Pustaka

Resensi Buku: “The DestinASEAN Menjelajah Kisah di 10 Negara”

Selamat membaca, Daniel. Ayo mulai traveling juga 🙂

Sebuah tulisan dan tanda tangan langsung dari Venus tertera di halaman pertama. Disusul kemudian oleh Ariev dan Eka yang melakukan hal yang serupa pada buku The DestinASEAN Menjelajah Kisah di 10 Negara, yang saya beli pada tahun 2013 yang lalu.

Venus, Ariev Rahman dan Eka Situmorang-sir saat itu menjadi narasumber pada salah satu sesi pada Seminar Sosialisasi ASEAN Economic Community  yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri dan ASEAN Blogger Community.

Buku The DestinASEAN Menjelajah Kisah di 10 Negara menceritakan pengalaman mereka selama melakukan traveling di negara-negara ASEAN. Sebenarnya buku tersebut ditulis oleh 11 orang, yaitu ketiga traveler di atas dan 8 orang lain Adam & Susan Poskitt, Adis Takdos, Dendi Riandi, Marischka Prudence, Oryza Irwanto, Puti Kirana dan Roy Saputra.

Buku dengan tebal sebanyak vi + 246 halaman terbitan B first (PT Bentang Pustaka) ini sebenarnya lebih mengungkapkan pengalaman personal para penulisnya dibanding menceritakan objek-objek wisata di Asia Tengggara secara detil. Dengan pilihan destinasi yang berbeda, mereka mengisi perjalanan dengan cara masing-masing. Dengan gaya penulisan yang berbeda-beda dari setiap penulisnya, mereka mencoba mengungkapkan apa pandangan mereka mengenai budaya manusianya, kota, sejarah maupun alam dari destinasi 10 negara ASEAN tersebut.

Seperti apa yang ditulis oleh Venus, traveler wanita berdarah Jawa ini bercerita tentang pengalamannya saat berada di Thailand. Venus dan seorang temannya menjajal untuk menikmati Thai Massage dengan harga 225 Baht per jam. Berbeda dengan kebanyakan pijat pada umumnya, pijat Thai yang dialami oleh Venus begitu aneh.

Jadi bukannya dipijit-pijit…, badan kita malah ditarik-tarik, dilipat-lipat sedemikian rupa, ditekuk-tekuk sambil diduduki sampai terdengar bunyi KRAAAAAAKKK … KRAAAAAAAAAKKK … KRAAATAAAAAAKKK …,” begitu cerita Venus di halaman 35.

Baca juga: Big Bad Wolf 2019

Lain lagi dengan Adis Takdos (tidak hadir di seminar), pemuda dari Bandung berdarah Sunda-Palembang ini bercerita soal pengalamannya di Sumatera Utara dan Sumatera Barat karena mendapatkan tiket promo. Dengan bahasa yang segar dan kocak mulai di halaman 215 dengan bab berjudul ‘Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sum-pah Gue Pusing

Dengan penuturan lo gue khas anak muda yang blak-blakan, saya dibuat tersenyum sendiri dan bahkan tertawa membaca cerita Adis. Lihat saja salah satu bagian yang ditulisnya:

Cuci muka-ganti baju-pamitan sama bibi, gue langsung buru-buru pergi ke bandara… nggak pakai semp*k. Aku dirty. Tiba-tiba gue sudah berada di Medan. Selama lebih kurang dua jam perjalanan gue cuma tidur, godain mbak pramugari, dan kembali tidur.

Di akhir seminar, Ariev, Eka dan Venus memberikan penutup dari buku tersebut. Bahwa banyak keindahan dan keragaman yang dimiliki oleh negara-negara Asia Tenggara. Namun dari kesemuanya, Indonesialah yang paling indah. Bagi rekan-rekan yang ingin memulai traveling di Asia Tenggara, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *