Lomba Blog Tekno

Ringkas dan Tangguh, ZenBook UX333, UX433, dan UX533 Menjadi Laptop Impianku

Jumat jam 9 pagi, 15 Februari 2019, saya berkemas-kemas menyiapkan pakaian dan barang-barang lain yang akan saya bawa untuk acara di Yogyakarta selama 4 hari. Acara utama yaitu mengikuti lomba lari trail yang akan dilaksanakan pada hari Minggu di Pantai Depok.

Beberapa jam sebelumnya (Jumat dini hari) saya menerima surel dari komunitas bloger. Isi surat tersebut adalah tawaran untuk mengikuti proyek dari sebuah aplikasi digital. Tugasnya cukup menantang, yakni membuat beberapa video singkat dengan beragam pilihan tema. Deadline cukup singkat, semua video harus terkirim Senin malam.

Tanpa berpikir lama saya menerima tawaran tersebut. Dalam pemikiran, saya akan mengambil beberapa footage selama di Yogyakarta, misalnya saat berkunjung ke Malioboro di hari Sabtu dan juga saat lomba lari di hari Minggu, sebelum pulang dari Yogyakarta pada hari Senin.

Jadwal keberangkatan pesawat yaitu Jumat jam 1 siang, dari Soekarno Hatta menuju Adi Sucipto. Saya punya cukup waktu untuk menyiapkan barang-barang prioritas yang akan saya angkut ke dalam ransel.

Baju, celana, sepatu lari, sandal, topi smartphone, charger, dompet pun saya siapkan. Saya lantas terpikir untuk menyertakan pula laptop yang akan saya gunakan untuk mengedit video, memindahkan beberapa gambar dari smartphone ‘oldskul’ saya yang memorinya tidak besar, atau jika sempat juga membuat postingan di blog selama berada di Yogyakarta.

Semua barang tersebut sudah saya siapkan, tinggal memasukkan ke ransel saja. Lalu saya teringat aturan terbaru mengenai pembatasan berat bagasi pesawat terbang yang diberlakukan awal tahun 2019 ini yaitu maksimal 7 kg. Jika lebih, akan dikenakan tambahan biaya yang cukup mahal bagi ukuran saya.

Hal ini membuat saya berpikir mengenai berapa berat semua barang yang akan saya bawa. Barang yang paling berat adalah laptop, 2 kilogram lebih. Kemudian sepatu lari sekitar 800-900 gram. Celana jins, celana pendek, kaos, jaket dan pakaian dalam beratnya bisa mencapai 3,5 kg. Sementara berat kosong tas ransel sekitar 600 gram.

Harus ada barang yang ditinggal supaya muatan tidak melebihi 7 kg. Dengan berbagai pertimbangan, laptop jadul seberat 2 kg tidak saya bawa serta ke Yogyakarta. Konsekuensinya saya harus mengoptimalkan smartphone untuk menyimpan gambar, mengedit video, dan membuat postingan di blog.

(Postingan ini saya buat menggunakan smartphone. Tentu saja tidak senyaman dan secepat membuat tulisan di laptop)

Dalam beberapa kali traveling yang saya lakukan sebelumnya, saya kerap berpikir untuk membawa laptop. Menceritakan apa yang saya lihat, dengar atau rasa saat traveling ke dalam tulisan di blog bagi saya begitu menyenangkan.

Tulisan yang dibuat dan diposting sesegera mungkin tentu punya kelebihan tersendiri, misalnya ketika di hotel saat traveling masih berlangsung. Segala ingatan tentang orang, suasana dan hal-hal lain yang berada di lokasi masih melekat kuat di pikiran.

Namun, hingga saat ini saya belum pernah membawa laptop dalam setiap traveling yang saya lakukan. Karena berat dan ribet, saya lebih banyak menulis di blog setelah kembali pulang.

Sepulang traveling dan tiba di rumah, saya akan menceritakan kembali pengalaman tersebut di blog. Foto-foto dari ponsel dan kamera saku saya pindahkan ke laptop, kemudian saya mulai menulis kalimat demi kalimat di laptop tersebut.

Ada salah satu peristiwa tidak mengenakkan yang pernah saya alami beberapa tahun lalu. Sepulang dari traveling ke Bangka, saya belum sempat memindahkan foto-foto dari laptop. Saya baru sempat membuat 1 postingan blog saat di Bangka dan rencananya akan membuat postingan lainnya saat pulang.

Saat dalam perjalanan dari tempat tinggal di Tangerang menuju Jakarta untuk menghadiri acara bloger, saya mengalami kecopetan di bus kota. Smartphone saya berpindah tangan, sementara foto-foto dari Bangka masih belum saya salin ke laptop.

Yah, saya merasa sedih. Hilangnya smartphone mungkin bisa diganti dengan yang baru. Tapi foto-foto yang ada di memori smartphone tersebut bagaimana saya mendapatkannya kembali? Membuat tulisan traveling tanpa foto seperti sayur tanpa bumbu. Hambar.

Laptop Impian

Laptop oldskul seberat 2 kilogram milik saya memang sudah sebaiknya saya tinggalkan. Memiliki sebuah laptop yang ringan, berukuran kecil, namun tetap tangguh kinerjanya adalah impian saya. Dengan laptop yang ringan dan bisa dibawa saat traveling,  saya bisa menulis di lokasi saat ingatan masih hangat.

Awal tahun 2019 ini ASUS meluncukran laptop ultra tipis terbaru, yaitu ZenBook UX333 UX433 UX533. Laptop yang ringkas memang menjadi dambaan semua orang. Ringkas bukan berarti tipis karena banyak sekali laptop tipis namun masih memiliki dimensi yang besar. ASUS terus mengembangkan cara agar laptop tidak hanya semakin tipis tetapi juga semakin ringkas.

Melalui teknologi eksklusif NanoEdge Display, ASUS memberikan sebuah solusi yang membuat bezel pada empat sisi layar laptop dapat dibuat dengan ukuran hanya 2,8 milimeter hingga 5,9 milimeter saja. Ukuran tersebut jauh lebih kecil dibandingkan laptop konvensional yang bezelnya bisa mencapai 20 milimeter.

Teknologi NanoEdge Display tersrbut menjadikan jajaran ZenBook Classic terbaru yaitu UX333, UX433, dan UX533 memiliki bodi yang lebih ringkas dibandingkan dengan laptop sekelasnya saat ini. NanoEdge Display juga membuat laptop tersebut memiliki screen-to-body ratio yang sangat tinggi, yaitu mencapai 95 persen sehingga layarnya terlihat lebih lega dan hampir tanpa batas.

Tidak heran jika julukan “The World’s Smallest 13, 14, 15 Inch Laptop” layak disandang oleh ZenBook UX333, UX433, dan UX533. Tidak hanya ringkas, bobotnya sangat ringan. ZenBook 13 cuma seberat 1,19 kg saja. Ini sangat sesuai dengan impian saya.

Untuk kinerja, produk-produk ASUS tidak diragukan lagi. Selain tipis dan paling ringkas di kelasnya, baik untuk segmen 13 inci, 14 inci dan 15 inci, ZenBook sudah diperkuat prosesor terbaru Intel Core generasi ke-8, baik Core i5 ataupun Core i7. Sangat mumpuni!

Seri ZenBook terbaru tersebut juga sudah mengantongi sertifikasi Military Grade MIL-STD-810G, artinya bahwa laptop ini memiliki durabilitas tinggi. Selain lolos standar uji ketahanan internal ASUS, jajaran laptop terbaru ini juga lolos berbagai pengujian ekstrem termasuk pengujian pada ketinggian dan kelembapan ekstrem.

2 thoughts on “Ringkas dan Tangguh, ZenBook UX333, UX433, dan UX533 Menjadi Laptop Impianku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *