Sehat

Jangan Anggap Remeh Gejala Mata Kering saat Lari! Pengalaman Pribadi Mengenali SePeLe Bersama Insto Dry Eyes

[ A+ ] /[ A- ]

“Sedikit lagi.”

Kalimat itu terus saya ulang dalam hati ketika Strava menunjukkan jarak yang tinggal beberapa kilometer menuju finis. Catatan pace saat masih sesuai target.

Lalu angin berembus sedikit kencang menerpa wajah. Awalnya saya hanya berkedip beberapa kali. Saya pikir ada debu yang masuk ke mata.

Namun, rasa itu tidak hilang. Mata mulai terasa sepet. Beberapa ratus meter kemudian muncul sensasi perih, terutama ketika wajah kembali diterpa angin. Menjelang garis akhir, mata terasa lelah.

Fokus yang sebelumnya hanya tertuju pada langkah kaki perlahan berubah. Saya justru lebih sibuk menahan rasa tidak nyaman di mata.

Saya memang berhasil menyelesaikan lari hari itu. Tidak ada cedera. Namun, untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa ada satu hal yang selama ini luput dari perhatian. Yaitu, kesehatan mata.

Kita Selalu Menyiapkan Tubuh, tetapi Sering Melupakan Mata

Sebagai pelari, saya terbiasa membuat daftar persiapan sebelum latihan maupun lomba. Sepatu harus nyaman. Kaus kaki tidak boleh membuat lecet. Minum cukup sebelum berangkat.

Sayangnya, saya tidak pernah memasukkan kesehatan mata ke dalam daftar tersebut.

Padahal, mata adalah navigator selama berlari. Mata membantu melihat kondisi jalan, menghindari lubang, hingga menjaga keseimbangan ketika langkah mulai melambat karena lelah.

Ironisnya, justru bagian tubuh yang bekerja tanpa henti itu sering saya anggap akan baik-baik saja.

Saat Gejala Mata Kering Datang Diam-Diam

Semakin sering saya berlatih, semakin sering pula saya menemukan pola yang sama.

Keluhan pada mata hampir tidak pernah muncul di awal lari. Justru ketika latihan memasuki durasi lebih panjang, rasa tidak nyaman mulai terasa.

Berlari di ruang terbuka berarti mata harus menghadapi banyak hal sekaligus. Hembusan angin membuat permukaan mata lebih cepat kehilangan kelembapan. Debu dan polusi ikut menambah iritasi. Saat sedang fokus mempertahankan ritme, saya juga cenderung berkedip lebih sedikit dibandingkan saat beraktivitas biasa.

Kombinasi itulah yang kemudian memunculkan gejala mata kering.

Awalnya hanya terasa ringan sehingga mudah diabaikan. Namun, semakin lama dibiarkan, rasa tidak nyaman itu semakin jelas mengganggu aktivitas berlari.

SePeLe yang Ternyata Tidak Sepele

Belakangan saya baru mengetahui istilah SePeLe, singkatan dari SEpet, PErih, dan LElah. Saya langsung tersenyum kecil ketika membacanya.

Bukan karena istilahnya unik, tetapi karena saya merasa sedang membaca cerita tentang diri sendiri.

Selama ini saya selalu menganggap mata sepet sebagai tanda kurang tidur. Mata perih saya anggap karena debu. Mata lelah saya kira akibat aktivitas sepanjang hari. Padahal, ketiganya bisa menjadi gejala mata kering.

Saya baru sadar bahwa tubuh sebenarnya sudah berkali-kali memberikan sinyal. Hanya saja, saya memilih mengabaikannya karena merasa masih sanggup berlari.

Ternyata, mampu menyelesaikan lari bukan berarti tubuh benar-benar nyaman.

Momen yang Mengubah Cara Pandang Saya

Ada satu momen di Pantai Depok, Bantul yang masih saya ingat hingga sekarang.

Hari itu bukan sekadar latihan biasa. Saya sudah menunggu kesempatan tersebut cukup lama. Semua persiapan berjalan baik. Cuaca pun cukup bersahabat meski angin sesekali bertiup agak kencang.

Saya hanya pelari rekreasional, bukan atlet. Di tengah euforia para pelari, saya hanya ingin menikmati setiap kilometer.

Namun, ketika mata mulai terasa sepet, saya kehilangan sebagian kenikmatan itu.

Saya memang tetap berlari. Saya tetap tersenyum ketika melewati garis finis, tetapi ada satu hal yang membuat saya tidak benar-benar menikmati perjalanan menuju garis finis karena perhatian saya beberapa kali teralihkan oleh rasa tidak nyaman pada mata.

Saat itulah saya menyadari bahwa momen penting tidak selalu rusak oleh cedera besar. Kadang, hal yang tampak sederhana seperti gejala mata kering pun mampu mengurangi kualitas pengalaman yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.

Belajar Mendengarkan Tubuh, Termasuk Mata

Pengalaman tersebut membuat saya mengubah kebiasaan. Sekarang saya tidak hanya memikirkan kekuatan kaki atau daya tahan napas. Saya juga mulai memperhatikan kondisi mata.

Saya memilih waktu latihan saat pagi hari ketika sinar matahari belum terlalu terik jika memungkinkan. Atau, 1-2 jam sebelum matahari terbenam saat sore hari.

Saya berusaha mengurangi paparan debu. Setelah berlari, saya memberi waktu bagi mata untuk beristirahat.

Yang paling penting, saya tidak lagi menganggap SePeLe sebagai keluhan biasa. Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah, saya tahu tubuh sedang mengirimkan pesan bahwa mata membutuhkan perhatian.

(Insto Dry Eyes bantu mengatasi gejala mata kering)

Insto Dry Eyes Menjadi Bagian dari Rutinitas Saya

Sejak memahami penyebabnya, saya mulai menyediakan INSTO DRY EYES di dalam tas lari atau running belt yang biasa saya bawa.

Kemasannya mungil dan ringan. Sehingga, saya bisa menyelipkan #InstoDryEyes ke dalam tas lari atau running belt bersama barang-barang lain saat berlari, seperti ponsel atau uang.

Bagi saya, ini bukan soal membawa lebih banyak perlengkapan, melainkan tentang menjaga kenyamanan. Pengalaman berlari tetap menyenangkan karena #BebasMataKering

(Insto Dry Eyes mudah diselipkan ke dalam running belt atau tas lari)

Insto Dry Eyes membantu mengatasi gejala mata kering dengan memberikan efek pelumas seperti air mata, sehingga mata terasa lebih nyaman..

Kini saya bisa lebih fokus menikmati setiap langkah tanpa terus-menerus terganggu oleh rasa tidak nyaman pada mata.

Karena Garis Finis Seharusnya Menjadi Kenangan Indah

Dulu saya mengira tantangan terbesar saat berlari hanyalah menjaga pace atau melawan rasa lelah.

Sekarang saya tahu, menikmati perjalanan menuju garis finis juga membutuhkan perhatian pada hal-hal yang sering dianggap kecil.

Termasuk kesehatan mata.

Kalau hari ini ada pelari yang bertanya kepada saya apa pelajaran paling berharga selama bertahun-tahun berlari, jawabannya mungkin bukan soal memilih sepatu atau menyusun program latihan. Saya justru akan mengatakan #MataSePeLeJanganSepelein

(Jangan anggap remeh gejala kata kering saat lari!)

Dari pengalaman pribadi, saya belajar bahwa SePeLe bukan sekadar singkatan. Ini adalah sinyal yang mengingatkan saya untuk lebih peduli pada mata sebelum rasa tidak nyaman mengubah momen yang seharusnya menjadi kenangan indah.

Dan sejak mengenali hal itu, Insto Dry Eyes menjadi salah satu teman yang membantu saya menjaga kenyamanan mata agar setiap langkah menuju garis finis bisa dinikmati sepenuhnya.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *