Destinasi Sumatera

Potret Pagi di Tanjung Binga

Hari sudah beranjak terang ketika saya sampai di Tanjung Binga, sebuah desa nelayan yang berada di pesisir barat laut Pulau Belitung. Tanjung Binga berjarak sekitar 18 kilometer dari Tanjung Pandan. Pagi itu saya singgah sebentar di desa nelayan tersebut sebelum menuju ke Tanjung Kelayang yang masih berjarak sekitar 10 kilometer lagi.

Nama Tanjung Binga sepertinya jarang disebut pada beberapa referensi di dunia maya yang sempat saya baca sebagai destinasi wisata di Belitung. Informasi mengenai tempat tersebut saya peroleh dari ittinerary yang diberikan oleh seorang teman, yang sebelumnya pernah ke Belitung.

Sepeda motor saya kendarai dengan lambat begitu memasuki jalan desa sekitar jam tujuh kurang. Aktivitas jual beli hasil laut terlihat pada satu-dua tempat di tepi jalan aspal dengan lebar sekitar 4-5 meter tersebut. Beberapa mobil pick-up juga terlihat dan siap mengangkut tangkapan para nelayan. Di sebelah kanan jalan, beberapa belas meter di belakang rumah-rumah penduduk, terlihat banyak perahu nelayan yang telah bersandar.

Setelah memarkir motor, saya segera berjalan kaki menuju tempat tersebut. Panggung-panggung kayu berjajar di sepanjang pantai yang sebagian besar dipenuhi oleh ikan-ikan berukuran kecil yang sedang dijemur. Dengan berjalan berhati-hati di atas panggung kayu tersebut, saya mencoba melihat lebih dekat aktivitas yang sedang berlangsung pagi itu. Seorang ibu tengah mengatur ikan-ikan untuk dijemur. Biasanya perlu waktu sekitar dua hari agar ikan bisa kering dan siap untuk dijual, demikian kata ibu tersebut kepada saya.

Di belakangnya, ada sebuah bangunan sederhana dan tampak dua ibu lainnya di dalamnya. Keduanya sedang membersihkan ikan-ikan pada keranjang yang dimasukkan ke dalam drum yang berisi air. Jika telah selesai, maka keranjang tersebut diangkat oleh keduanya dan ikan-ikan di dalam keranjang dituang di tempat penjemuran. Ibu yang pertama tadilah yang selanjutnya bertugas mengatur ikan-ikan tersebut sedemikian rupa.

Saya berpamitan dan meninggalkan tempat tersebut. Dua pria tampak sedang berbincang, sementara di dekatnya terdapat tiga ember berisi penuh cumi-cumi yang telah dibersihkan. Tiba di tepi jalan dimana saya memarkir sepeda motor, saya melihat seorang ibu dengan sepeda kayuhnya yang sedang berjualan makanan. Saya menghampirinya dan membeli tiga bungkus ketan dan dua potong ikan asin goreng sebagai lauk seharga 3 ribu untuk sarapan. Seorang bapak juga sedang menikmati menu yang sama dan kami berdua terlibat dalam obrolan ringan pagi itu.

Usai sarapan, saya melanjutkan perjalanan. Baru beberapa menit mengendarai motor, tampaklah dermaga Tanjung Binga di sebelah kiri jalan yang tidak saya lihat (terlewat) pada saat tiba tadi. Saya pun membelokkan sepeda motor menuju dermaga tersebut. Hanya sedikit perahu yang bersandar pada dermaga, mungkin karena hari telah beranjak siang. Pukul 7.15 saya pun meninggalkan Tanjung Binga menuju Tanjung Kelayang.

12 thoughts on “Potret Pagi di Tanjung Binga”

  1. Tanjung Binga, tampaknya harus lebih dipopulerkan juga sebagai salah satu tujuan wisata di tanah Belitung. Harga tiga bungkus ketan dan dua ikan asin hanya Rp.3000, murah sekali ya? Sebanyak apa bungkusan ketannya? 🙂

  2. Selalu senang mengamati kehidupan penduduk lokal terutama di tepi laut seperti Tanjung Binga ini. Apalagi kalau bisa beli ikan dan dimasak langsung di sana, pasti lebih nikmat lagi.

    Btw, Tanjung Binga ini merupakan kawasan wisata atau sentra penjualan ikan seperti pasar ikan atau desa nelayan yang juga merangkap kawasan wisata ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *