Pustaka

Srimulat dari Pentas Keliling ke Televisi

Buku Srimulat, perjalanan dari pentas keliling ke televisi

Srimulat, sebuah grup lawak terbesar yang telah menghibur penggemarnya dari generasi ke generasi. Nama legenda seperti Gepeng, Timbul, Asmuni, dan lainnya abadi dalam kenangan penikmat komedi di Indonesia. Kisah kelucuan grup ini ditulis di buku Srimulat: Aneh yang Lucu dan Srimulat: Era Televisi.

Buku Srimulat: Aneh yang Lucu dan Srimulat: Era Televisi ditulis oleh Sony Set dan Agung Pewe, meramu cerita perjalanan dan dokumentasi grup lawak Srimulat. Betapa Srimulat telah menjadi wacana besar yang mengiringi hidup dua atau tiga generasi negeri ini, memberikan tawa, canda, komedi segar yang menghibur sekaligus menyenangkan.

Cerita indah, unik, konyol, absurd, sedih dan senang dihimpun dalam buku terbitan Metagraf ini. Rangkuman sederhana dari hasil riset dan wawancara dikumpulkan, yang akan membawa pembaca menyelami sisi terdalam dari Srimulat.

Raden Ayu Srimulat

Srimulat didirikan oleh Pak Teguh Slamet Rahardjo dan Ibu Srimulat. Jadi, nama grup Srimulat sendiri diambil dari nama Ibu Srimulat. Mulanya, grup ini hanya berupa kelompok pertunjukan keliling rakyat dengan nama Gema Malam Srimulat.

Kisah tentang Ibu Srimulat, yang bernama asli R. A. Simulat tertulis di bagian awal buku. Ia lahir pada 7 Mei 1908 di Botokan, Ketandan, Klaten. Ayahnya bernama Raden Mas Tjitrosoma dan ibunya bernama Raden Ayu Sedah. Srimulat sendiri dalam bahasa Jawa berasal dari gabungan kata ‘sri’ yang artinya keindahan atau kecantikan, dan ‘mulat’ yang artinya memandang atau menyaksikan.

Srimulat kecil harus ditinggal ibunda untuk selamanya saat berusia 4 tahun. Ia kemudian diasuh oleh R. M. Sunarjo, kakak dari ayahandanya. Srimulat menempuh pendidikan di HIS (setingkat SD) dan melanjutkan ke Koningin Ema School. Namun jalur pendidikan Srimulat harus terhenti karena mendapat hambatan dari ibu tirinya. Srimulat pun masuk ke masa dipingit.

Dalam masa pingitan, ia terus belajar dan berusaha mendapatkan pendidikan informal. Srimulat berguru kepada abdi dalem keluarga di Kawedanan Bekonang, tempat ayahnya memimpin. Karena kecerdasannya, ia bahkan berhasil menguasai bahasa Belanda.

Pada usia 15 tahun, Srimulat menikah dengan Raden Hardjosoewito dan dikarunia seorang anak. Nasib buruk menimpa, suami dan sang bayi meninggal dunia dalam waktu 2,5 tahun usai pernikahan, dan Srimulat menjanda. Srimulat merasa tembok Kawedanan Bekonang hanya mengurungnya dalam kesedihan. Ia pun melarikan diri, sebuah rencana luar biasa dari seorang putri yang biasa hidup berkecukupan di istana.

Ke Yogyakarta

Srimulat kemudian mencapai Yogyakarta dan mulai hidup mandiri. Bekalnya habis, dan ia terlunta-lunta dalam kesendirian. Dikisahkan kemudian, Srimulat bergabung menjadi anggota pertunjukan wayang kulit Tjermosugondo dan pindah ke grup kethoprak Tjandra Ndedari. Tercatat Srimulat beberapa kali berganti grup kesenian dan belajar banyak hal: menyanyi, penata acara, pembawa acara, hingga kemampuan public speaking di hadapan ribuan orang pada setiap pertunjukan. Di usia 28 tahun, Srimulat menjadi biduanita terkenal di seantero Pulau Jawa. Ia bisa menyanyikan lagu Jawa dan keroncong dengan suara khas.

Di era pendudukan Jepang, karir Srimulat tetap bagus. Ia bahkan berhasil menguasai bahasa Jepang. Srimulat banyak menjumpai kebidaban tentara Jepang dengan memaksa rakyat menjadi romusha, atau para wanita yang dipaksa menjadi jugun ianfu. Tindakan Jepang ini membuat Srimulat memberontak, dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di setiap pentas keliling.

Tahun 1950, R. A. Srimulat dalam usia 42 tahun menikah dengan Kho Tjien Tiong alias Teguh Slamet Rahardjo yang usianya 24 tahun. Saat acara perkawinan itu mereka membentuk kelompok kesenian dengan nama Gema Malam Srimulat.

Perjalanan Kelompok Srimulat

Gema Malam Srimulat pada awalnya menampilkan lawak dan menyanyi, terutama langgam Jawa dan keroncong. Teguh memainkan gitar dan biola untuk mengiringi para biduanita. Taman Sriwedari di Solo menjadi panggung pementasannya saat itu. Masuknya unsur dagelan Mataram kemudian mengubah blueprint lawakan Srimulat. Dagelan ini dipertunjukan di awal dan akhir pentas.

Setelah berubah nama menjadi Aneka Ria Srimulat, kelompok ini mengadakan pentas keliling kota mengunjungi pasar malam dan pusat keramaian. Pementasan keliling itu dilakukan di Jember, Malang, Blitar, Madiun, Semarang, Pati, Kudus, Pekalongan, hingga beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan. Pengaruh dagelan Mataram kemudian membuat porsi lawakan menjadi lebih dominan daripada porsi menyanyi.

Srimulat kemudian mendapat pengaruh dari ludruk Jawa Timur dan kethoprak. Beberapa seniman ludruk bergabung, seperti Kadir Mubarak dan Nurbuat. Sementara seniman kethoprak misalnya Bendot dan Timbul. Perpaduan ini menghasilkan gaya komedian tradisional-moderen yang kelak dikembangkan oleh Srimulat.

Tahun 1963, Aneka Ria Srimulat menetap di Surabaya dan menjadi pengisi tetap Taman Hiburan Rakyat. Personil dari Solo hijrah ke Surabaya. Kepindahan ke Surabaya ini membuat banyak tambahan anggota, misalnya Budi SR yang gemar membawakan lagu barat, dan A. Rafiq (penyanyi dangdut).

Masa Menegangkan

Ibu Srimulat sangatlah dekat dengan tentara Indonesia. Ia sering bertukar pikiran dan mendapatkan infomasi valid kondisi negara terkini. Tahun 1964, PKI melalui LEKRA melakukan strategi penggalangan massa lewat unsur budaya dan seni rakyat. PKI memaksa grup kesenian untuk bergabung. Namun, Pak Teguh dan Ibu Srimulat menolak untuk bergabung dan hal ini dianggap oleh PKI sebagai pembangkangan.

Pak Teguh dan Ibu Srimulat merasa jengkel dengan ulah politikus PKI yang memaksa Srimulat bergabung ke LEKRA. Pemimpin Srimulat tersebut menilai, proses berkesenian tidak bisa diatur dengan politik. Mereka kemudian menceritakan masalah ini ke perwira CPM bernama Santoso yang kemudian menyampaikan keluhan tersebut ke Panglima KODAM VII Brawijaya, Mayjen Basuki Rahmat. Respon positif diperoleh, sejak saat itu pertunjukan Aneka Ria Srimulat selalu dijaga tentara.

Dua tahun di Surabaya, Pak Teguh kangen ingin pulang ke Solo. Namun niat itu dicegah Ibu Srimulat. “Sebentar lagi ada ontran-ontran, Pak Jendral meminta kita berhati-hati. Sebaiknya kita tidak pulang dulu ke Solo,” kata Ibu Srimulat.

Menjelang peristiwa 1965, Ibu Srimulat meminta seniman Solo hijrah secepatnya ke Surabaya. Selain itu, Ibu Srimulat juga mempersiapkan proses pemindahan para seniman Solo dan Jakarta untuk hijrah ke Surabaya, sebelum meletus G 30 S/PKI. Efek pemberontakan PKI merembet luas hingga Solo. Banyak seniman tewas dan terjebak dalam pergolakan politik. Rombongan besar Srimulat terhindar dari pembantaian massal.

Hijrah ke Jakarta dan Pentas di TVRI

Tanggal 1 Desember 1968, Ibu Srimulat meninggal dunia karena sakit. Pak Teguh seolah kehilangan penyemangat hidup. Namun ia segera bangkit. Tahun 1971, Pak Teguh menikah dengan Ibu Djudjuk Djuwariyah yang kemudian menjadi sri panggung pengganti almarhumah Ibu Srimulat.

Grup Srimulat kemudian pindah ke Jakarta. Taman Ismail Marzuki menjadi panggung pentas bagi Srimulat. Pak Teguh mempersiapkan naskah-nasah cerita, lengkap dengan pasukan pemusik dan vokalis. Pertunjukan perdana di TIM sukses besar. Para penonton terhibur oleh lawakan Srimulat. Pak Teguh sendiri ikut memainkan biola Stradivarius miliknya, yang hanya ada 3 buah di Indonesia. Biola buatan abad 17-18 ini di Indonesia dimiliki oleh Gereja San Antonius-Van Lith di Muntilan, Gereja Khatedral Jakarta, dan Pak Teguh.

Sempat diwarnai oleh beberapa personilnya yang keluar, grup Srimulat terus melanjutkan pejalanannya. Bergabungnya pecahan anggota Lokaria ke Srimulat, seperti Tessy, Paul, atau Tarzan, membuat Srimulat semakin terkenal.

 Tahun 1981, Srimulat tampil di TVRI dan membuat Srimulat disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Celetukan pelawak Gepeng ‘Untung Ada Saya’ menjadi fenomena dan buah bibir saat itu. Gepeng dengan suara cempreng dan sikap lugu membuat penonton tergila-gila.

Setelah melewati masa keemasan, Srimulat membubarkan diri di tahun 1989. Gaya lawakan Srimulat kemudian menjadi pakem bagi grup lawak baru di Indonesia

Reuni Srimulat

Setelah Srimulat membubarkan diri, Pak Teguh kembali ke Solo bersama istrinya, Djudjuk Djuwariyah. Sementara komedian lain terus memutar otak untuk tetap eksis di dunia hiburan. Kadir dan Doyok banyak mendapat job sinetron dan layar lebar. Basuki, Timbul dan Kadir tampil di televisi dalam kethoprak humor. Basuki juga ketiban rezeki saat tampil sebagai Mas Karyo di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Tahun 1995, Gogon  punya ide membuat reuni Srimulat. Ia bertemu dengan Haji Samadikun dan menceritakan rencananya itu. Ternyata, Haji Samadikun mau membiayai reuni tersebut, dan mengeluarkan uang muka untuk sewa gedung. Gogon segera menghubungi teman-teman Srimulat. Namun, seminggu sebelum pelaksanaan, Haji Samadikun meninggal dunia.

Tak lama kemudian, ada sebuah rumah produksi menawari pembuatan tayangan Srimulat di TPI. Namun karena perbedaan pandangan terhadap manajemen produksi, proyek ini mandek. Kadir kemudian menghubungi Indosiar, yang ternyata tertarik untuk mengambil alih tayangan Srimulat.

Dengan fasilitas dari Pak Agum Gumelar, Srimulat mulai pentas keliling. Pada pentas tanggal 6 Oktober 1996 di Yogyakarta, Srimulat tampil dalam formasi lengkap. Para pemain menunjukan penampilan terbaik. Dan hari itu sejarah mencatat, Gogon memperkenalkan gaya melipat tangannya yang khas di depan publik. Padahal saat itu Srimulat tengah dirundung duka karena meninggal dunianya Pak Teguh Slamet Rahardjo pada 22 September 1996 dalam usia 70 tahun.

Pada masa Srimulat masuk ke Indosiar, pemain Srimulat mencapai tingkat kesuksesan secara materi. Pada masa 1996-2003, pemain Srimulat hidup dari satu bandara ke bandara lain, berpindah dari hotel ke hotel, dari kota ke kota.

Personil Srimulat masih tampil di layar kaca di berbagai stasiun. Misalnya Srimulat 3G di Indosiar(2006), dan Srimulat Cari Bakat di ANTV (2011), sebuah ajang pencarian bibit-bibit Srimulat junior.

Buku Srimulat karya Sony Set dan Agung Pewe ini hadir dalam sebuah trilogi. Selain Srimulat: Aneh yang Lucu dan Srimulat: Era Televisi, ada buku ketiga yang sayangnya belum saya miliki.

Baca juga: Buku CID, Memahami Makna CSR

35 thoughts on “Srimulat dari Pentas Keliling ke Televisi”

  1. Serasa mengenang masa kecil. Saya berarti termasuk bagian sejarah bisa melihat Gepeng, Timbul, Asmuni. Haha ketauan banget angkatannya. Tapi hiburan komedi dulu memang legendaris nggak kayak sekarang. Ria Jenaka juga termasuk kesukaan saya.
    Dan saya baru tahu kalau Srimulat itu nama pendirinya.

    1. Menarik! Nama srimulat ini swperi menyatu dengan kata lawak. Seni lawak? Ya Srimulat. Legend deh menurut saya. Sampai sekarang beberapa personel masih eksis dan jaya secara solo karier. Kerennya lagi, asal mula Srimulat itu dari Solo, kota dimana saya tinggal. Hehe

  2. Aku kangen dengan tayangan dan komedi mereka, bahkan dulu saat hari raya hampir seharian ada tayangan srimulat.

  3. Wah salah satu acara hiburan yang ditunggu waktu masih kecil nih. Nonton sekeluarga, ketawa bareng. Srimulat menjadi teman dalam menghangatkan keluarga kami. Kalau sekarang nonton tv bareng, ortu saya maunya dangdut academy. Srimulat adalah acara legend yang tak tergantikan.

  4. Wah, ternyata grup lawak Srimulat bermula dari kisah hidup Raden Ayu Srimulat ya. Sungguh sejarah yang panjang dari grup lawak legendaris di Indonesia

  5. Perjalanan yang panjang dari Grup Srimulat. Ternyata awalnya seorang perempuan yang ingin mencari kebebasan dan hidup mandiri. Lama kelamaan mampu menciptakan kesenian yang memukau. Hingga ajal menjemput, tetap Grup Srimulat dilestarikan.

    Semoga almh. Ibu Srimulat mendatakan tempat yang baik di alam sana.

  6. baru tahu sejarah srimulat, baca sambil mengenang dulu masih kecil suka nonton srimulat bareng keluarga, tv dulu cuma ada tvri sampai akhirnya banyak channel

  7. Saya sejak kecil suka sekali menonton Srimulat di TVRI, Mas. Lalu kemudian eksis lagi di Indosiar. itu kalau pas lebaran, puas nonton srimulat di Indosiar.

    Tapi saya baru tau sejarah Srimulat ini. Saya taunya memang pemimpinnya Pak Teguh dan Bu Djudjuk. Tapi tidak pernah tau soal Ibu Srimulat. Menarik sekali ulasannya, Mas.

  8. Aku masih ingat sama semua pemain srimulat terutama tessy,soalnya kocak banget. Kalau dulu emang sering tayang di TVRI sebelum adanya channel baru seperti sekarang ini.

    Acaranya menghibur banget tapi nggak tau sejarahnya terbentuk srimulat ini gimana, ulasan mba mengingatkan srimulat beberapa tahun silam saat masih tenar di TVRI

  9. Baca tulisan ini jadi ke inget tayangan srimulat di TVRI terus Nontonnya sama si Mbah yang suka banget sama Srimulat.

  10. Anak 90-an pasti akrab banget sama srimulat dan lakon lucu nya. Tiap kali sumpek dan perlu hiburan, ya pasti cari gogon dan teman-temannya. Untungnya saat itu udah punya tv sendiri. Jadi bisa nonton sampai puas

  11. Membaca tulisan ini seperti sedang bernostalgia. Masa kecil hingga remaja saya suka nonton srimulat ini dan rasanya sangat terhibur. Baru tahu sejarah detilnya pas baca di sini. Srimulat emang salah satu ikon komedi nasional paling kece ya.. meski udah banyak personal yang meninggal tapi lawakannya masih banyak dipake

  12. Baru tahu kalau ternyata Srimulat ini ada dari zaman penjajahan. Sayangnya, sekarang jarang banget ditayangin Srimulat, padahal generasi muda harus tahu ini

  13. Perjalanan yang jauh dan panjang yaa mas, tapi emang penghibur banget sih Srimulat ini. Menghibur tanpa harus menjatuhkan orang lain “saat melawak” hehe. Iyaa sekarang udah agak jarang liat di TV yaah 🙁

  14. Ya ampun, aku merasa nostalgia. Srimulat ini tontonanku sejak kecil. Kebetulan aku sama Mbah paling hobi nonton dagelan, jadi cocok banget kalau udah nonton berdua. Dan baru sekarang aku tahu perjalanan Srimulat hingga personil yang kemudian merambah layar sinetron. Ternyata prosesnya panjang dan benar-benar penuh warna. Menarik!

  15. Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Saya ikut tegang pas baca perdebatan Ibu Srimulat dan politikus PKI. Ya ampun betapa terjal juga perjalanan Srimulat yang bisa sampai di tahap sekarang 🙂
    Jadi melambung ke masa kecil, kalau lebaran atau malam tahun baru saya sering menyaksikan Srimulat di TVRI ngumpul bareng keluarga, sambil tiduran di tikar rame2.

  16. Srimulat itu legend buat perlawakan Indonesia ya. Lucu aja dan engga main fisik. Gaya lawaknya sering ditiru oleh pelawak masa kini. Aku ingetnya bu Jujuk itu dengan kebayanya yg rapi banged-nged.
    Makasih kisah sejarahnya jadi tahu asal-usul kata Srimulat.

  17. Ternyata sejarah lahirnya Srimulat panjang ya mas. Bahkan sudah ada sebelum negeri ini merdeka. Salut sama perjuangannya bu Srimulat, suaminya dan akhirnya diteruskan oleh personil lainnya. Soalnya aku tahunya Srimulat tuh yang tampil, Kadir dan Doyok hehehe.

  18. Srimulat tetap komedi legend yg banyak melahirkan komedi yg cemerlang menghina diri sendiri untuk membuat lelucon, karena komedi bagi saya adalah tidak perlu menghina orang lain hanya karena ingin tetap lucu

  19. Nunung gak disebut-sebut di bukunya ya, Kak?

    Saya masih ingat Ibu Djudjuk. Tahun 80-an sering.nonton Srimulat di TV.

    Luar biasa ya perjalanan panjang Srimulat. Ternyata di balik kesuksesan para personilnya ada kisah perjuangan Ibu Srimulat dan Pak Teguh. Sampai menolak dipaksa bergabung dengan PKI. Luar biasa.

  20. Perjalanan Srimulat panjang bangettt .. kisahnya naik turun bak rollercoaster….kehidupan para anggotanya juga.

    Masih inget jaman kecil suka bgt ntn Gogon dkk melawak di tv.. skrg udah pada menuaa

  21. Wow.. Wow.. Wow

    Sebagai generasi jadul, baca tulisan ini seperti memutar ulang kisah lama

    Saya nonton srimulat sejak televisi masih hitam putih dan anehnya gak pernah bosan 😀😀😀

  22. Sejarahnya panjang sekali. Mas Sam mengulasnya dengan sangat lengkap. Saya selama ini tahunya srimulat hanya grup lawak toh. Ternyata srimulat memberi sumbangsih besar dalam dunia kesenian di Indonesia ya. terimakasih mas atas tulisannya.

  23. Aku baru tahu sejarahnya Srimulat, ternyata penuh perjuangan juga ya. Srimulat benar-benar bertangan dingin, banyak menelurkan komedian ternama di negeri ini.

  24. Saya baru tahu sejarah Srimulat panjang dan berliku ya. Jebolannya banyak yang sukses di industry hiburan Indonesia, berkat Ibu Srimulat juga

  25. Makasih mas, sudah mengedukasi saya yang tidak tahu sejarah Srimulat yang legenda ini.
    Perjuangannya bikin saya sedih.

    Saya berharap ada yang meneruskan jejak Srimulat ini di Indonesia

  26. Itu Ibu Sri Mulat lahir di daerah kecamatan tempat saya tinggal
    Makanya saya bisa kenal betul, dan saya juga pengagum Srimulat
    Dulu masih era kaset pita, saya punya
    Tapi yang lucu kala itu adalah tokoh si Gepeng
    Saya jadi ingin beli bukunya

  27. Dibalik lelucon dan gelak tawa yang dihasilkan ternyata banyak kisah sedih yang merundung Srimulat. Saya malah baru tahu kalau sejarah Srimulat sehebat ini.

  28. Aku suka nonton Srimulat di THR Surabaya… suka nglempar box rokok ke panggung hihihihi…. makasih sharing sejarah Srimulatnya 🙂

  29. DUlu sering nonton Srimulat dan baru tahu ini bagaimana sejarah Srimulat
    keingat nonton di tivi bareng almarhum mbahku

  30. walaupun berbeda generasi, tapi jika mendengar kata srimulat langsung terfikir ke “Pelawak legend” idk why tapi emg feelnya anggota srimulat saat 1 frame emg berasa bgt lawakannya

  31. Alm Nenekku suka banget lihat Srimulat. Dan aku baru tahu loh ternyata dari pentas keliling, akhirnya tampil di televisi. Sebuah proses yang panjang ya.

  32. Kayaknya sebagian besar yang membaca postingan ini adalah mereka yang baru tahu sejjarah srimulat. Termasuk aku. Cuma bisa bilang wow sekali perjalanan hidup Ibu Srimulat ya. Sampai ke titik balik kehidupannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *