Serba-serbi

Mengenal Kebhinnekaan dan Merawat Toleransi di Sabang Merauke 2019

Hari Jumat (5/7) jam 9 pagi saya berada di Pura Aditya Jaya yang berada di Rawamangun. Sejumlah remaja dan pemuda hadir di tempat peribadatan umat Hindu tersebut, walaupun tak semua dari mereka beragama Hindu. Putra-putri Indonesia yang berasal dari beragam daerah, suku, agama, dan golongan tersebut tergabung dalam program Sabang Merauke.

Mengenal keberagaman agama menjadi kegiatan di hari Jumat tersebut. Dua tempat peribadatan menjadi lokasi yang dikunjungi, yaitu Pura Aditya Jaya dan Wihara Dhammacakka Jaya yang berlokasi di Sunter. Sehari sebelumnya (4/7), tiga tempat peribadatan telah dikunjungi yaitu Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, dan Gereja Imanuel.

Sama seperti pura lainnya, struktur Pura Aditya Jaya menggunakan struktur Tri Mandala. Struktur tersebut terdiri dari Kanistha Mandala (halaman luar), Mahdyama Mandala (halaman tengah), dan Uttama Mandala (halaman utama).

Dari halaman luar pura, peserta Sabang Merauke 2019 dipandu memasuki halaman tengah pura. Tidak semua peserta diperbolehkan masuk. Wanita yang tengah mengalami menstruasi tetap berada di luar pagar, dilarang untuk masuk.

Seorang bapak berusia lanjut yang menjadi pemandu menjelaskan beberapa peraturan peribadatan. Misalnya tentang penggunaan dupa, kembang jepun, dan selendang yang diikat ke pinggang. Alas kaki (sepatu, sandal, dan kaos kaki) harus dilepas. Peserta Sabang Merauke terlihat memerhatikan dengan seksama, dan mematuhi aturan tersebut. Sebelum masuk lebih lanjut ke halaman utama, para peserta berfoto sejenak di depan gapura yang menghubungkan halaman tengah dan utama.

Peserta kemudian masuk ke halaman utama pura. Pemandu menjelaskan bangunan-bangunan yang ada, juga kegiatan atau prosesi yang dilaksanakan di tiap bangunan tersebut. Dua peserta wanita kemudian memeragakan Rejang Dewa. Dengan anggunnya keduanya menari di hadapan peserta lain.

Setelah berkeliling pura, para peserta Sabang Merauke 2019 meninggalkan pura dan menuju ke salah satu gedung yang berada si samping pura. Di ruangan ini para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengetahui dan bertanya jawab tentang ajaran Agama Hindu. Misalnya apa perbedaan antara Hindu yang ada di Bali dan India, makanan apa yang pantang dikonsumsi, dan lain-lain.

Jam 11.30 rangkaian acara di Pura Aditya Jaya berakhir. Para peserta menikmati makan siang dan selanjutnya yang beragama muslim menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid yang letaknya tak jauh dari pura, sebelum kemudian menuju ke Wihara Dhammacakka Jaya di Sunter.

Jam 2 siang seluruh peserta tiba di Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Wihara ini merupakan sebuah wihara Therawada pertama yang memiliki prasarana penahbisan bhikkhu di Indonesia. Wihara yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara ini didirikan untuk menjadi mother temple atau induk bagi wihara-wihara Therawada lain di Indonesia.

Agama Budha memiliki beberapa aliran besar. Misalnya aliran Mahayana yang banyak dianut oleh umat Budha di Jepang dan China. Sementara aliran Therawada banyak dianut oleh umat yang berada Thailand dan Srilanka.

Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya sendiri masih memiliki hubungan sejarah dengan Thailand. Pemrakarsa berdirinya wihara ini adalah seorang bhikkhu dari Thailand, Phragru Dhammadhron Sombat (Sombati Pavitto Thera). Dana pembangunan tidak hanya berasal dari umat Buddha, tapi juga dari para penyumbang lainnya seperti Presiden Republik Indonesia, Bapak H.M. Soeharto,  Departemen Agama RI, dan Pemerintah DKI Jakarta.

Peletakan batu pertama pembangunan wihara dilakukan pada 2 September 1982. Wihara selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 1985. Di dinding luar wihara terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Sang Budha. Relief-relief yang bisa dilihat di sekeliling dinding luar wihara tersebut mencontoh relief yang ada di Candi Borobudur. Di dalam ruang wihara terdapat Budha Rupang (patung Budha) yang juga mengambil bentuk patung Budha di Candi Borobudur.

Patung tersebut dibuat di Thailand dan upacara pengecoran Budha Rupang dilakukan pada tanggal 16 April 1985, di Wat Bovoranives Vihāra, Bangkok. Masyarakat Thailand berbondong- bondong hadir dengan khidmat dalam upacara pengecoran Buddha Rupang untuk Indonesia. Mereka ikut menyumbangkan perhiasan seperti kalung, cincin, gelang dari logam mulia, ataupun uang tunai sebagai dana bagi pengecoran Buddha Rupang.

Buddha Rupang tersebut berukuran tinggi 3,19 meter dan berat mendekati tiga ton. Untuk dapat masuk ke dalam Uposathāgāra, pintu gerbang gedung terpaksa dibongkar lebih dahulu. Pada awalnya rupang yang terbuat dari logam tersebut berwarna kehitaman. Lalu banyak umat yang menempelkan kertas emas (kimpo) ke permukaannya. Akhirnya pada tahun 1986, seluruh permukaan Buddha Rupang tersebut dilapisi dengan kertas emas hingga warnanya secara keseluruhan menjadi keemasan.

Selain mendapatkan banyak informasi mengenai sejarah Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya, peserta Sabang Merauke juga melakukan tanya jawab seputar agama Budha. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan foto bersama.

Saya melihat banyak nilai positif dari kunjungan ke pura dan wihara yang dilakukan oleh peserta Sabang Merauke yang saya ikuti pada hari Jumat tersebut. Tentunya masih banyak rangkaian acara lainnya. Acara semacam ini selain bisa menambah pengetahuan seputar agama-agama yang ada di Indonesia, juga mampu merawat toleransi.

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

Dalam program ini, 20 anak dari berbagai daerah di Indonesia akan tinggal bersama keluarga asuh yang berbeda agama atau budaya, serta berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang selama 3 minggu. Setelah kembali ke daerahnya, mereka akan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di daerahnya masing-masing.

Dalam program ini ada Anak Sabang Merauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Famili Sabang Merauke (FSM). ASM adalah siswa SMP yang menjadi subyek pertukaran pelajar. KSM adalah kakak pendamping selama program pertukaran dan mentor bagi ASM setelah program berakhir. Sedangkan FSM adalah keluarga angkat yang akan menjadi keluarga baru bagi ASM.

Gerakan Sabang Merauke secara resmi dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 2012 di tiga kota yang berbeda (Jakarta, Bogor, Tanjung Pinang), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, oleh ketiga co-foundersnya, yaitu Aichiro Suryo Prabowo, Ayu Kartika Dewi, dan Dyah Widiastuti.

14 thoughts on “Mengenal Kebhinnekaan dan Merawat Toleransi di Sabang Merauke 2019”

  1. Mas, acaranya bagus banget ya… saya tadinya mau ikut, tapi karena hari kerja urung ikut. Saya jadi penasaran pingin mengunjungi Pura ini, yang sebenarnya memang dekat dengan kantor. Dan ternyata banyak cerita menarik dari Wihara Jakarta Dhammacakka Jaya ya…

    Saya salut sama gerakan mengenal kebhinekaan dan merawat toleransi di Sabang-Merauke ini ya… karena kita beragam, jadi tak perlu seragam yaa…

    Terima kasih sudah berbagi…

  2. Saya ikut event Sabang Merauke yang hari selasa, menghadirkan sosok inspiratif, atlet Asian Para Games.
    Semula pengin ikut yg hari jumat, tapi krn waktunya bareng sholat Jumat jd skip dulu.

  3. Program yang keren banget!
    Pengenalan soal keberagaman ini penting banget memang dikenalin dan disebarluaskan dari Sabang – Merauke.

    Ga harus sama.
    Ga harus serupa.
    Yang penting Indonesia.

  4. wuah program sabang merauke ini bagus sekali terutama untuk memupuk nasionalisme kita, mempererat perbedaan yang ada di indonesia dan meningkatkan toleransi kita juga, karena banyaknya keanekaragaman di indonesia yang saat ini mudah sekali terpecah belah. semoga acara ini bisa berlanjut terus dan bisa banyak menyedot perhatian dari anak-anak mudanya juga

  5. Bahagia banget aku lihat acara ini deh
    Termakasih sudah berkunjung ke Pura, mas
    Semoga kebhinekaan kita tetap terjaga dalam suasana rukun dan damai
    Dan kita bisa bersama bergandengan tangan untuk Indonesia

    1. Keren pisan acaranya nih!

      Kayanya kalau dibikin versi untuk anak-anak seru juga ya. Sambil ngenalin beragam budaya dan agama yang ada di Indonesia. Memupuk rasa toleran sedini mungkin 😀

  6. Bagus ini acaranya.. buat memupuk rasa kebangsaan.. which is penting banget di jaman sekarang trus aku baru tau singkatan sabang merauke.. kirain cuman nama pulau aja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *