Serba-serbi

Tentang Ibu, dan Hadiah yang Tak Pernah Sampai kepada Beliau

Hari ini adalah Hari Ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember. Banyak kisah dan memori yang selalu hadir jika kita membicarakan salah satu sosok yang paling kita cintai dalam hidup, yaitu ibu, emak, ambu, bunda, mami, mama atau panggilan apapun yang kita gunakan.

Berbahagialah kita yang selalu memiliki kisah kasih dengan ibu. Kisah itu akan selalu abadi, tak terlupa sepanjang nafas kehidupan masih melekat. Kisah yang selalu kita kenang, tentang masa kanak-kanak, remaja, hingga masa dewasa di mana ibu selalu ada bagi anak-anaknya.

Bahkan ketika beliau tiada, betapa kita masih tidak ingin melupakan kisah terindah itu.

**
Lulus SMA di Pati Jawa Tengah dan melanjutkan pendidikan jauh dari kampung halaman, membuat saya tidak mungkin bisa sering bertemu dengan keluarga. Begitu juga ketika mulai bekerja menjadi karyawan, mengambil jatah cuti juga harus diperhitungkan baik-baik

Setahun mungkin hanya satu atau dua kali saja mudik. Mudik biasanya dilakukan saat hari raya dan saat ada kepentingan yang benar-benar urgent, ketika ada kerabat yang menikah, sakit keras, atau meninggal dunia.

Mudik lebaran bagi seseorang yang sudah bekerja berarti harus mempersiapkan dana lebih. Jika pada waktu kecil saya mendapatkan baju baru sebagai hadiah lebaran, maka sekarang sebaliknya. Sayalah sekarang yang memberikan hadiah lebaran bagi keponakan dan orang tua.

Saya tipe orang yang tidak mau repot. Sangat jarang saya membawa oleh-oleh dari tanah rantau saat pulang kampung. Lebih sering saya memberikan hadiah lebaran berupa uang, ataupun kalau berupa barang biasanya saya beli saat sudah tiba di Pati.

Tahun 2010 saya punya rumah sendiri, tidak terlalu besar ukurannya. Halaman depan rumah yang berukuran 3 x 3 meter saya manfaatkan untuk menanam beberapa pohon, salah satunya jeruk. Umur dua tahun jeruk sudah mulai berbuah. Ukuran buahnya sebesar bola bekel dan berwarna kuning cerah. Rasanya masam segar dan cocok untuk dibuat minuman hangat.

Beberapa kali saya memotret jeruk-jeruk itu, lalu mengunggahnya di Facebook. Biasalah, buat pamer di medsos. Jadi teman-teman dan keluarga di Pati bisa melihatnya, termasuk ibu yang mungkin melihatnya melalui akun Facebook adik dan sepupu saya.

Beberapa kali ibu minta dibawain jeruk saat saya mudik. Namun saya enggan, alasannya ya karena saya itu orang yang tidak mau repot. Toh saat mudik saya bisa beli jeruk semacam itu di pasar atau toko buah di Pati.

Tahun 2012/2013 ibu saya mulai sakit-sakitan, ada luka di bagian pencernaan beliau. Beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit di Pati, Kudus, juga Semarang.

Tahun 2014 saya menjadi salah satu pemenang lomba di Kompasiana, dan diganjar ksempatan berkunjung ke salah satu perusahaan tambang di Sumbawa bersama belasan pemenang lainnya. Kabar gembira ini saya sampaikan juga kepada keluarga di Pati.

Ibu minta dibawakan oleh-oleh kain dari Sumbawa. Namun sayang, karena kondisi internal di perusahaan tambang yang akan saya kunjungi, maka kunjungan diundur dari rencana bulan April 2014 sampai waktu yang belum bisa ditentukan saat itu. Jadi permintaan ibu juga belum bisa saya penuhi.

Sekitar pertengahan bulan Juli 2014, dalam salah satu perbincangan lewat telepon yang biasa kami lakukan, saya dan ibu berbicara cukup lama pagi itu. Kami saling bertanya keadaan masing-masing. Saya juga memberi tahu kapan rencana mudik lebaran akhir Juli tersebut. Sebelum percakapan telepon berakhir, Ibu minta dibawakan jeruk saat saya mudik.

Sabtu pagi, 26 Juli 2014 saya memetik belasan butir jeruk di halaman depan. Rencananya mau saya bawa mudik sebagai untuk memenuhi permintaan ibu, yang berkali-kali belum sempat saya penuhi. Sabtu siang saya berangkat dari Tangerang menuju  Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Sekantong kresek jeruk ada bersama beberapa pakaian yang saya masukkan ke ransel.

Sabtu sore pesawat mendarat di Ahmad Yani, Semarang. Saya sempat kesulitan mendapatkan kendaraan dari Semarang, dan akhirnya saya sampai di Pati hampir jam 8 malam. Cukup lama terlambatnya!

Saat saya hampir tiba di rumah, dari jauh saya melihat ada tenda terpasang dan beberapa orang berkumpul. Ada acara apa ya, saya bertanya dalam hati. Pakdhe saya, kakak dari ibu, berdiri dan menghampiri saya saat itu. Pakdhe menepuk pundak saya, “yang sabar ya,” katanya.

Saya berjalan cepat menuju ke rumah. Sebuah peti kayu berada di ruang tamu, dan saya melihat ibu berbaring di dalamnya. Saya duduk di kursi di dekat peti, memandangi wajah ibu yang terdiam dan tersenyum.

Rupanya ibu telah pergi sore itu, setelah beberapa tahun bertahan dari sakit yang diderita. Sengaja saya tidak diberitahu soal berita duka ini, karena memang saya sudah dalam perjalanan pulang. Ibu memilih waktu ‘pulang’ pada hari di mana semua anak-anaknya berkumpul.

Kantong plastik yang berisi jeruk permintaan ibu  saya ambil dari ransel, dan saya masukkan ke kulkas warna biru tua yang ada di dapur. Maafkan aku, Ibu, jika engkau tidak sempat merasakan jeruk yang sudah beberapa kali engkau minta itu.

Januari 2015, saya akhirnya ikut dalam kunjungan ke perusahaan tambang di Sumbawa yang mundur dari rencana sebelumnya. Satu pekan kami belajar dan mengetahui proses yang ada di pertambangan tersebut.

Padi hari terakhir kunjungan, para peserta kunjungan diberikan kesempatan berkunjung ke salah satu pusat oleh-oleh di kota Mataram. Ada beberapa barang yang saya beli, seperti kue-kue khas Lombok, gantungan kunci, kaos, dan tentu saja dua potong kain tradisional yang pernah diminta ibu.

Saya tahu bahwa ibu tidak akan pernah memakai kain itu. Namun saya percaya bahwa ibu tersenyum di surga melihat saya telah memenuhi permintaan beliau. Hingga kini kain itu masih tersimpan rapi di lemari pakaian saya.

Selamat Hari Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *