Serba-serbi

Run With Love, Run For Love

Coast to Coast (CTC) Trail Run. Lomba lari yang dilaksanakan di Yogyakarta menjadi salah satu lomba lari favoritku. Jalur lomba melewati pantai, bukit, perkampungan, ladang penduduk dan gumuk pasir. Aku mengikutinya pertama kali pada tahun 2016. Setahun berikutnya di tahun 2017 aku juga mengikuti lomba ini kembali. Sempat ditiadakan pada tahun 2018, CTC kembali digelar tahun 2019 dan saya juga mengikutinya. Banyak kenangan tentang CTC ini. Dan aku hendak menulis ulang kenangan pada lomba tahun 2016.

Hujan deras mengguyur Pantai Depok, Yogyakarta Minggu dini hari itu. Aku duduk bersila di atas tikar, di antara ratusan peserta lomba lainnya yang menunggu jam 4 pagi untuk memulai lari sejauh 25 kilometer dan jam 5 pagi untuk 13 kilometer. Peserta untuk lomba 50 kilometer sudah berlari jam 1 tadi, dan tentunya saat ini harus berjuang di tengah hujan yang lebat.

Mata terasa berat karena memang kurang tidur, namun aku enggan untuk mencoba memejamkannya. Sambil menikmati suasana yang sejuk, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri. Beneran mau ikutan 25K? Ini adalah race pertamaku untuk jarak 25K trail running (lari lintas alam). Aku belum pernah berlari sejauh itu, apalagi untuk kategori lintas alam yang akan melewati medan yang tidak gampang. Aku terbiasa dengan jarak 5 atau 10 kilometer, itu pun di jalan raya.

Aku pandangi nomor BIB yang baru saja aku terima dari panitia beberapa saat lalu. Empat angka dan namaku tertulis di atas kertas itu, juga nama dan nomor telepon adikku yang aku tulis saat pendaftaran sebagai kontak bila terjadi keadaan darurat saat lomba. Aku lupa memberi tahu panitia lomba untuk mengganti kontak darurat, karena kontak tersebut tak mungkin untuk dihubungi.

Seperti mendapatkan kekuatan baru saat aku melihat nomor BIB itu. Ya, setidaknya aku akan berjuang sekuatnya dan menyelesaikan lomba untuk adikku. Bukan peringkat lomba yang aku cari, namun selesai di garis finish itu sudah cukup untukku. Lomba ini untukmu, adikku!

Baca juga: Lari Sambil Piknik di Jogja Marathon

Hujan sudah reda beberapa menit sebelumnya. Aku dan peserta lain bersiap-siap di garis start. Sebuah headlamp terpasang di kepala karena kondisi yang masih gelap. Dan jas hujan sengaja aku pakai untuk antisipasi jika sewaktu-waktu hujan turun lagi. Lagu Indonesia Raya kami nyanyikan, disusul dengan berdoa sebelum memulai lomba.

Akhirnya lomba dimulai, dan para peserta bergerak meninggalkan garis start. Kami bergerak di sepanjang bibir pantai menuju arah timur, dari Depok ke Parangtritis. Aku sengaja berlari di rombongan depan agar tidak banyak kehilangan waktu selagi masih berada di jalur pasir yang relatif gampang ini. Aku sendiri sudah memerkirakan bakal melambat dan didahului peserta lain saat masuk jalur tanjakan nanti.

Selepas 5 kilometer pertama, rute berbelok ke kiri atau kearah utara. Dari jalur pasir berganti ke jalan tanah berbatu yang menanjak di bukit sebelah utara Parangtritis. Aku mencoba mengatur nafas, tarik nafas 1 kali dan buang nafas 2 kali. Huuhh, hahh haahhh!!!. Benar saja, teknik ini cukup berhasil untuk tidak kehabisan tenaga saat berlari (meskipun aku lebih sering berjalan) di tanjakan. Dan beberapa peserta lain mulai mendahuluiku.

Sampai di checking point pertama pada kilometer ke-7. Hari masih gelap, dan para peserta beristirahat sejenak sambil minum air yang disediakan. Beberapa potong semangka dan sebotol air aku nikmati. Lalu aku melanjutkan berlari dan tak mau berlama-lama berhenti, mencoba mendahului peserta lain yang nantinya aku yakin merek akan mendahuluiku kembali.

Jalur tanjakan masih harus dilalui pagi itu. Hari mulai terang dan langit cerah berawan. Aku melepas jas hujan dan menikmati jalur perbukitan di kawasan selatan Yogyakarta itu. Beberapa aku kali berhenti untuk memotret pemandangan dan berselfie, seperti yang juga dilakukan peserta lainnya. Lalu berlari atau berjalan saat melewati jalan tanah yang licin dan basah setelah diguyur hujan.

Jam 6.40 aku tiba di check point kedua di kilometer ke-14 di Gua Jepang, kesempatan untuk minum dan beristirahat sejenak. Aku mencoba melihat catatan panitia, ternyata aku sudah berada di urutan 150-an dari para peserta yang mencapai check point ini. Pemandangan di tempat ini cukup indah. Dari atas bukit dengan beberapa gua atau lubang persembunyian yang dibangun pada masa penjajahan Jepang ini, aku bisa melihat hijaunya hamparan pepohonan dan juga laut selatan di ujung sana. Tak mau berlama-lama, aku melanjutkan lomba dan meninggalkan peserta lainnya.

Aku mulai merasa nyeri di bagian pangkal paha kiri selepas checking point kedua. Mau tak mau aku lebih sering berjalan daripada berlari, apalagi jalur yang dilewati kebanyakan berupa jalan setapak yang tak lebih dari 50 senti meter lebarnya melintasi ladang milik penduduk atau hutan. Lalu saat berganti dengan jalan aspal yang lebar, aku mencoba berlari sebisanya agar tidak terlalu banyak kehilangan waktu. Entah sudah berapa kali peserta lain yang aku tinggalkan di checking point kedua kembali mendahuluiku.

Beberapa kali aku sempat ngobrol dengan peserta lain. Bagi kami yang sudah berada di urutan kesekian, menikmati jalur perlombaan dan menjalin pertemanan adalah lebih penting daripada berlari mengejar juara. Sebisa mungkin menyelesaikan lomba hingga garis akhir, dan syukur kalau bisa mencapainya sebelum batas waktu yang ditetapkan. Namun tak jarang aku berlari seorang diri karena tertinggal peserta lain. Aku pun mencoba menguatkan diri dengan berbincang dengan adikku, seolah-olah dia berada di sampingku. Atau mengingat masa-masa indah kami berdua sewaktu kecil dulu.

Tiba di checking poin ketiga pada kilometer 21, aku melihat banyak peserta yang beristirahat di sini. Aku tak mau berlama-lama di tempat ini, dan segera melanjutkan lomba meningalkan mereka. Empat kilometer terakhir adalah jalur yang relatif landai dan tidak lagi melewati perbukitan. Namun bukan berarti akan mudah untuk menyelesaikan lomba.

Gumuk pasir (bukit pasir) adalah medan yang harus dilalui. Meski baru jam 9 pagi, panas matahari terasa menyengat. Satu botol air yang aku bawa dari checking point ketiga tadi sudah habis isinya, sementara nyeri di paha kiri juga cukup membuatku kesulitan untuk berlari. Kondisi ini hampir membuatku menyerah dan berhenti melanjutkan lomba. Dengan sisa-sisa tenaga, aku bisa melewati gumuk pasir ini dan masuk ke pantai Depok, dan akhirnya mencapai finish dalam waktu 6 jam 13 menit.

Hujan mengguyur Parangtritis sejak pagi. Hari Senin itu adalah hari terakhirku di Yogyakarta sebelum kembali ke Tangerang nanti sore. Aku bermalas-malasan saja di kamar hotel sambil menunggu hujan reda. Pegal di kedua kaki juga masih terasa. Jam 1 siang lewat hujan reda dan aku meninggalkan hotel dengan bersepeda motor.

Tiga puluh menit bersepeda motor, aku pun tiba di tempat yang aku tuju di Jl Parangtritis KM 15. Dari dalam ransel, aku keluarkan medali finisher yang aku peroleh saat lomba kemarin. Karena dari awal aku sudah berjanji bahwa lomba lari kemarin adalah untuk adikku, maka kini saatnya aku berikan medali itu untuknya.

Perlahan aku mendekati peristirahatan adikku. Rangkaian bunga krisan ada disitu, dari keluarga di Bantul yang kemarin datang berkunjung. Bunga-bunga berwarna putih itu terlihat masih segar dan indah, meski agak kotor karena terkena hujan. Aku bersihkan patok kayu berpelitur warna coklat itu, membaca huruf demi huruf yang terpahat di atasnya. Dan ku kalungkan medali itu, medali untuk adikku. Aku bangga bisa menyelesaikan lomba untuknya.

We love you. Always love you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *