Buku

“Ngehe”, Sebuah Memoar Membalik Nasib dari Pendiri Makaroni Ngehe

Ngehe. Di mana aku membalik posisi kelemahan menjadi kekuatan. Perjalanan hidup yang ngehe banget, begitu mengesalkan dan menguras emosi jiwa, kujadikan sesuatu yang bukan lagi membawa lara, melainkan menghasilkan daya. Setiap aku membaca tulisan itu, aku akan selalu diingatkan, jangan sampai terjatuh lagi ke situasi tersebut…

Begitulah salah satu paragraf yang tertulis di bagian epilog dalam buku berjudul Ngehe yang ditulis oleh Ali Muharam, founder dan CEO Makaroni Ngehe. Otobiografi ini berkisah tentang mimpi-mimpi serta pahit-manis kehidupan pemuda kelahiran Tasikmalaya tersebut yang terangkum dalam 324 halaman yang begitu inspiratif untuk dibaca.

Dalam peluncuran buku Ngehe yang dihelat pada Senin, 19 Agustus 2019 lalu di Kemuning Room, Mezzanine Floor, Hotel Mulia Senayan Jakarta, Ali mengungkapkan jika ia membutuhkan waktu 13 bulan untuk menulis buku tersebut. Buku terbitan PT Elex Media Komputindo ini menjadi titik awal bagi Ali untuk mewujudkan mimpinya sejak awal merantau ke Jakarta hingga menjadi penulis.

Acara peluncuran buku ini belangsung dalam suasana santai, dan sesekali haru. Ali menceritakan kembali kisahnya semasa kecil di Tasikmalaya ketika sang ibu harus menjadi tulang punggung keluarga usai kepergian sang ayah menghadap Tuhan YME di tahun 1991. Sang ibu berjuang menghidupi Ali dan saudara-saudaranya dengan berjualan barang-barang bekas di sebuah gubuk di pinggir rel kereta api di Tasikmalaya.

Salah satu keahlian sang ibu adalah membuat makaroni goreng untuk camilan saat hari raya Idul Fitri. Makaroni ini begitu disukai oleh tamu-tamu yang berkunjung, dan kelak resep dari sang ibunda inilah yang menjadi cikal bakal kesuksesan Ali saat ini dengan Makaroni Ngehe (MaHe) yang sudah mempunyai 33 outlet di berbagai kota di Indonesia.

Pemuda kelahiran tahun 1985 ini sempat beberapa kali tertawa menceritakan masa-masa kecilnya. Misalnya ketika ia duduk di bangku SMP, ia bersama teman-teman sekolahnya membuat rencana untuk melakukan petualangan ke Bandung dengan naik kereta api seusai kegiatan PORSENI di sekolahnya. Pada akhirnya teman-temannya memilih mengurungkan niat tersebut, dan Ali memutuskan berangkat ke Bandung seorang diri.

Berbekal duit 25 ribu rupiah yang sebagian ia simpan di saku dan sebagian lagi di dalam kaus kaki (karena takut seandainya dipalak), Ali memulai petualangan pertama naik kereta tanpa membayar tiket. Tujuannya ke Bandung cukup sederhana, ingin ke Bandung Indah Plaza (BIP). Ia menjelajah setiap sudut BIP, mengamati tingkah laku orang-orang kota, hingga menikmati makan di McDonald’s. Kepergiannya ke Bandung ini sempat membuat keluarganya kebingungan mencarinya.

Buku ‘Ngehe” yang ditulis oleh Ali Muharam

Ali kemudian juga berkisah tentang kisah seusai lulus SMA. Saat teman-temannya memiliki rencana kuliah di Bandung, Yogya, atau Purwokerto, Ali sadar ia tak mungkin memaksakan diri melanjutkan pendidikan karena terbentur masalah perekonomian. Merantau menjadi pilihannya. Berbagai profesi sempat ia lakoni, mulai dari menjadi seorang OB, petugas fotokopi, admin, tukang masak di kantin, hingga penulis skenario sinetron di sebuah stasiun televisi.

Suasana di Kemuning Room Hotel Mulia sore itu sempat mendadak hening, ketika Ali tak kuasa menahan haru menceritakan salah satu titik terendah dalam hidupnya. Sang ibunda tercinta meninggal dunia di tahun 2013, dan kisah ini ditulisnya dalam Bab “Ain’t No Sunshine When She’s Gone” di buku Ngehe tersebut.

Berusaha bangkit dari kegagalan-kegagalan yang dialami, Ali akhirnya sukses menjalankan bisnis makaroni. Bermodal pinjaman 20 juta rupiah dari temannya, Ali memulai usaha makaroni dari sebuah outlet kecil di dekat tikungan Kampus Binus Anggrek di Jakarta Barat. Dari outlet kecil inilah bisnisnya berkembang hingga sekarang menjadi 33 outlet yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Karawang, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, dan Palembang.

Membaca “Ngehe”, buku pertama dari sang founder dan CEO Makaroni Ngehe, kita tidak akan pernah ‘digurui ‘ dengan teori-teori bisnis yang biasanya kita temukan dalam buku-buku wirausaha. Pada buku yang bersampul warna merah dengan tulisan berwarna putih ini, kita akan menemukan tentang nilai perjuangan dalam mengubah nasib yang begitu inspiratif. Buku ini sendiri menjadi bakti penulisnya kepada sang ibunda tercinta.

12 thoughts on ““Ngehe”, Sebuah Memoar Membalik Nasib dari Pendiri Makaroni Ngehe”

  1. Jujur, aku belum pernah makan MaHe ini, sering dengar namanya aja. Kata “Ngehe” itu memang identik dengan kesialan dan keburukan. Tapi jadi pecutan juga buat yang mengalaminya. Good book.

  2. Sampe hari ini, di Bogor si “ngehe” masih rame aja. Skrg ditambah antrian ojol kalau dulu rame antrian masy langsung. Skrg krn sudah masuk listing grabfood or gofood ojol yang ngantri hehe. Mantab sih ini idenya dan brandnya.

  3. Cerita hidupnya inspiratif ya CEO Makaroni Ngehe ini. Pas buat kita yang lagi cari inspirasi untuk sukses. Meski background dari keluarga biasa tapi salut banget sama perjuangannya buat meraih apa yang diinginkan.. Aku rasanya belum pernah nyobain Makaroni Ngehe, jadi langsung pingin nyobain.. 🙂

  4. masih muda ternyata foundernya ya… ini makaroni hits banget.. kriuk kriuk rasanya.. kadang orang emang ditaruh di level terendah dulu seblum mencapai sukses

  5. Saya masih suka bagaimana gitu kalau menyebut/mendengar kata ‘ngehe’. Soalnya dulu suka dianggap sangat kasar. Padahal saya gak tau juga artinya apa hihihi. Perubahan zaman kali, ya. Sekarang, terdengar seperti biasa aja.

    Tetapi, bukunya terlihat menarik. Sosok Ali ini udah kelihatan sejak SMP memang gigih, ya. Bisa jadi sebuah buku yang menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *