Sehat

Cegah DBD dengan Jaga Kebersihan dan Hidup Sehat

Saat ini Indonesia telah memasuki musim hujan. Seiring dengan meningkatnya intensitas hujan, beberapa penyakit juga mulai muncul. Salah satunya adalah demam berdarah dengue (DBD), penyakit yang tidak boleh dianggap enteng karena bila tidak ditangani dengan baik bisa berakibat fatal.

Dikutip dari informasi di situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dirilis pada 17 Januari 2019, di beberapa daerah terjadi peningkatan kasus DBD seperti Kabupaten Kuala Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi NTT, Sulawesi Utara, dan daerah lainnya di Indonesia.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI disebutkan distribusi penyakit suspek DBD sejak minggu pertama 2018 hingga minggu pertama 2019 tertinggi ada di Jawa Timur dengan jumlah suspek DBD 700 orang, diikuti Jawa Tengah 512 orang, dan Jawa Barat 401 orang. Suspek DBD artinya belum tentu positif kasus DBD, namun sudah harus menjadi kewaspadaan oleh masyarakat dan pemerintah.

Berbincang mengenai DBD tersebut, Kementerian Kesehatan mengadakan acara “Meet Up Healthies!” pada Kamis 7 Februari 2019 lalu. Acara yang dihadiri oleh para bloger ini berlangsung di Kantorkuu Coworking & Office Space di Agro Plaza, Kuningan, Jakarta dengan beberapa narsumber yaitu dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., dr. Gia Pratama, dan Menteri Kesehatan Ibu Nila F. Moeloek.

Seiring kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah, selain perlu untuk menghindari gigitan nyamuk, kita juga harus memberantas sarang nyamuk. Kita perlu mengetahui di mana saja tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk.

Setiap tempat berpotensi menjadi sarang nyamuk bila terdapat genangan air. Tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk di rumah adalah bak kamar mandi dan toilet, tempat penampungan air, pot bunga, dispenser air minum (wadah limpahan airnya), barang bekas di sekitar rumah seperti ban, kaleng, batok kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yg bisa menampung air.

Pada musim hujan telur nyamuk Aedes aegypti banyak menetas. Nyamuk tersebut mampu bertelur sampai sebanyak 30-150 dalam 2-3 hari. Suatu jumlah yang luar biasa, sehingga tidak heran bila kasus DBD juga meningkat. Aktivitas nyamuk Aedes aegypti pada pagi pukul 09.00-10.00 dan sore pukul 15.00-16.00.

Ada beberapa cara pencegahan yang perlu kita lakukan yaitu memutuskan rantai penularan nyamuk:

Gerakan 3M yaitu mengubur, mendaur ulang,  dan membersihkan menjadi cara efektif untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti yang bisa menularkan DBD tersebut.

Fogging atau penyemprotan, namun fogging tidak bisa dilakukan secara rutin karena mengandung insektisida yang bisa terhirup manusia. Fogging dibutuhkan bila satu tempat atau wilayah terjadi kasus luar biasa DBD. Fogging yang dilakukan terus menerus berdampak tidak baik untuk warga yang tinggal di wilayah tersebut.

Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Juru Pemantau Jentik (Jumantik) adalah anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mendorong masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.

Tanaman pengusir nyamuk, yang bisa kita tanam dan pakai untuk menangkal nyamuk. Tanaman tersebut misalnya lavender, kayu putih, dan serai.

Larvitrap sebagai perangkap larva/nyamuk yang dapat dibuat dari limbah botol plastik bekas yang ada di sekitar pemukiman penduduk, berguna untuk menekan populasi nyamuk.

Vaksin yang bisa melawan virus DBD. Virus ini memiliki varianyang  banyak sehingga membuat vaksin tidak mudah.

Baca juga: Berbincang HIV AIDS Bersama Kemenkumham dan Kemenkes

Gejala-gejala awal DBD yang harus kita waspadai yaitu :
1. Demam tinggi mendadak
2. Nafsu makan menurun, sakit perut, sakit pada ulu hati, serta muntah
3. Adanya pendarahan
4. Tangan dan kaki menjadi dingin dan lemas

Namun, gejala DBD tersebut saat ini sulit ditengarai karena nyamuk terus bemutasi. Virus DBD akan menyebabkan trombosit turun. Darah kita menjadi encer karena pembuluh darah tidak bisa menampungnya, sehingga timbul bercak merah.

Tidak semua orang yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti akan terkena DBD karena imun tubuh berbeda-beda. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, perlu penanganan intensif di rumah sakit.

Tubuh manusia terdiri dari 73 triliun sel yang berspesialisasi menjadi otak, paru-paru, dan lain-lain. Setiap sel dinamis dan selalu berganti, memiliki umur berbeda-beda.

Apa yang kita makan akan menjadi sumber kehidupan bagi sel-sel tubuh kita. Jadi, penting bagi kita untuk mengonsumsi makanan yang bergizi baik. Salah komposisi bahan baku makanan dalam jangka panjang akan memengaruhi tubuh kita.

Hal penting lainnya yaitu olahraga atau aktivitas fisik. Aktivitas ini memiliki banyak manfaat seperti mengurangi lemak tubuh, meningkatkan lifespan atau rentang hidup kita, mengoksigenasi tubuh, menguatkan otot dan jantung, mempertahankan mobilitas, meningkatkan memori dan koordinasi, dan sebagainya.

Selain makanan dan olahraga, kita juga perlu tidur atau beristirahat dengan cukup. Jumlah waktu untuk tidur yang bagus adalah 7 jam setiap hari (dalam keadaan deep sleep).

Mari kita bersama-sama cegah DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat!

2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *