Hiburan

Film 1917: Sinematografi Keren dengan Adegan Tanpa Putus

1917 movie

Beberapa waktu lalu, film 1917 meraih 2 penghargaan Golden Globe untuk Penyutradaraan dan Film Terbaik. Film 1917 juga masuk dalam nominasi Academy Award atau Oscar untuk 10 kategori, yang pengumumannya akan dilangsungkan beberapa waktu mendatang.

Berbekal informasi tersebut, saya penasaran ingin menyaksikan 1917 yang tayang perdana di bioskop Indonesia hari Rabu ini. Saya sengaja tidak membaca tulisan review atau cuplikan video tentang film ini sebelumnya yang sudah banyak beredar di media daring.

Film yang disutradarai oleh Sam Mendes ini  berlatar belakang Perang Dunia I yang berlangsung di Perancis. Dikisahkan bahwa pasukan Inggris merencanakan untuk menyerang Jerman. Dua tokoh utama, William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diutus oleh Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch).

Erinmore meminta Mackenzie yang berada di garda depan untuk mengurungkan serangan, karena menurutnya serangan tersebut bisa mengorbankan 1.600 prajurit termasuk kakak Tom Blake, Joseph Blake yang berada di garda terdepan.

Perjalanan dua prajurit muda Schofield dan Blake menuju garda terdepan tentara Inggris dalam misi penyampaian misi tersebut cukup menarik untuk disaksikan. Mereka melintasi daerah berisi mayat para tentara dan kuda tempur, hingga melewati markas Jerman yang sudah tidak berpenghuni.

Sayang sekali, di tengah perjalanan Blake terbunuh.  Bermula dari pesawat Jerman yang tertembak jatuh setelah sebelumnya bekejaran dengan pesawat Inggris, Schofiled dan Blake berniat menolong pilot Jerman keluar dari pesawat yang terbakar. Pilot yang berhasil dikeluarkan dari pesawat malah menusuk Blake. Schofield berhasil menembak mati sang pilot, namun nyawa Blake tidak tertolong. Schofield akhirnya harus melanjukan misi tersebut seorang diri.

Meski berlatar belakang perang, film 1917 masuk dalam genre drama. Tak heran jika penonton disuguhkan adegan tembak-menembak atau pemboman yang tidak banyak jumlahnya. Namun, suasana perang di awal abad 20 tersebut begitu nyata. Parit-parit pertahanan, medan penuh lumpur, hingga puing-puing bangunan akibat perang mendukung suasana yang dibangun oleh film ini.

Kekuatan film 1917 ini terletak pada sinematografinya. Salah satu hal yang akan terus diingat oleh penonton yaitu bagaimana gambar diambil sedemikian rupa dalam scene tanpa putus. Kamera terus membuntuti kedua tokoh utama yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Saya menyadari scene tanpa putus tersebut saat film memasuki 5 menit pertama, dan scene tersebut terus berlanjut. Diawali dengan adegan awal saat Blake dan Scho tengah beristirahat di bawah sebuah pohon di tepi padang rumput, lalu mereka masuk ke markas untuk menerima tugas. Berlanjut saat Jenderal Erinmore memberikan tugas, hingga Blake dan Schofield keluar dari markas untuk melaksanakan misi.

Adegan tanpa putus berlanjut, dan saya terus mencoba mengamatinya. Hingga akhirnya pada sekitar menit ke 60-70, gambar terpotong. Saat itu Schofield yang tinggal seorang diri (setelah Blake terbunuh) masuk ke sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat seorang tentara musuh. Scho berhasil menembaknya, namun secara bersamaan juga tertembak oleh tentara tersebut yang membuat Scho terlempar dan jatuh pingsan. Dan gambar berubah menjadi gelap gulita, sebelum masuk adegan berikutnya yang juga terus menampilkan gambar tanpa putus.

Pemirsa film akan melihat kamera yang terus mengikuti sang tokoh film, berputar dari sisi satu ke sisi yang lain secara rapi. Pemirsa sepertinya tidak melihat, pada bagian mana adegan diputus dan disambung ke adegan berikutnya (cut to cut). Salah satu adegan menarik yaitu ketika Schofiled terjun ke sungai dan berenang di tengah arus yang deras, hingga akhirnya berhasil menepi ke daratan. Dan tentu saja, kamera tanpa henti terus membuntuti dan menyorot Schofield. Luar biasa!

Film 1917 dibuat sebagai sebuah penghormatan bagi kakek sang sutradara, yakni Alfred H. Mendes yang terlibat Perang Dunia I. Cerita Alfred dikembangkan menjadi naskah dan dibuat film. Sang sutradara, Sam Mendes sebelumnya juga menyutradarai American Beauty (1999) dan berhasil meraih Academy Award dan Golden Globe Award, Road to Perdition (2002), James Bond “Skyfall” (2012), dan Spectre (2015).

Kehebatan sinematografi film 1917 juga tak lepas dari kepiawaian sang kamerawan, Roger Deakins. Roger sudah 15 kali dinominasikan di Oscars. Ia mendapat nominasi tahun 1995 lewat The Shawshank Redemption hingga akhirnya menang di Blade Runner 2049 dua tahun lalu.

Bagi penikmat film berkualitas dengan gambar-gambar menakjubkan, film 1917 tentu tak boleh dilewatkan. Besar kemungkinan film ini akan meraih Oscar 2020 dari 10 nominasi yang diperolehnya, yaitu best picture, director, original screenplay, original score, sound editing, sound mixing, production design, cinematography, makeup and hairstyling, dan visual effects.

Sumber gambar: scroll.in

8 thoughts on “Film 1917: Sinematografi Keren dengan Adegan Tanpa Putus”

  1. Beberapa hari yang lalu saya habis nonton film ini. Sinematografinya memang luar biasa (dan saya baru tahu kalau kamerawannya ikut bikin Shawshank Redemption). Scoringnya juga bagus banget, meskipun nggak terlalu bikin deg-degan kayak Dunkirk.

    Yang juga saya suka itu humornya yang Inggris banget. Di adegan mengharukan kayak waktu Blake mau meninggal saja masih diselipkan komedi.

    Jagoan saya nih di Oscar. Tapi kayaknya berat juga, soalnya saingan sama Joker.

  2. Wah ternyata filmnya keren ya
    Aku pikir tadinya bakalan full adegan perang
    Jadi maju mundur mau nontonnya
    Kayaknya masuk list tontonan bareng pak suami deh

  3. Aku biasanya cuma nonton film superhero dan film anak2, kurang tertarik film perang (apalagi horor). Baca reviewnya jadi tertarik film ini gara-gara ada Benedict Cumberbatch hehe

  4. Bikin saya jadi cari trailernya di YouTube. Dan malah lihat video pembuatan film ini. Ternyata bagus ya filmnya. Harus nonton karena saya memang suka dengan film seperti ini

  5. Lama gak nonton film yang berbau peperangan gini, bahkan aku pun nyaris lama gak ke bioskop. Tapi penasaran sebenarnya pengen nonton kalau habis baca review singkat ini sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *