Hiburan

Review Film Milea: Suara dari Dilan

Milea Suara dari Dilan

Kamis (13/02), sehari menjelang Hari Valentine, film ‘Milea: Suara dari Dilan’ akhirnya ditayangkan di layar bioskop. Film ini menjadi kelanjutan dari dua film sebelumnya, yaitu ‘Dilan 1990’ dan ‘Dilan 1991’. Para pecinta Dilan dan Milea pun bisa menyaksikan kembali kisah asmara mereka.

Tokoh utama dalam film Milea: Suara dari Dilan ini masih sama, yaitu Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Pemeran lainnya antara lain Ira Wibowo, Bucek Depp, Happy Salma, Farhan, Yoriko Angeline, Debo Andryos, Zulfa Maharani, Gusti Rayhan, Omara Ssteghlal, Adhisty Zara, Giulio Parengkuan, serta Andovi da Lopez.

Jika Dilan 1990 dan Dilan 1991 mengambil sudut pandang dari Milea, maka Milea: Suara dari Dilan menggunakan sudut pandang Dilan. Sang ketua genk motor ini menjadi narator, yang sekaligus mencurahkan isi hatinya atas hubungannya dengan Milea.

Film Milea: Suara dari Dilan yang bergenre drama ini memiliki durasi 102 menit. Pada sekitar 60 menit pertama, kita diajak untuk flashback pada dua film pendahulunya. Kita kembali melihat bagaimana awal mula Dilan berkenalan dan mendekati Milea. Keduanya kemudian resmi berpacaran yang ditandai dengan deklarasi bermaterai. Kisah ini ada pada film Dilan 1990.

Dilanjutkan dengan flashback ke Dilan 1991 yang mengingatkan kita pada konflik yang terjadi, hingga akhirnya membuat Milea memutuskan hubungan dengan Dilan. Penyebabnya, Milea tidak setuju Dilan berada dalam genk motor yang berujung pada meninggalnya salah satu anggota genk motor akibat dikeroyok sekelompok orang. Di akhir Dilan 1991 ini, Milea akhirnya menemukan pacar baru saat ia melanjutkan kuliah dan kemudian menikahinya.

Setelah flashback dalam durasi sekitar 1 jam, pada bagian berikutnya kita akan melihat bagaimana Dilan menjalani hidupnya setelah putus dengan Milea. Dikisahkan Dilan melanjutkan kuliah di Yogyakarta, ayah Dilan yang meninggal dunia dan Milea yang datang ke pemakamannya, Dilan diterima magang di sebuah perusahaan di Jakarta, hingga reuni SMA di Bandung yang mempertemukan kembali Dilan-Milea.

Seri terakhir dari trilogi percintaan Dilan dan Milea ini seakan menjadi sebuah antiklimaks. Dilan 1990 menyuguhkan keceriaan dan kelucuan kisah cinta di SMA. Rayuan gombal seperti “Rindu itu berat, kamu tidak akan kuat. Biar aku saja” menjadi sesuatu yang segar dan akan diingat oleh penonton.

Sementara Dilan 1991 menghadirkan suasana yang lebih tegang. Kita akan larut pada pertengkaran antara Dilan dan Milea, hingga akhirnya hubungan mereka berakhir.

Pada film Milea: Suara dari Dilan, separuh durasi yang menghadirkan flashback malah membuat film ini agak membosankan. Memang ada kisah tambahan yang belum diceritakan sebelumnya, namun porsi flashback yang terlalu lama terasa kurang menarik bagi penonton yang sudah menonton kedua film sebelumnya.

Jika keceriaan, kelucuan, dan kesegaran bisa dirasakan di film pertama, serta ketegangan begitu terasa di film kedua, maka aura kelesuan hadir di fim ketiga. Mungkin hal ini sengaja dihadirkan agar penonton ikut merasakan betapa kurang bergairahnya Dilan setelah ditinggakan Milea.

Bagaimanapun juga, ada sebuah pesan moral yang disampaikan kepada kita. Menyaksikan Milea: Suara dari Dilan ini, kita diajak bersikap lebih dewasa dan bisa menerima bahwa tak semua cerita cinta berakhir indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *