Lomba Blog

Menjadi Narablog : Dari Pemulung Informasi Hingga Menjadi Penulis Buku

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”

Petikan atau quote yang dikemukakan oleh Pramoedya Ananta Toer tersebut bisa jadi menjadi motivasi bagi beberapa orang untuk selalu bekarya melalui tulisan. Saya sangat mengamini petikan sarat makna tersebut, karena memang peradaban dan sejarah umat manusia dibentuk salah satunya melalui tulisan. Tidak harus menjadi penulis sekaliber Pramoedya, Arswendo, atau Andrea Hirata, kita bisa membuat nama kita abadi dalam sejarah dengan memulai menjadi narablog atau blogger.

Kebiasaan menulis mulai saya lakukan ketika menjadi mahasiswa pada akhir 90-an. Sekedar menulis curhatan receh pada buku diari, yang sampai saat ini buku bersampul hitam tersebut masih saya simpan dengan baik. Saat itu saya belum mengenal internet karena memang internet belum sepopuler sekarang, dan tidak semua orang bisa dengan mudah mengaksesnya.

Masuk dunia kerja di awal tahun 2000-an, saya mulai mengenal e-mail, blog, situs berita dan berbagai hal yang berkaitan dengan internet dan dunia digital. Hal yang baru dan mengasyikkan bagi saya ini membuat saya memiliki jadwal khusus satu kali dalam seminggu untuk menghabiskan beberapa jam di warnet.

Saya mulai gemar memulung informasi yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Bermacam topik yang disediakan oleh dunia maya mulai dari sepakbola, teknologi, hiburan, hingga cerita fiksi dewasa, menjadi bacaan bagi saya yang saat itu masih berusia 20-an.

Di akhir tahun 2000-an, media sosial seperti Facebook dan Twitter mulai saya kenal. Dari sebuah tautan di media sosial tersebut saya mengenal Kompasiana, sebuah platform blog keroyokan yang bagi saya cukup unik dan keren karena siapa saja bisa menulis apa saja. Saya mulai membuat akun di Kompasiana pada tahun 2011, dan dari sinilah pengalaman saya menulis sebagai narablog atau blogger bermula.

Saya mulai menungkan opini dan pengalaman melalui tulisan di Kompasiana. Beragam topik saya tulis, mulai dari sepakbola, IPTEK, hiburan, wisata, hingga fiksi. Sampai saat ini saya masih menulis di Kompasiana. Dan memang Kompasiana  menjadi rumah besar bagi para kompasianer, sebutan bagi narablog Kompasiana. Saya banyak belajar dari beberapa narablog favorit saya, seperti Christie Damayanti, Yusran Darmawan, Pakde Kartono, Fandi Sido, Rahab Ganendra, Khrisna Pabichara, Tilaria Padika dan kompasianer lainnya yang memiliki kekhasan masing-masing.

dok. pribadi

Salah satu tulisan bersifat reportase yang sering saya bagikan di Kompasiana yaitu mengenai wisata. Sekitar tahun 2013 lalu memang banyak tiket promo dari berbagai maskapai penerbangan, dan saya memanfaatkannya untuk traveling ke beberapa tempat di Indonesia. Saya masih ingat tiket PP dari Jakarta-Surabaya seharga 90 ribu rupiah saja yang akhirnya membuat saya bisa berkunjung ke Bromo. Juga ada tiket PP seharga 150 ribuan rupiah ke Medan, Belitung, Padang, Makassar,dan beberapa daerah yang bisa saya manfaatkan untuk mengunjungi destinasi wisata yang ada.

Pengalaman saat berkunjung ke jujugan wisata tersebut saya tuliskan di Kompasiana. Sangat senang rasanya bahwa saya bisa berbagi informasi melalui tulisan, apalagi jika tulisan tersebut memeroleh banyak view, komentar, hingga menjadi headline di Kompasiana. Salah satu tulisan saya di Kompasiana saat berkunjung ke Sukabumi dan menginap di rumah salah seorang mantan staf Paspampres bahkan pernah dihibrid ke Kompas.com. Senang dan bangga sekali!

Karena tulisan-tulisan wisata tersebut, sebuah momen spesial saya dapatkan ketika saya diundang menjadi salah satu narasumber di Kompasianival, sebuah ajang kopi darat bagi para kompasianer. Bersama dua teman saya lainnya yaitu Dhanang dan Olive, kami berbagi pengalaman seputar kepariwisataan di tanah air.

sumber: akun twitter @kompasianival

Bermacam lomba menulis kerap diadakan oleh Kompasiana. Saya mulai mencoba mengikuti lomba tersebut, meski sering kali gagal menjadi pemenang. Berangkat dari kegagalan tersebut saya mulai memelajari tulisan para kompasianer yang kerap juara, seperti Dzulfikar Al A’la, Harris Maulana, atau Gapey Sandi.

Sebuah lomba blog berikutnya diadakan oleh Kompasiana bekerja sama dengan salah satu perusahaan tambang. Hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, yaitu kunjungan ke lokasi tambang di Sumbawa selama satu minggu.

Saya mulai mencari materi tentang dunia pertambangan, yang saat itu menjadi sesuatu yang asing bagi saya. Berbagai artikel dan peraturan pertambangan dari dalam dan luar negeri saya baca sebagai materi tulisan yang akan saya ikut sertakan dalam lomba blog tersebut.

dok. pribadi

Momen spesial selanjutnya saya peroleh, ketika saya terpilih menjadi salah satu pemenang lomba. Bersama para narablog lain, saya diizinkan melihat lokasi pertambangan di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan misalnya mengenai proses pertambangan itu sendiri, lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan, hingga keindahan alam yang ada di sekitar lokasi tambang. Pengalaman dan pengetahuan berharga tersebut tidak lupa saya bagikan melalui beberapa tulisan di blog.

Ternyata tulisan seputar dunia tambang dari para narablog tersebut menarik minat Penerbit Mizan untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku. Dari beberapa tulisan yang ada, salah satu tulisan saya terpilih dan dimuat dalam buku “Buka-Bukaan Dunia Tambang” yang terbit pada tahun 2016 silam.

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya pada akhirnya bisa menjadi penulis buku, meskipun sifatnya masih penulis keroyokan. Niat untuk berbagi informasi melalui tulisan di dunia digital khususnya blog, membawa saya bisa sampai sejauh ini. Padahal jika saya menengok ke belakang, beberapa tahun yang lalu saya hanyalah seorang yang gemar memulung informasi di dunia maya saja.

sumber: mizanstore.com

Berbagi informasi positif di era digital ini begitu penting, seiring pengguna internet yang jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah pengguna internet di Indonesia diproyeksikan menembus 175 juta pada tahun 2019, atau sekitar 65,3% dari total penduduk 268 juta.

Peningkatan pengguna internet tersebut ditopang oleh semakin meluasnya penggunaan ponsel pintar dan selesainya proyek penggelaran kabel fiber optic Palapa Ring yang menyambungkan jaringan internet ke seluruh wilayah Indonesia. Angka proyeksi tersebut meningkat 32 juta, atau 22,37% dibandingkan survei terakhir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 yang mencatat pengguna internet sebanyak 143 juta.

Akhir tahun 2018 kemarin saya memutuskan untuk membuat blog pribadi ini. Resolusi saya di tahun 2019 yaitu melalui blog ini saya bisa terus berbagi informasi yang bermanfaat kepada pembaca. Apa yang telah saya capai selama ini telah membuat saya bangga sebagai seorang narablog. Dan kebanggaan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan konsistensi dalam membuat tulisan, karena saya ingin nama saya tidak terhilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

6 comments
  1. Maria Widjaja

    “Niat untuk berbagi informasi melalui tulisan di dunia digital khususnya blog, membawa saya bisa sampai sejauh ini.”

    Niat baik yang berujung baik. Semoga blog TLD ini bisa menjadi ladang tambahan bagi kakak untuk terus berbagi informasi dan menyebar kebaikan.

    1. Samleinad

      Amiin.
      Di tengah banyaknya informasi yg tidak benar / hoaks yang bersliweran di dunia digital, para narablog perlu mengambil sikap utk memberikan konten2 positif. terima kasih sudah bekunjung ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *