Victor Matanggaran membangun kampung halaman melalui pendidikan
Edukasi

Victor Matanggaran, Membangun Kampung Halaman Melalui Pendidikan

Pada bulan Oktober 2022 lalu, media berita online memuat kisah pilu 3 bersaudara di Mamuju, Sulawesi Barat. Kakak beradik tersebut terpaksa putus sekolah karena orang tuanya tak mampu membelikan seragam dan pelengkapan sekolah.

Sang ayah sebelumnya mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya kehilangan kedua tangannya. Kondisi ini menjadikannya tak bisa lagi bekerja. Sang ibu pun mengambil alih tanggung jawab sebagai pencari nafkah keluarga.

Namun, penghasilan sang ibu sebagai asisten rumah tangga hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Hingga, ketiga bersaudara tersebut tidak lagi pergi ke sekolah karena seragam sekolahnya lusuh dan robek. Mereka merasa malu dengan teman-teman mereka.

Angka putus sekolah di provinsi Sulawesi Barat cukup tinggi. Pada tahun 2022 ini, angka putus sekolah anak usia 7-15 tahun totalnya mencapai 12.611 anak. Di mana, sejumlah 2.799 di antaranya berasal dari Kabupaten Mamuju. Penyebab utama putus sekolah ialah faktor kemiskinan. Banyak anak lebih memilih bekerja daripada belajar.

Victor Matanggaran, Terancam Putus Sekolah tapi Tak Kenal Menyerah

Namun, selalu ada setitik asa di tengah kondisi yang tak mengenakkan. Adalah Victor Matanggaran, seorang anak muda yang nyaris putus sekolah tapi tidak mau untuk menyerah. Ia berasal dari keluarga petani sederhana di Kalukku, Mamuju. Di desanya, sebagian besar anak mudanya putus sekolah saat SD dan SMP karena keterbatasan biaya.

Victor tidak mau menyerah terhadap keadaan. Ia yang memiliki kegemaran membaca buku dan media massa, akhirnya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Makassar pada 2011.

Victor memilih ilmu psikologi, suatu bidang studi yang mungkin kurang populer di tempat asalnya. Profesi pegawai negeri, dokter, atau polisi dianggap lebih terhormat di kampung halamannya ketimbang seorang psikolog.

Namun, Victor tetap yakin pada pilihan yang diambilnya. Ia terus tekun belajar, bahkan sukses meraih prestasi di bidang ini. Dalam sebuah Kompetisi Debat Psikologi Pendidikan Nasional di Universitas Negeri Malang pada tahun 2012, Victor berhasil menjadi juara.

Tahun 2015, Victor berhasil lulus sebagai sarjana psikologi Universitas Negeri Makassar dengan predikat cum laude.

Mendapatkan Beasiswa ke Belanda

Pada tahun 2016, Victor Matanggaran berhasil mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia mengambil program Master of Conflict, Risk and Safety Psychology di University of Twente, Belanda.

Bidang yang dipilih Victor ini termasuk disiplin ilmu yang langka. Ilmu ini mempelajari perilaku kriminal yang dibutuhkan oleh dunia riset dan hukum, terutama bagi polisi dalam mengungkap sebuah kasus.

Tahun 2017 Victor berhasil menyelesaikan program pascasarjananya. Banyak hal positif yang Victor pelajari selama di Belanda, misalnya mengenai kedisiplinan dan kerja keras. Ilmu yang dipelajari di Belanda ini, kelak ia aplikasikan saat kembali ke tanah air.

Macanga Institute, Sebuah Kontribusi untuk Membangun Kampung Halaman

Sekembalinya dari Belanda, Victor Matanggaran bertekad membangun kampung halaman. Ia mendirikan Macanga Institute pada tahun 2018. Dalam bahasa Mandar, kata “macanga” ini memiliki arti pintar atau keren.

“Saya mendapatkan beasiswa dari S1 sampai S2. Jadi, saya merasa ada hutang budi yang harus saya bayar di kampung halaman.”

Macanga Instiute lahir dari keresahan Victor akan kualitas sumber daya generasi muda di daerahnya. Banyak dari mereka harus pergi jauh ke kota-kota besar hanya untuk mendapatkan pelatihan pengembangan diri. Itu pun terbatas bagi mereka yang punya uang lebih.

Ada begitu banyak generasi muda daerah yang telah mendapat kesempatan belajar, bahkan hingga ke luar negeri. Mereka seharusnya bisa pulang untuk membagikan ilmu dan pengalamannya kepada sesama pemuda lain di daerahnya.

Melalui Macanga Institute, Victor berupaya mengumpulkan pemuda daerah yang punya pengalaman dan pendidikan yang baik untuk kembali berkontribusi di daerah. Pendidikan dipercaya menjadi salah satu jalan keluar dari kemiskinan dan masalah sosial ekonomi lainnya.

Proyek impian dari Macanga Institute telah berjalan sejak 2018 yang mendorong kaum muda di daerah pedesaan dan terpencil di Sulawesi Barat punya mimpi dan rencana untuk masa depan. Programnya mencakup kelas pengembangan diri, tes bakat, serta pelatihan. Keterampilan yang diajarkan termasuk keterampilan spesifik seperti public speaking, hingga diskusi tentang isu sosial terkini terkait kepemudaan.

Tidak hanya mengunjungi daerah pedesaan, lembaga ini juga turut menebar semangat untuk bertumbuh untuk anak-anak muda di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Mamuju. Melalui program konseling dan kelas kepribadian, Anak Didik Pemasyarakatan diajak untuk memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Atas dedikasinya terhadap pengembangan kualitas generasi muda di daerahnya, Victor Matanggaran menerima Apresiasi SATU Indonesia Award Provinsi 2021 di bidang pendidikan. Apresiasi ini meneguhkan kerja keras Victor melalui Macanga Institute sejak tahun 2018, sekaligus menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan pendidikan masyarakat.

Semoga perjuangan Victor Matanggaran ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda. Teruslah meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan atau literasi, untuk meraih masa depan yang lebih baik. Seperti apa yang dikatakan oleh Kofi Annan (Sekretaris Jenderal PBB periode 1997-2006), literasi adalah jembatan dari kesengsaraan menuju harapan.

***

Referensi:

  1. https://macangainstitute.org/
  2. https://regional.kompas.com/read/2022/10/01/131258578/kisah-pilu-3-bersaudara-di-mamuju-putus-sekolah-karena-tak-mampu-beli
  3. https://sulbar.tribunnews.com/2022/05/17/angka-anak-putus-sekolah-di-sulbar-meningkat-2022-capai-12611-siswa-polman-tertinggi
  4. Akun Instagram @macangainstitute dan @matanggaran
  5. Tanya jawab dengan Victor Matanggaran
Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *