Buku

(Review Buku) Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Benua

Bermula dari kunjungan saya ke toko buku Gramedia dekat rumah, yang saat itu tengah mengadakan diskon. Ada belasan keranjang besar yang berisi banyak buku dengan bermacam kategori. Saya melihat buku “Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Benua” ini dan langsung tertarik untuk membuka buku sampel untuk melihat isi di dalamnya.

Buku ini punya hard cover dan gambar berwarna beresolusi tinggi, juga halaman-halaman di dalamnya banyak gambar-gambar berwarna dengan kualitas kertas yang lux. Dengan label harga yang kurang dari 50 ribu rupiah (setelah diskon), tanpa berpikir panjang saya segera membeli buku ini, yang saya perkirakan harga aslinya bisa 200-300 ribu rupiah.

Buku ini terbitan tahun 2012 oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Penulisnya Ahmad Arif, Broery Andrew Sihombing, Harry Susilo, Indira Permanasari, Janatan Ginting, Julius Mario, Sofyan Arief Fesa, dan Xaverius Frans. Editor oleh Rudy Badil dan Sani Handoko. Juga ada tim riset serta tim pendukung, yang membuat buku ini sangat kaya dan mendalam.

Nama-nama besar di republik ini ikut menulis sambutan pada buku tersebut. Mereka adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menpora Andi Mallarangeng, dan Rektor Unpar Cecilia Lauw. Ini menjadi bukti bahwa buku ini memang bukan buku biasa-biasa saja.

Buku traveling dan adventure ini mengisahkan perjuangan Tim ISSEMU dari Mahitala Unpar Bandung untuk menggapai Seven Summits Dunia. Tim ISSEMU (Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar) tersebut terdiri dari empat sekawan Broery Andrew (21), Janatan Ginting (22), Sofyan Arief Fesa (28), dan Xaverius Frans (24).

Ketujuh puncak yang dimaksud ialah Carstenz Pyramid (Papua), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Rusia), Vinson (Antartika), Aconcagua (Argentina), Everest (Nepal), dan Denali (Alaska). Tidak sembarangan orang bisa mendaki semua puncak tertinggi di tujuh benua tersebut.

Untuk sebuah buku traveling dan adventure ini, saya memberi penilaian bahwa buku ini memang sempurna. Penilaian tersebut berdasarkan cerita atau kisah dari empat sekawan pendaki (yang sekaligus juga menjadi penulis buku), informasi yang kaya terkait gunung-gunung yang didaki, dan foto-foto berwarna yang menghiasi setiap halaman buku ini.

Kisah dramatis yang diceritakan dalam buku, membuat para pembaca ikut merasakan ketegangan yang dialami. Misalnya saja saat mereka mencapai puncak Everest, kisah luar biasa itu bisa dilihat dari paragraf yang saya kutip dari halaman 15-17.

… Puncak Everest selepas tengah hari pada musim pendakian Mei-April, bisa sangat berbahaya. Beberapa anggota Mahitala yang di base camp berkali-kali mengontak Sofyan melalui radio. Namun, tak ada jawaban.

Ketegangan mencair ketika pukul 09.43, Frans mengabarkan telah mencapai puncak berbarengan dengan Sofyan dalam kondisi sehat. Kemah ISSEMU di EBC di kaki Everest pagi itu pun pecah dengan teriakan “Hidup Indonesia”. Para anggota Mahitala di EBC saling berpelukan. …

“Saat turun, saya sempat melihat ada mayat pendaki. … Bersyukur, saya dan teman-teman bisa mencapai puncak dan turun dengan selamat, “kisah Janatan.

Broery bergegas turun untuk menyampaikan foto-foto pencapaian di puncak ke Kompas, agar bisa segera diterbitkan keesokan harinya. …

Informasi yang mendalam dan kaya juga banyak tertulis di buku ini. Misalnya tentang Cartenz Pyramid di Papua dan bagaimana catatan-catatan masa lampau mengenainya. Di halaman 69 misalnya:

Orang-orang kuno Belanda itu tertawa terbahak-bahak, saat membaca laporan tertanggal 22 Februari 1623. Mereka tergeli-geli membaca laporan pelaut besar Jan Cartenz bersama kapal Pera dan Arnhem, ketika berlayar dari Ambon menuju New Guinea dari selatan.

Setelah terkubur waktu sangat lama, kisah salju tropis ini pun kembali bergaung pada awal abad ke-20, saat Belanda berambisi mencapai pegunungan itu. Dr. H. A. Lorentz yang pada 1907 gagal mencapai gunung es dari utara, kembali pada 1909 …, dan berhasil mencapai salah satu puncak yang diberi nama Puncak Wilhelmina – yang kini telah berganti nama menjadi Puncak Trikora (4.730 m).

Selain banyaknya informasi yang ada di dalam buku ini, kita juga akan dimanjakan dengan foto-foto berwarna. Misalnya sebuah danau cantik yang ada di puncak tertinggi di tanah Papua tersebut. Indah sekali!

Pada akhirnya, buku setebal xxv + 202 halaman dengan ukuran 30×24 cm ini sangat layak dimiliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *