Destinasi

Rambu Solo, Upacara Pemakaman Jenazah di Toraja

Rambu Solo di Toraja

Rambu Solo adaah upacara pemakaman jenazah di Toraja. Nama Tana Toraja pertama kali saya kenal dari permainan monopoli waktu kecil dulu. Jika waktu itu hanya tangan saya saja yang menyentuh petak kecil bertuliskan Toraja dengan cara menggerakkan bidak permainan, tak disangka akhirnya saya bisa menginjakkan kaki ke tempat yang berada di provinsi Sulawesi Selatan dan memiliki alam yang indah serta budaya yang juga khas ini sekitar lima tahun lalu.

Salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Toraja adalah Rambu Solo, sebuah upacara pemakaman jenazah yang dilakukan oleh masyarakat yang menganut Aluk To Dolo (kepercayaan yang dianut masyarakat Toraja). Rambu Solo biasanya memerlukan waktu berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu.

Pelaksanaannya terkadang baru digelar setelah berbulan-bulan sejak berpulangnya yang bersangkutan. Seperti yang saya lihat di salah satu wilayah di Rantepao, Rambu Solo dilakukan setelah kurang lebih 7 bulan dari waktu meninggal.

Rambu Solo di Toraja

Sekitar jam 9 pagi saya tiba di lokasi. Beberapa kerbau terikat pada tongkat bambu di seberang jalan dari tempat berlangsungnya Rambu Solo. Ketika saya masuk, saya melihat juga beberapa kerbau dan babi yang ada di lapangan tempat berlangsungnya acara (disebut rante). Di sekeliling rante, terdapat pondok-pondok dari kayu yang disebut lantang, yang sudah diberi nomor-nomor. Karena acara belum dimulai, saya pun duduk di salah satu pondok.

Baca juga: Masjid dan Gereja dalam Satu Pagar, Potret Toleransi Beragama di Minahasa

Acara yang akan saya lihat saat itu adalah penerimaan tamu, salah satu rangkaian dari upacara Rambu Solo. Sebelum acara penerimaan tamu tersebut (hari sebelumnya), sudah dilakukan acara pemindahan jenazah dari rumah duka menuju tempat berlangsungnya acara.

Tamu-tamu mulai berdatangan, juga beberapa rombongan pengunjung serta wisatawan asing yang salah seorang dari mereka sempat saya tanya mengenai negara asalnya dan dijawabnya mereka dari Israel. Dan setelah menunggu beberapa lama, sekitar jam 10 pagi acara hari itu pun dimulai.

Rambu Solo di Toraja

Sekelompok wanita memukul lesung beberapa menit, sebagai suatu tanda. Tak lama kemudian di sisi lain, tiga laki-laki berpakaian merah dan selempang putih menarikan tarian pa’randing (tari perang) sambil membawa perisai atau tameng. Di belakang ketiga pria (mereka disebut to ma’randing) tersebut, rombongan keluarga/kerabat akan mengikutinya dan bergerak menuju salah satu pondok tempat penerimaan tamu.

Rambu Solo di Toraja

Setelah keluarga/kerabat duduk di tempat yang disediakan, masuklah sekumpulan laki-laki yang mengenakan baju berwarna oranye dan melilitkan kain hitam yang menutupi pinggang hingga kaki. Mereka membentuk lingkaran, berpegangan tangan, menari dan menyanyikan hymne kematian. Mereka ini disebut dengan to ma’badong.

Rambu Solo di Toraja

Pemimpin acara kemudian membacakan pemberian apa yang dibawa oleh para tamu, datang dari mana dan pemberian ditujukan kepada siapa. Pembacaan ini sangat panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Sekitar jam 11 siang saya pun menyudahi kunjungan hari itu dan bertolak menuju tempat lain.

Sebenarnya masih ada acara lainnya, yaitu adu kerbau di sore harinya (wah, sayang saya harus melewatkannya). Dan keesokan harinya akan dilanjutkan dengan pemotongan kerbau-kerbau secara massal, hingga akhirnya jenazah dimakamkan.

Itulah sebagian acara Rambu Solo yang sempat saya saksikan beberapa waktu yang lalu. Sebuah upacara unik masyarakat Toraja yang menjadi salah satu keragaman budaya nusantara.

12 thoughts on “Rambu Solo, Upacara Pemakaman Jenazah di Toraja”

  1. Baru tahu upacaranya berlangsung lebih dari sehari ya. Ada kerbau yg beradu dan juga pemotongan kerbau. Penasaran mksdnya apa pemotongan kerbau itu dagingnya diolah atau bagaimana ya kak?

  2. Kapan lalu pernah nonton upacara pemakaman jenazah Toraja di televisi.

    Selain masih kental unsur budaya dan adat istiadatnya, masyarakat Toraja ini tergolong kelompok etnik yang memegang teguh hukum adat ya. Merinding tapi keren 😂

  3. Luar biasa ya upacaranya berlangsung lebih dari sehari.

    Baru baru ini saya main ke akun Instagram Riyardi Arisman dan menemukan bahwa harga kerbau di Toraja pun ada yang sampai seharga 1M. Berarti untuk upacara unik begini, banyak sekali biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat di sana ya.

  4. Tanah Toraja ini memang sangat terkenal dengan budayanya. Sering pula muncul di acara-acara televisi. Sewaktu kecil saya sering liat Tana Toraja ini sering muncul di acara seperti Laptop si Unyil, Si Bolang, On The Spot, dan lain sebagainya.

  5. Setiap provinsi pasti memilimi keunikan tersendiri ya kak, tentu harus kita junjung tinggi tradisi tersebut.
    Pastinya jadi pengalaman menarik bisa melihat langsung prosesi pemakaman jenazah khas Toraja, tapi sayang gak diselesaikan sampai habis.

    Jadi tak heran wisatawan baik lokal maupun mancanegara tertarik untuk melihat prosesi ini.

  6. Wah, keren Mas Danaiel udah pernah ke Toraja aja. Ga cuma upacaranya yang memikat dan unik, tapi kopinya juga sangat autentik. Jadi pengin pelesiran ke sana nih. Bisa diabadikan dalam foto dan tulisan di blog. Masih pakai lesung ya, jadi ingat masa kecil. Sekarang lesung udah ga ada lagi di kampung.

  7. Wah hal baru lagi nih yang saya kenal dari Tana Toraja. Daerah memiliki banyak budaya daerah yang khas dan nggak ada di daerah lain.. saya pernah punya hiasan dinding dari lembaran pelepah batang daun kelapa, unik banget

  8. Selama ini cuma dengar sekilas saja mengenai upacara pemakaman orang toraja yang konon bisa menghabiskan uang hingga puluhan juta. Nggak heran kalau upacara kematiannya baru berlangsung setelah berbulan-bulan setelah wafat karena butuh banyak persiapan juga ya.. baca postingan ini baru dapat gambaran ritualnya seperti apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *