Sehat

Juara Tambora Challenge 2019 Berbagi Tips Sehat dan Bugar di Bulan Puasa

Salah satu kenangan di Facebook hari ini mengingatkan saya pada peristiwa yang terjadi pada 7 Mei 2016. Pada kenangan tersebut, sebuah foto saya unggah 3 tahun silam menggambarkan sebuah nomor BIB yang sedang saya pegang. Waktu itu menjelang jam 12 malam, beberapa saat sebelum saya bersiap memulai lomba lari Merapi Ultra Marathon 50K.

Pada event lari tersebut saya pertama kalinya berkenalan dengan dua pelari ultra marathon, yaitu Dzaki Wardana dan Eni Rosita. Perkenalan tersebut terus berlanjut dengan pertemanan sampai saat ini, meski lebih banyak berlangsung di media sosial.

Saat pendaftaran lomba sebelumnya, saya bertanya banyak hal kepada Dzaki. Mulai dari rute lomba, elevasi, hingga  hal-hal kecil seperti shuttle bus yang akan disiapkan untuk para peserta. Posisi Dzaki saat itu bukanlah sebagai peserta lomba, melainkan race director. Dialah yang bertanggung jawab atas keseluruhan lomba yang memiliki rute dari Kantor Bupati Sleman hingga berakhir di salah satu tempat di kaki Merapi.

Kenangan 3 tahun yang lalu

Sementara dengan Eni, saya bertemu saat berada di pertengahan rute lomba. Saya dan Eni ikut sebagai peserta lomba, namun berbeda kategori. Saya 50 K, sedangkan Eni 100K. Pagi menjelang siang itu, beberapa jam setelah start perlombaan, saya berjalan tertatih setelah menempuh jarak 30-an kilometer. Masih ada belasan kilometer yang harus saya selesaikan. Saya sudah tertinggal jauh oleh para peserta 50 K.

Saat saya tertatih itulah Eni berlari melewati saya. Eni telah menyelesaikan 80-an kilometer dan berhenti sejenak untuk menanyakan keadaan saya. Kemudian ia memberikan gel pereda rasa sakit pada otot kepada saya, dan kembali melanjutkan berlari. Pada akhirnya, Eni berhasil menjadi juara pertama di kategori 100 K wanita tersebut.

Tanggal 1-4 Mei 2019 kemarin perhatian dari penggemar lari di tanah air tertuju pada Tambora Challenge atau Lintas Sumbawa 2019, sebuah lomba lari yang diadakan oleh Kompas. Rute lari menempuh jarak 320 K di Pulau Sumbawa, berawal dari Poto Tano dan berakhir di Doro Ncanga. Tambora Challenge ini dikenal sebagai ultra marathon terberat di Asia Tenggara.

Tantangannya tidak hanya terletak pada panjangnya jarak tempuh, tetapi juga suhu di Sumbawa yang bisa mencapai 40 deraiat Celsius. Ada Sembilan matahari di Sumbawa, begitulah ungkapan dari para peserta untuk menggambarkan betapa panasnya udara di sana.

Eni dan Dzaki ikut sebagai peserta lomba. Eni turun di nomor individual wanita yang mengharuskan peserta menyelesaikan 320 K seorang diri. Sedangkan Dzaki turun di nomor relay atau estafet pria, di mana ia dan rekannya Furqoni masing-masing kebagian jarak 160 K.

Pada kilometer 130 hingga 160, Eni dan Dzaki berlari beriringan. Keduanya secara bersama-sama masuk di check point KM 160. Posisi sementara hingga 160 K tersebut, Eni memimpin di urutan pertama kategori individu wanita sedangkan Dzaki di urutan kedua estafet pria. Eni terus melanjutkan lomba, sementara Dzaki digantikan oleh Furqoni untuk menyelesaikan 160K berikutnya.

Lomba terus berlanjut, melewati siang dan malam, untuk menguji siapa yang tercepat menyelesaikan jarak yang jauhnya seperti menempuh tol transJawa dari Jakarta ke Pemalang. Eni akhirnya menjadi juara pertama, sedangkan Dzaki-Furqoni juara ketiga.

Eni berhasil mencatatkan diri sebagai juara sebanyak 3 kali berturut-turut, tahun 2017, 2018, dan 2019. Prestasi yang sangat luar biasa. Sedangkan bagi Dzaki, ini menjadi podium keduanya setelah pada tahun 2017 ia menjadi juara kedua di kategori yang sama saat berpasangan dengan Ari Iskandar.

Pencapaian luar biasa dari Eni dan Dzaki tersebut tentunya tidak terlepas dari pola latihan yang rutin dan disiplin, dan juga memerhatikan asupan gizi. Bulan puasa juga bukanlah alasan untuk tidak berlatih. Dan di awal bulan puasa kali ini, ada baiknya bila kita belajar dari Eni dan Dzaki bagaimana menjaga stamina agar tetap bugar dan sehat selama Ramadan.

Selain sebagai pelari, Eni dalam kesehariannya menjadi konsultan konstruksi dan ibu rumah tangga.  Bagi Eni, makna Ramadan adalah pengendalian diri dan pengendalian emosi. Hal ini seperti saat berlari ultra marathon yang membutuhkan kesabaran sampai tiba di garis finish, yaitu di hari kemenangan. Perlu adanya keseimbangan antara menjadi pelari, konsultan konstruksi, dan sekaligus ibu rumah tangga. Untuk itulah dibutuhkan komitmen yang tinggi.

Pada bulan puasa tentunya waktu untuk berlatih menjadi lebih terbatas. Eni membagikan beberapa tips untuk tetap bugar selama Ramadan. Yang pertama, asupan makan perlu diperhatikan. Asupan yang baik dan seimbang saat sahur dan berbuka puasa menjadi hal yang mutlak diperlukan. Selain itu, perlu untuk memperbanyak konsumsi makan sayur dan buah, karena memiliki kandungan serat yang baik. Tidak ketinggalan, hindarilah mengonsumsi makanan yang pedas dan berminyak.

Kedua, tetaplah beraktivitas seperti biasa dan berolahraga saat berpuasa. Tentu saja olahraga dengan intensitas ringan yang dilakukan. Di akhir pekan, Eni tetap melakukan jogging sebelum waktu berbuka puasa. Sementara di weekdays, ia memilih melakukan yoga setelah tarawih.

Dzaki juga setuju mengenai pentingnya memerhatikan asupan makanan dan tetap beraktivitas saat menjalankan puasa. Salah satu kunci untuk menjaga stamina saat berpuasa terletak pada persiapan saat sahur. Dzaki menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang rendah karbohidrat, atau bisa juga makanan yang mengandung karbohidrat kompleks misalnya oatmeal atau beras merah sebagai pilihan utama. Bahan makanan dengan kandungan protein tinggi juga bisa dijadikan pilihan, seperti telur, ikan, atau daging. Buah-buahan seperti pisang ambon dan apel bisa ditambahkan. Selain itu, jangan lupa untuk meminum air putih serta multivitamin seperti vitamin C dan B Kompleks saat sahur. Dzaki biasanya minum air putih 1 liter sebelum waktu subuh.

Mengenai pola latihan, selama berpuasa jadwal belari bisa mengikuti kebiasaan tubuh. Jika terbiasa berlari atau berolahraga pada pagi hari, maka lakukanlah hal tersebut sekitar jam 05.30 saat matahari belum terlalu panas. Dzaki mengaku lebih cocok melakukan latihan pada saat pagi karena pada waktu itu tubuh masih menyimpan cukup energi hasil makan sahur. Sementara pada waktu sore hari menjelang berbuka puasa, tubuh sudah berada pada fase low energy yang membuat terasa lemas saat berolahraga.

Nah, itu tips-tips untuk tetap menjaga stamina agar tetap sehat dan bugar selama menjalankan puasa oleh Eni dan Dzaki, para juara Tambora Challenge atau Lintas Sumbawa 320 K. Rekan-rekan perlu memerhatikan pola makan dan tetap berolahraga selama Ramadan, tentunya disesuaikan dengan aktivitas harian masing-masing.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *