Destinasi Jawa

Benteng Portugis di Nusakambangan

Sekitar jam 09.30 hari Sabtu pagi saat perahu yang kami sewa mulai bertolak dari Teluk Penyu, Cilacap. Hanya ada tiga orang yang berada di atas perahu motor, yakni sang pengemudi dan dua penumpang: saya dan Adi.

Lima belas menit kemudian perahu tiba di Pulau Nusakambangan. Lokasi yang kami singgahi berada di ujung timur dari pulau yang dikenal sebagai tempat penahanan narapidana ini. Sebuah papan selamat datang berada tak jauh dari tempat perahu bersandar, yang menyambut kami datang di kawasan wisata benteng Portugis ini.

Setelah membayar tiket masuk seharga 5 ribu rupiah per orang, saya dan Adi memulai trekking dengan berjalan kaki di Nusakambangan timur ini. Ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh pengunjung, yakni dengan menyewa kendaraan ‘odong-odong’ untuk menuju lokasi benteng.

Baca juga: Fort Marlborough, Jejak Kolonialisme Inggris di Bengkulu

Jalan tanah dan berbatu yang mendaki dan berbelok-belok dengan berbagai jenis pohon di sepanjang sisinya kami tempuh. Vegetasi yang lumayan rapat tersebut cukup membawa keteduhan meski matahari mulai berada di atas kepala. Sesekali tangan saya berusaha mengusir nyamuk yang mendenging di belakang telinga.

Hampir setengah jam berjalan kaki, kami akhirnya melihat bangunan benteng.

Benteng yang terbuat dari bata merah ini sudah tak lagi utuh. Salah satu sisi bangunan bahkan menyatu dengan pohon besar dengan akar-akarnya yang terlihat sedang mencengkeram bangunan benteng. Beberapa bagian benteng tertimbun di dalam ‘bukit’ tanah di pulau ini.¬†

Kesan eksotis sekaligus misterius muncul di pikiran saya saat melihat bangunan bersejarah yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1800-an untuk menghadapi serangan dari  Samudera Indonesia.

Tanpa dampingan dari pemandu, kami berdua memutuskan untuk tidak masuk ke lorong dan ruangan benteng yang minim cahaya. Dari bangunan yang dicengkeram akar pohon tadi, kami bergerak mengelilingi benteng dan melihat peninggalan sejarah ini dari sisi luar saja.

Di sisi yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia, dua buah meriam di tempat terpisah tergeletak di tanah. Sama seperti bangunan benteng, meriam ini juga terkesan kurang mendapatkan perawatan memadai.

Sebuah tebing curam menjadi pemisah antara bangunan benteng dengan laut lepas. Dari balik pepohonan pada salah satu sisi luar benteng, kami bisa melihat gelombang laut yang menggapai bibir pantai beberapa puluh meter di bawah tebing. Di sisi lain yang lebih landai dan tak jauh dari benteng, ada satu pantai berpasir putih yang bisa kita nikmati untuk melepas penat.

Pantai Karangbolong, demikian nama untuk pantai ini. Sebuah tebing karang dengan lubang berukuran kecil berada di sisi kanan, yang tinggi lubangnya sekitar dua meter saja.

Pantai ini berukuran tidak begitu luas, namun pasirnya yang berwarna putih membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati pemandangan yang ada. Dua bocah kecil nampak asyik bermain di pantai siang itu.

Kembali dari lokasi benteng, saya sengaja mengaktifkan aplikasi di gawai untuk mengetahui berapa jarak dari benteng ke lokasi pemberhentian perahu sebelumnya. Angka 1.2 kilometer menjadi penunjuk berapa jauh kami berjalan kaki.

Kunjungan singkat ke Benteng Portugis di Nusakambangan pun berakhir. Setidaknya masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk merawat peninggalan sejarah yang bernilai ini, dalam hal ini adalah Kementerian Hukum dan HAM yang menjadi ‘pemilik’ Pulau Nusakambangan.

4 thoughts on “Benteng Portugis di Nusakambangan”

    1. Banyak tempat bersejarah yg tersebar di tiap daerah, namun ngga semuanya terpelihara dg baik. Semoga aset2 tsb tetap terjaga kelestariannya

  1. Hai … Salam kenal, ya. Aku sudah pernah jalan-jalan ke Pantai Teluk Penyu dan Nusa Kambangan. Tempatnya asyik banget. Pernah merasakan naik odong-odongnya juga. Dulu aku menemukan tiga bibir pantai selepas benteng itu. Ada satu pantai yang tersembunyi tapi airnya jernih banget. Hijau kebiruan gitu, warnanya. Posisinya pun enak dekat dengan tebing dan pepohonan jadi lumayan lah bisa ngadem. Tahu sendiri kan, Cilacap panasnya ampun, deh. Setelah jalan-jalan pastinya makan siang dengan seafood dong sampai kenyaaang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *