Sehat

Berlari, Jalan Ninjaku untuk Berani Lebih Baik

Berani Melangkah Lebih Baik

Ada masa-masa sulit yang dialami oleh setiap orang. Masa itu seakan menjadi sebuah titik terendah dalam hidupnya. Pilihan ada di tangannya, apakah tetap meratapi keterpurukan atau mencoba bangkit kembali. Tentu saja, berusaha bangkit dan berani melangkah untuk lebih baik adalah pilihan tepat, meski tidak gampang melakukannya.

Aku teringat pada masa belasan tahun lalu, saat aku berada pada titik nadir hidupku. Tahun 2009 aku mengalami sakit paru-paru, sebuah pukulan berat bagiku. Aku sempat tak habis pikir kenapa bisa menderita penyakit ini, padahal aku bukanlah seorang perokok. Bisa jadi, ini karena aku perokok pasif atau karena polusi udara.

Kamar rawat inap rumah sakit sempat aku nikmati selama beberapa hari. Kemudian dilanjutkan dengan rawat jalan. Hampir satu tahun aku harus menelan beberapa butir pil setiap hari tanpa putus, agar aku bisa sembuh dari penyakit yang sempat membuatku kehilangan semangat untuk hidup itu.

Saat merenungi keadaanku, aku sempat membuat sebuah tantangan bagi diriku sendiri. Apakah aku berani dan sanggup melakukan hal yang hampir mustahil bisa dilakukan oleh penderita penyakit paru-paru, misalnya lari marathon. Berlari sejauh 42 kilometer bukanlah perkara sepele bagi orang sehat sekalipun, apalagi bagi pengidap penyakit paru-paru seperti diriku.

Satu tahun setelah paru-paruku kembali normal, aku tidak langsung memulai olahraga lari. Bulutangkis dan futsal menjadi olahraga yang sempat aku lakukan bersama teman kerja atau tetangga di sekitar rumahku. Pada akhirnya kedua olahraga tersebut mulai jarang aku lakukan karena seringnya terjadi ketidaksesuaian waktu luang antara aku dengan teman yang lain.

Aku masih ingat, pada bulan April 2015 aku mulai beralih ke lari. Pada saat itu aku berlari dengan mengenakan sepatu futsal, sebelum beberapa bulan kemudian sepasang sepatu lari aku beli. Jarak yang aku tempuh cukup 3 kilometer saja.

Perlahan aku mulai menambah jarak berlari dengan rute jalan raya di kompleks perumahanku. Salah satu kemudahan olahraga lari ini yaitu bisa dilakukan seorang diri, di mana pun dan kapan pun. Namun di sisi lain, berlari seorang diri kadang begitu membosankan. Untuk membunuh rasa bosan tersebut, aku berlari sambil melakukan hobi memotretku.

Aku kemudian mencoba mengikuti lomba lari, untuk merasakan bagaimana atmosfer berlari bersama-sama ribuan peserta lainnya. Lomba yang pertama kali saya ikuti yaitu Superball Run di akhir tahun 2015. Waktu itu aku memilih kategori jarak 8 mil (sekitar 12 kilometer). Aku berhasil menyelesaikan lomba lari pertamaku ini. Entah berada di urutan kesekian ratus atau kesekian ribu, tidaklah begitu penting bagiku.

Pengalaman menyenangkan mengikuti lomba lari di tahun 2015 tersebut membuatku mencoba ikut meramaikan lomba-lomba selanjutnya. Tahun 2016 aku mencoba ikuti Borobudur Marathon dan memilih kategori full marathon (42 kilometer). Satu bulan menjelang lomba, aku berlatih lebih intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi marathon pertamaku ini. Satu minggu aku berlatih lari 2-3 kali, dengan jarak hingga 21 kilometer.

Di hari H lomba, rupanya aku terlalu bernafsu berlari. Aku memulai lomba dengan kecepatan yang hampir sama saat latihan 21 kilometer. Akibatnya pada kilometer ke-25 dan selanjutnya, aku mulai kehabisan tenaga. Separuh terakhir lomba lebih banyak aku tempuh dengan berjalan kaki. Marathon pertamaku ini aku selesaikan 40 menit lebih lambat dari batas waktu yang ditetapkan (7 jam).

Dari hasil marathon pertama tersebut, aku pun mulai belajar bagaimana untuk bisa menyelesaikan lomba sebelum 7 jam. Melalui group-group Facebook yang beranggotakan para peminat lari, aku banyak mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat. Aku terus berlatih, mempersiapkan diri untuk berani lebih baik pada lomba-lomba berikutnya.

Bali Marathon 2017
Bali Marathon 2017

Mengikuti marathon kedua yang aku ikuti yaitu Bali Marathon pada bulan Agustus 2017. Aku memulai start Bali Marathon 2017 dengan pace 8 (yaitu 8 menit untuk menempuh jarak 1 kilometer) dan mencoba tidak terpancing dengan kecepatan pelari lainnya. Aku cukup menikmati lomba yang dimulai jam 5 pagi tersebut. Aku bahkan sempat beberapa kali berhenti untuk mengambil foto di beberapa tempat.

Masalah pada kaki kiri kembali terjadi. Aku mulai merasakan nyeri di KM 15 setelah 2 jam berlari, masih cukup jauh dari total 42 kilometer. Dengan waktu tersisa masih 5 jam dan jarak masih 27 kilometer, aku mengubah strategi berlari. Kombinasi berlari dan berjalan kaki aku lakukan di kilometer selanjutnya, sambil tetap memerhatikan jarak dan waktu yang tersisa. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan marathon ini dalam waktu 6 jam 48 menit, cukup bagus jika dibandingkan dengan hasil sebelumnya.

Strategi yang sama aku lakukan pada dua marathon berikutnya, yaitu Jakarta Marathon 2017 di ibukota dan Jawa Pos Fit Marathon 2017 di Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura. Strategi tersebut membawaku untuk menyelesaikan 42 kilometer dengan catatan waktu yang tidak jauh berbeda, sekitar 6 jam 50 menit. Aku cukup puas dengan hasil ini.

Setelah berhasil finish di bawah 7 jam pada Bali Marathon, Jakarta Marathon, dan Jawa Pos Fit Marathon 2017, aku kembali mengikuti lomba di tahun berikutnya. Namun tidak semua lomba bisa aku selesaikan dengan baik, karena latihan yang mulai mengendur atau karena cedera.

Pada Jogja Marathon 2018 (bulan April), aku berhenti atau DNF (did not finish) pada kilometer ke-26 karena cedera pada pergelangan kaki kanan. Kemudian di Bromo Marathon 2018 (September), aku terhenti di kilometer 10 karena diare yang menyerangku. Juga pada Jakarta Marathon 2018 (Oktober), aku berhasil finish namun melebihi batas waktu 7 jam.

Di tahun 2019, aku juga masih kurang berlatih. Hal ini berpengaruh pada dua marathon yang aku ikuti, yaitu Jakarta dan Borobudur Marathon 2019. Di Jakarta, aku kembali finish melebihi waktu 7 jam. Sedangkan di Borobudur, aku terhenti di kilometer 31 karena kelelahan. Tahun 2020, tidak ada satu pun nomor marathon yang aku ikuti karena adanya pandemi Covid-19.

Di masa pandemi dan adaptasi kebiasaan baru ini, aku masih terus berlatih lari. Aku memilih rute jalan yang relatif sepi, menghindari kerumunan orang banyak.

Berlari menjadi jalan ninjaku agar aku berani lebih baik. Aku masih mengingat sewaktu dahulu pernah mengidap penyakit paru-paru, masa yang aku anggap sebagai titik nadir dalam hidupku. Tantangan yang pernah aku ucapkan sebelumnya “apakah aku berani dan sanggup melakukan hal yang hampir mustahil dilakukan oleh penderita paru-paru, misalnya lari marathon” akhirnya bisa aku lakukan.

20 thoughts on “Berlari, Jalan Ninjaku untuk Berani Lebih Baik”

  1. Luar biasah membaca ceritanya, tidak begitu saja menyerah apada keadaan yah. Di mana ada niat disitu aja jalan ^^

  2. Salut sama masnya gak gampang nyerah dan mencari alternatif lain untuk kesehatannya dengan olahraga lari, saya juga ingin ikut marathon2 seperti ini mas biar tambah semangat

  3. wah keren dan inspiratif mas
    memang biar sehat kita harus selalu rutin berolahraga ya
    dan pasti harus menyesuaikan jenis olah raganya

  4. SemangatCiee terus Pak De berlarinya, cuma tetep harus hati-hati juga meski melewati jalan sepi yang penting sudah dikenal wilayahnya.

  5. Perjuangan banget Mas bisa ruitn ikut lari marathon, aku ga bisa bayangin tuh sejauh itu bisa dicapai dengan konsisten. Bakalan nyerah aja di tengah jalan, kebayang jauhnya kayak apa. Selain sehat, bisa tambah teman ya Mas. Bisa menaklukkan penyakit paru-paru dengan berani lari jauh seperti itu benar-benar jalan ninja, semoga terus berlanjut!

  6. Sebenarnya lari memang bagus. Sering kali aku diajak adik sepupuku lari tapi nggak pernah ku gubris.

    Terakhir lari itu pas sebelum covid sih. Di GOR Tri lomba juang semarang. Itu pun cuma kuat sekali putaran. Hehehe…

  7. Terharu banget baca kisah ini. Mesti dibikin novel dan difilmkan kalo bisa. Aku juga pengen bisa lari, tapi badan aku terlalu lemah. Hiksss. Mungkin aku mesti usaha yang lebih lagi supaya bisa lari dengan benar seperti mas daniel.

  8. Progresnya tapi keren banget lho. Dari sakit,,sembuh,,terus rajin olah raga sampai sekarang. Hebat itu,,benar-benar berani lebih baik..saluut ..

  9. Berlari itu olahraga seru ya. Tapi suamiku kalau berlari kayaknya terlalu berat bagi penderita asma seperti dirinya. JAdi olahraga yang tergolong aman bagi nafasnya ya berenang sih kak.

  10. Aku ingat ada petuah, beliau mendefinisikan seorang pelari adalah orang yang mau bangun, memakai sepatu dan kemudian berlari. Awalnya, memang terasa berat… akan tetapi sekian waktu berlatih lari, stamina akan semakin baik.

    Paling tidak, itu yang aku alami saat menekuni hobi badminton.

  11. Hahahaha… Kalau jalan ninjaku apa ya? Mungkin jaid iron girl aja 😂

    Tapi aku baru tahu loh kalau mas Danil suka ijutan lari maraton. Semangat terus ya.

    Salam sehat ^^

  12. 3 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk kembali berlari. Awalnya saya rutin lari setiap pagi dan sore. Suatu saat saya diingatkan tentang bahaya lari pada tulang kaki. Dan benar, ternyata seminggu kemudian tulang kaki saya sakit parah. Hampir semingguan sakitnya tidak hilang. Semenjak itu saya tidak pernah berlari lagi. Padahal waktu itu saya bercita-cita juga mengikuti maraton.

  13. Wah keren pencapaiannya. Nggak semua orang mampu melakukannya. Semangat mas, ternyata berani lebih baik membawa ke tahap yang tidak kita bayangkan sebelumnya ya..

  14. keren bgt smpe bisa ikut lomba larii

    aku lari bentar aja udah engappp mas

    pdhal aku ya pgn loh mencintai lari itu,,, tapi ngosngos an bgt rasaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *