Hiburan

“The Cure” (1995), Film Lama yang Tak Pernah Usang untuk Mengajarkan Cinta Kasih

Peristiwa mengenai 14 siswa yang dikeluarkan dari sebuah sekolah dasar di Solo ramai diberitakan oleh media massa beberapa hari lalu. Siswa-siswa tersebut mengidap HIV/AIDS. Pihak sekolah mengeluarkan mereka karena didesak oleh para wali siswa yang menyatakan keberatan jika ada siswa di sekolah anak mereka yang mengidap HIV/AIDS.

Polemik dan silang pendapat terjadi menyusul peristiwa tersebut. Pemerintah juga turun tangan untuk mencari solusi agar 14 siswa tersebut tetap mendapatkan hak atas pendidikan. Diskriminasi terhadap penyandang HIV/AIDS tidak seharusnya terjadi. Apalagi jika diskriminasi tersebut berlangsung di dunia pendidikan tingkat dasar, di mana para siswa sejak dini perlu diajarkan tentang persamaan hak.

Saya teringat sebuah film lama yang mengisahkan tentang kisah persahabatan dua anak di mana salah satunya mengidap HIV/AIDS. The Cure, demikian judul film yang dirilis pada tahun 1995 tersebut mengajarkan betapa pentingnya mencintai sesama manusia.

Jalan Cerita

Adalah Erik (Brad Renfro) dan Dexter (Joseph Mazzelo), dua orang anak remaja yang tinggal di kota kecil bernama Stillwater, Minnesota. Erik berusia 13 tahun, adalah seorang penyendiri yang memiliki ibu workaholic dan temperamental bernama Gail (Diana Scarwid). Ayah Erik tinggal di New Orleans, Louisiana.

Sementara Dexter berusia 11 tahun adalah tetangga Erik. Dexter tertular HIV melalui transfusi darah, namun kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Erik untuk bersahabat dengannya. Dexter tinggal bersama ibunya, Linda (Annabella Sciorra).

Baca juga: Run With Love, Run For Love

Erik menemukan suasana keluarga yang menyenangkan saat berkunjung ke rumah Dexter dan Linda, hal yang tidak Erik dapatkan di rumahnya sendiri. Namun Erik menyembunyikan hubungan persahabatan tersebut dari ibunya, Gail karena Erik yakin bahwa Gail akan melarangnya.

Erik berusaha membantu Dexter menemukan obat untuk penyakitnya tersebut. Erik membuat ramuan herbal dari daun tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Akibat meminum ramuan ini, Dexter malah keracunan dan harus dibawa ke rumah sakit.

Upaya lainnya yang dilakukan Erik yaitu dengan mengajak Dexter kabur dari rumah setelah membaca sebuah artikel di tabloid tentang seorang dokter di New Orleans yang mengklaim telah menemukan obat untuk AIDS. Mereka berangkat menyusuri Sungai Mississippi dengan harapan menemukan jalan untuk menyelamatkan kehidupan Dexter.

Hampir separuh dari film The Cure mengisahkan perjalanan kedua sahabat ini menuju New Orleans. Mereka berlayar bersama sekelompok remaja lainnya, yang pada akhirnya kelompok tersebut malah mencuri uang yang dimiliki oleh Erik dan Dexter.

Perjalanan kedua sahabat untuk menemui dokter di New Orleans tersebut akhirnya gagal, dan mereka akhirnya kembali ke Stillwater. Kondisi Dexter juga memburuk dan ia harus dirawat di rumah sakit.

Beberapa adegan menghibur namun menyentuh hati bisa dijumpai menjelang bagian akhir film ini. Dexter dan Erik berusaha membunuh kebosanan di rumah sakit dengan cara melakukan prank kepada dokter. Dexter berpura-pura meninggal dunia di tempat tidurnya, dan Erik sambil menangis memanggil dokter.

Ketika dokter tengah memeriksa kondisi Dexter, tiba-tiba Dexter berteriak dan tentu saja membuat sang dokter tekejut. Erik dan Dexter tertawa karena usaha mereka berhasil. Beberapa kali kedua sahabat ini mencoba mengerjai dokter. Namun pada satu prank terakhir, ternyata Dexter benar-benar telah meninggal dunia.

Saat Linda mengantarkan Erik untuk pulang, ia melihat seorang ibu yang menggendong anaknya sedang menyeberang jalan. Hal ini mengingatkan Linda akan Dexter. Linda kemudian menghentikan mobil yang dikendarainya, lalu menangis.

Erik meminta maaf kepada Linda atas meninggalnya Dexter dan berkata bahwa ia seharusnya lebih keras lagi menemukan obat bagi Dexter. Namun Linda mengatakan bahwa Erik telah memberikan kegembiraan bagi Dexter di masa-masa sulit hidupnya.

Kisah paling menyentuh terjadi di bagian akhir film The Cure ini. Erik berada di sebelah peti Dexter. Erik mengambil satu sepatunya dan meletakkannya ke dalam peti Dexter. Hal ini untuk mengingat saat mereka berlayar di Sungai Mississipi sebelumnya, yaitu saat Dexter mengalami mimpi buruk. Saat Dexter terbangun dari mimpi, Erik meminta Dexter memegang satu sepatunya sebagai pengingat bahwa Erik akan selalu berada di samping Dexter.

Erik kemudian juga mengambil satu sepatu yang dikenakan Dexter yang tengah terbaring di peti. Erik kemudian keluar dari rumah Linda, dan membawa satu sepatu Dexter ke sungai. Erik kemudian meletakkan sepatu tersebut di air, lalu sepatu itu terbawa mengikuti arus sungai.

Moral Cerita

Tokoh-tokoh dalam film memiliki karakter beragam dan saling bertentangan, seperti yang banyak kita jumpai di masyarakat. Erik adalah anak dari keluarga yang tidak harmonis namun punya ketangguhan dan kesetiakawanan, sementara Dexter adalah anak yang lemah secara fisik namun memiliki ibu penuh perhatian. Pertentangan karakter lainnya yaitu antara Linda dan Gail. Linda adalah seorang yang lembut dan penuh simpatik sedangkan Gail adalah seorang yang berwatak keras, perokok dan peminum.

Film The Cure ini mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi sesama manusia. Persahabatan adalah obat yang terbaik bagi penyaki Dexter. Sebagaimana Erik yang bersahabat dengan Dexter yang tekena HIV/AIDS sampai akhir hidupnya, kita harus mengasihi tanpa diskriminasi.

Film The Cure memang film lama, sudah 24 tahun lalu, namun film ini tidak pernah usang untuk mengajarkan kepada kita tentang persahabatan dan cinta kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *