah dan mendongkrak perekonomian secara dramatis. Sejak revolusi Industri tersebut, rata-rata pendapatan per kapita negara-negara di dunia meningkat enam kali lipat.

Revolusi industri 2.0 dimulai tahun 1870 yang ditandai dengan penggunaan mesin produksi masal seiring kemunculan pembangkit listrik dan ruang pembakaran mesin (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang yang kembali mengubah kehidupan manusia secara signifikan.

Revolusi industri 3.0 dan 4.0 terkait dengan keberadaan internet yang semakin memudahkan kehidupan kita. Revolusi industri 3.0 terjadi sekitar tahun 1969 yang ditandai dengan kemunculan teknologi informasi dan otomasi. Selanjutnya, revolusi industri 4.0 yang diperkenalkan tahun 2011 ditandai dengan mesin yang terintegrasi dengan jaringan internet (internet of things).

Industri  4.0 merupakan perjalanan industri di bidang inovasi dan teknologi yang kuncinya pada 3 hal yaitu sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan inovasi. Jika teknologi dan inovasi akan selalu berkembang secra pesat, maka tidak demikian dengan SDM. Perlu adanya empowering human talents agar SDM bisa dipacu mengikuti perkembangan teknologi dan inovasi.

Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 100 negara.  Walaupun telah naik sebesar 5 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi perlu terus dilakukan perubahan secara sistematis dan strategi yang jelas untuk berkompetisi.

Penetrasi internet, yaitu jumlah pengguna internet dibandingkan total populasi, di Indonesia pada Januari 2017 berada pada angka 51%. Penetrasi tersebut masih berada di bawah rerata negara-negara di Asia Tenggara yaitu 53%. Penetrasi internet di Indonesia masih tertinggal oleh Brunei (86%), Singapura (82%), Malaysia (71%), Thailand (67%), Filipina (58%), dan Vietnam (53%).

Secara literasi digital, fakta menunjukkan bahwa hanya 20% wanita di Indonesia (sekitar 131,9 juta jiwa) yang memiliki akses internet. Selain itu, hanya 52% sekolah menengah (SMP) di Indonesia yang terkoneksi dengan jaringan internet. Ini menjadi sebuah tantangan dalam menghadapi era industri 4.0.

Secara ekonomi dan perdagangan, ada beberapa produk dari Indonesia memiliki peluang untuk memenangkan persaingan di pasar global. Produk-produk tersebut adalah produk dari industri pengolahan ikan dan rumput laut, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman (turunan CPO, olahan kopi, kakao), furniture kayu dan rotan, elektronik dan telematika (multimedia, software), barang jadi karet (ban kendaraan bermotor dan re-threading ban pesawat terbang), kreatif (kerajinan, fashion, perhiasan), farmasi kosmetik dan obat-obatan, dan aneka (mainan anak, alat pendidikan dan olah raga, optik, alat musik).

Peluang dan tantangan di atas menuntut kita untuk mempersiapkan SDM Indonesia yang melek digital dan mampu bersaing di tingkat global. Para pelaku UMKM yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh Indonesia perlu belajar bagaimana memperkenalkan produknya secara luas.

Global Entrepreneur and Talent Incubator

Salah satu cara belajar informal bagi pemilik UMKM yaitu bergabung dengan Global Entrepreneur and Talent Incubator (GeTI). GeTI sendiri merupakan bagian dari ATT Group, mitra global resmi dari Alibaba.com. GeTI akan membantu UMKM khususnya generasi muda untuk memiliki keterampilan digital marketing.

Ruang lingkup kerja digital marketing untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global meliputi mendorong terjadinya perubahan pola pikir para pelaku UKM dari pola pikir business to consumer (B2C) menjadi pola pikir business to business( B2B) e-commerce; memahami operasional B2B e-commerce dari mulai produk ekspos hingga menjawab pertanyaan pembeli; dan mendorong terjadinya transaksi.

GeTI adalah lembaga lembaga pendidikan informal – incubator bagi percepatan kemampuan wirausaha melalui sarana, prasarana dan networking bertaraf internasional. GeTI membangun ekosistem pengembangan usaha mulai dari kemampuan digital marketing, menyediakan infrastruktur pendukung seperti produk, pengetahuan ekspor, hingga membuka jalur cepat pertemuan dengan buyer internasional.

GeTI memiliki visi terciptanya enterpreneur Indonesia berkualitas dunia yang tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi, efisien dan efektif dalam bekerja, memiliki produk yang mendunia, serta global networking yang kuat dalam rangka mewujudkan ekosistem wirausaha berskala internasional demi terciptanya kesetaraan kesempatan menjadi enterpreneur dunia.

Misinya yaitu menyediakan infrastrutur inkubasi bagi enterpreneur berskala internasional, menyediakan tenaga fasilitator berkualitas internasional, melaksanakan pelatihan dan pendampingan berbasis pengalaman internasional dan studi kasus, menyiapkan produk untuk dikembangkan oleh peserta/enterpreneur, berfungsi sebagai penghubung antara enterpreneur dan global buyer, memberikan layanan dan pelatihan mengenai ekspor impor terkini, dan menjadi narahubung antara enterpreneur dengan lembaga-lembaga pendukung ekspor seperti trade insurance, logistik, perbankan.

Detalase

Pada workshop tersebut para narablog yang hadir diajak untuk menggunakan platform Detalase, sebuah situs untuk melakukan international dropship. Pengenalan ini membuat narablog paham akan pentingnya go-digital dalam berbisnis.

Detalase saat ini sudah memiliki 2 juta produk yang siap dijual oleh pebisnis online Indonesia. Pengguna Detalase dapat langsung menjalankan bisnisnya tanpa perlu memikirkan modal. Bahkan mulai dari urusan stok barang, pengiriman, dan customer service, semua diurus oleh tim Detalase.

Detalase mempunyai misi untuk membangun sebanyak mungkin onlinepreneur  di Indonesia dengan menyediakan produk, jasa logistik, metode pembayaran yang aman, dan customer service yang responsif. Sehingga siapapun bisa berjualan secara online dengan mudah, gratis, dan tanpa stok.

4 thoughts on “Mewujudkan “Making Indonesia 4.0” dengan Menciptakan Enterpreneur Tingkat Dunia”

  1. Bagaimana pun, belum ada satu negara pun yang berani mengatakan kalau ia telah benar-benar masuk ke industri 4.0. Jadi setiap negara masih sama-sama berpeluang menjadi leader di industri 4.0, termasuk Indonesia. Cuma, saya melihatnya Indonesia cenderung adem dibandingkan negara-negara lain, hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *