Destinasi

Semalam di Baduy

Semalam di Baduy

30 menit lewat dari jam 12 siang ketika saya menepi di gerbang selamat datang di kota Rangkas Bitung. Artinya saya telah menempuh waktu selama 90 menit sejak keberangkatan dari tempat tinggal saya di Cikupa, Tangerang. Dari deretan angka digital yang ditunjukkan oleh odometer sepeda motor yang saya kendarai, perjalanan telah memakan jarak sekitar 50 kilometer. Setelah melepas dahaga dengan meminum beberapa teguk air mineral, saya melanjutkan perjalanan dari kota Rangkas menuju ke arah selatan, tepatnya ke Ciboleger.

Beruntung cuaca sedang bersahabat siang itu, cerah berawan. Jalan yang sebelumnya relatif datar berubah menjadi tanjakan dan turunan menuju Ciboleger. Sepeda motor yang hampir berusia 10 tahun masih bisa mengimbangi kondisi medan. Namun ketika harus mendaki tanjakan terakhir, sepeda motor mogok. Beruntung saya sudah berada di ujung tanjakan dan tak jauh dari situ ada bengkel. Beberapa belas menit ditangani oleh sang montir, sepeda motor pun bisa berjalan normal kembali setelah diganti businya.

500 meter dari bengkel, saya tiba di Terminal Ciboleger hampir jam 3 sore. Saya menuju salah satu kios cinderamata dan melihat seorang pria yang berada di depan kios itu. Setelah saya utarakan maksud kedatangan saya, pria yang bernama Kang Uha tersebut menawarkan diri menjadi guide untuk datang ke Baduy Dalam. Sebuah harga kami sepakati, dan perjalanan ke Baduy dilanjutkan dengan berjalan kaki. Terminal Ciboleger adalah batas terakhir pengunjung bisa menggunakan kendaraan. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki untuk memasuki perkampungan Baduy.

Rupanya ada satu orang lagi yang menemani perjalanan saya, sayang saya lupa namanya. Jadi saya agak heran karena ada dua guide yang memandu satu pengunjung. Namun tak apalah, saya tak terlalu memusingkan hal tersebut. Kami bertiga pun segera berjalan menuju Baduy Dalam. Kang Uha berjalan di depan, sementara temannya berada paling belakang. Mengingat waktu yang sudah sore, kami menempuh jalan potong menuju Baduy Dalam.

Jika rute biasanya menempuh jarak 12-13 kilometer dengan melewati perkampungan Baduy Luar, kali ini kami menempuh rute 9 kilometer untuk menuju Desa Cibeo di Baduy Dalam. Meski rutenya lebih pendek, medan yang kami lewati lebih berat karena harus menanjaki beberapa bukit yang cukup melelahkan untuk ukuran saya. Beberapa kali kami berhenti agar saya bisa mengatur nafas dan minum. Mengingat langit mulai gelap karena memang beranjak petang dan juga mendung, kami tak bisa beristirahat terlalu lama. Beberapa kali terdengar suara guntur di langit, dan tentunya sungguh tidak enak jika kemalaman dan kehujanan di hutan sebelum sampai di Cibeo. Sebuah jembatan bambu terakhir yang kami lintasi mengakhiri perjalanan dan kami pun tiba di Cibeo.

Baca juga: Wisata Museum, Menapak Tilas Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Hampir jam 6 sore dan kami menuju salah satu rumah untuk menginap, tepat di dekat jembatan yang kami lewati sebelumnya. Seorang ibu menyambut kami. Kang Uha berbicara dengan ibu tersebut dalam Bahasa Sunda, lalu menyerahkan beberapa bungkus mie instan dan satu kaleng kecil sarden kepada ibu tersebut untuk menyiapkan makan malam. Sementara makanan disiapkan, saya duduk di beranda rumah. Kang Uha menyapa beberapa anak kecil yang ada di dekat kami. Mata saya mengamati sekitar, beberapa wanita sedang duduk di teras rumah-rumah yang lain. Kaum pria Desa Cibeo masih ada di ladang. Rumah di Baduy Dalam berbentuk panggung, dengan jarak panggung dari permukaan tanah sekitar 30 cm. Rangka rumah terbuat dari kayu, dinding dari anyaman bambu dan atap dari sejenis daun sagu. Pintu rumah hanya ada di depan saja,  tidak ada pintu belakang.

Beberapa waktu kemudian, makanan siap. Kami bertiga masuk ke dalam rumah yang remang-remang diterangi lampu minyak. Rumah tersebut saya perkirakan berukuran 8 x 8 meter. Tak banyak ruangan di bagian dalam rumah. Seperempat bagian di kiri-belakang ruangan ada sebuah kamar tidur utama sekaligus dapur, sementara tiga perempat sisanya menyatu membentuk ruangan besar.  Di ruangan besar tersebut, tepatnya di kanan-belakang saya melihat sebuah tungku. Ini artinya rumah tersebut ditinggali oleh dua keluarga.

Selesai makan malam, beberapa orang mulai masuk dan berbincang-bincang dengan kami. Setidaknya ada satu wanita (selain si ibu pemilik rumah) dan lima pria Baduy yang baru pulang dari ladang ikut bergabung di situ. Dua anak kecil ada di antara mereka. Selain tuan rumah, para tetangga biasanya ikut berbincang-bincang dengan tamu yang berkunjung ke Baduy Dalam. Saya lebih banyak diam dan mendengarkan perbincangan tersebut, karena tak mengerti bahasanya. Namun sesekali Kang Uha menerangkan kepada saya.

Perbincangan ngalor-ngidul terjadi, mulai dari upacara pernikahan yang baru saja diadakan di Cibeo pagi tadi (sungguh sayang saya tak datang lebih awal untuk menyaksikan acara ini), atau cerita bagaimana warga mengambil madu dari hutan. Meski disengat oleh tawon odeng, penduduk Baduy hanya merasakan sakit beberapa saat saja tidak seperti orang kebanyakan yang bisa berhari-hari merasakan nyeri akibat sengatan tawon. Saya jadi ingat sarang tawon di pohon belimbing di halaman rumah saya. Sampai hari ini saya tak berani mengenyahkan sarang tersebut, meski saya tahu keberadaannya bisa membahayakan anak-anak tetangga yang kerap bermain di jalan depan rumah.

Hujan deras disertai petir turun saat kami asyik ngobrol. Sesekali saya mengambil beberapa buah pisang dan menyeruput kopi hitam yang dihidangkan dalam wadah yang terbuat dari bambu. Mulai malam, beberapa orang keluar meninggalkan rumah. Tinggalah kami bertiga sebagai tamu, dan juga tiga penghuni rumah (Pak Aldi, istrinya dan adik lelakinya) di situ. Selain bisa berbahasa Sunda, rupanya Pak Aldi bisa juga berbahasa Indonesia. Saya kemudian merebahkan badan di atas lantai kayu yang hanya dialasi tikar anyam yang tipis, sementara Kang Uha dan temannya masih berbincang dengan pemilik rumah. Dan percakapan mereka menyayup di telinga saya, hingga akhirnya saya tertidur di malam yang cukup dingin.

Pagi mulai terang ketika saya terbangun. Saya, Kang Uha dan temannya pergi ke pancuran di dekat sungai di belakang rumah untuk mandi. Kang Uha mandi di pancuran yang terbuka sementara temannya hanya mencuci muka. Sedangkan saya mandi di pancuran yang ada beberapa meter dari tempat tersebut, yang tertutup oleh selembar dinding bambu.  Setelah selesai membersihkan badan, kami berjalan kembali ke rumah. Kami bertemu beberapa penduduk, pria dan wanita, tua dan muda, bahkan anak-anak sedang berangkat menuju ladang.

Selesai sarapan, jam 7 pagi kami berpamitan pulang. Rute yang kami lalui berbeda saat kami berangkat kemarin sore. Kami berangkat dari rumah Pak Aldi yang berada di pinggir Desa Cibeo (di ujung timur) dan berjalan melewati rumah-rumah di Cibeo, hingga akhirnya keluar dari ujung barat desa tersebut. Ada 190 rumah, demikian kata Kang Uha, yang terdapat di Cibeo. Dari ujung barat, kami melintasi jembatan bambu yang lain (berbeda dari saat kami datang) dan selanjutnya perjalanan pulang melalui hutan, bukit atau ladang penduduk.

Beberapa kali kami lihat hutan yang telah dibuka oleh penduduk untuk dijadikan ladang. Beberapa pohon sengon yang tumbang dibiarkan tergeletak begitu saja di tanah. Menurut Kang Uha, penduduk Baduy Dalam dilarang menjual kayu ke luar. Kayu-kayu sengon tersebut paling hanya dipakai untuk kayu bakar, sedangkan untuk pembuatan rumah menggunakan kayu hutan yang lebih keras. Pernah ada kejadian seorang warga Baduy Dalam menjual kayu ke luar. Setelah ketahuan, ia dan keluarganya dikeluarkan dari Baduy Dalam.

Dalam perjalanan kami beberapa kali berpapasan dengan warga. Kami sempat melewati beberapa kampung di Baduy Luar dan menyaksikan aktivitas warga pagi itu. Beberapa wanita sedang menenun di teras panggung rumah. Dua wanita yang saya lihat saat itu sedang menenun sebuah selendang kecil. Tilu poe, atau tiga hari, demikian kata salah satu wanita tersebut untuk menyelesaikan sebuah tenunan selendang kecil.

Di kampung lain di Baduy Luar, kami singgah di sebuah rumah karena kami mendengar suara tetabuhan gamelan. Kami masuk ke dalam, rupanya anak-anak yang sedang memainkan gamelan tersebut. Beberapa saat lamanya kami menikmati anak-anak itu bermain gambang, bonang atau gong.

Bahkan akhirnya saya juga ikut bergabung dalam keceriaan tersebut dengan memainkan salah satu alat. Tak penting apakah saya memainkan dengan benar atau tidak, namun bagi saya permainan kami seperti sebuah orkestra terindah yang pernah ada.

Melanjutkan perjalanan kembali melewati bukit , sungai dan hutan, kami tiba di Gajebo. Sebuah jembatan bambu menghubungkan perumahan penduduk Kampung Gajebo dengan lumbung-lumbung padi di seberang sungai. Kampung Gajebo di Baduy Luar ini paling terkenal sebagai tempat bermalam bagi pengunjung, termasuk pengunjung asing. Memang ada ketentuan bahwa orang berkulit putih (bule dan oriental) hanya diperkenankan berkunjung sampai Baduy Luar saja.

Selepas dari Gajebo, masih ada beberapa kampung lainnya yang kami lewati. Hingga akhirnya kami tiba kembali di Ciboleger sekitar jam 11 siang, dan menjadi akhir kunjungan saya ke Baduy. Sebuah pengalaman yang luar biasa berharga, dimana saya bisa menyaksikan warga yang bertahan dengan tradisi nenek moyang tanpa terpengaruh oleh perkembangan dunia luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *