Ekonomi

Topi Bambu, Produk Kerajinan Kabupaten Tangerang

topi bambu

Bulan Desember 2018 yang lalu saya berkunjung ke galeri Topi Bambu. Lokasinya berada di Jalan Raya Serang, Cikupa, Kabupaten Tangerang dan cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Dan kebetulan sekali saya bisa bertemu dengan Kang Agus, pemilik galeri Topi Bambu tersebut. Dengan ramah laki-laki yang memiliki nama lengkap Agus Hasanudin ini menerima saya di galeri tersebut.

Bermacam produk berbahan dasar bambu memenuhi ruang depan dan belakang galeri, seperti topi, kopiah, sombrero, dompet, gantungan kunci, hingga sepatu. Di salah satu dinding, saya melihat sebuah pigura yang di dalamnya terdapat piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Kang Agus yang mengenakan baju batik lengan pendek mulai menceritakan banyak hal, mulai dari latar belakang dirinya hingga soal topi bambu.

Kang Agus adalah putra asli Tangerang dan lulusan Teknik Elektro dari ISTN Jakarta. Selepas kuliah ia bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan, dan sempat ditempatkan di Makasar. Kang Agus sering mencatat apa yang dikerjakannya seperti memperbaiki mesin, hingga akhirnya ia membuat buku manual yang bisa dipergunakan sebagai panduan baik bagi dirinya maupun rekan-rekannya.

Kang Agus kemudian dipindahkan ke kantor di Jakarta, hingga kemudian ia memutuskan resign beberapa tahun lalu. Kegemarannya menulis terus dilakukannya, misalnya dengan menulis di blog pribadi. Melalui tulisannya, Kang Agus aktif mempromosikan potensi-potensi yang ada di Kabupaten Tangerang, salah satunya yaitu topi bambu.

Topi bambu sebagai produk kerajinan asli Tangerang sendiri keberadaannya sudah ada sejak tahun 1887 pada masa pendudukan Belanda. Topi bambu kala itu bahkan sudah diekspor ke Amerika dan Eropa.

Baca juga : Di Tebing Koja, Berkunjung ke Kandang Godzila

Upaya Kang Agus mempromosikan topi bambu melalui tulisannya di dunia maya menarik minat pembeli. Mau tak mau Kang Agus bersama komunitas Topi Bambu yang berdiri pada rahun 2011 harus menjalin mitra dengan para perajin topi bambu.

Saat ini Kang Agus memiliki mitra sebanyak 20 orang untuk membuat UMKM topi bambu. Dengan bermodal kepercayaan yang ia peroleh dari para perajin, Kang Agus mulai berjualan topi bambu, tanpa modal. Ia juga mendirikan galeri topi bambu untuk melestarikan topi bambu tersebut. Sebuah penghargaan dari MURI berhasil didapatkan pada tahun 2011 melalui topi bambu terbesar dengan diameter 2 meter.

Galeri topi bambu yang ukurannya tidak terlalu besar tersebut sering diliput beberapa stasiun televisi tanah air. Tidak hanya itu, tamu dari luar negeri juga pernah berkunjung ke galeri ini.

Berbagai upaya secara gencar terus dilakukan oleh Kang Agus dan komunitas Topi Bambu untuk melestarikan produk lokal dari Tangerang ini. Promosi terus dilakukan secara konsisten, mulai dari keikutsertaan pada pameran lokal dan nasional bahkan hingga mencari relasi ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Produk topi dan kopiah bambu selain diminati masyarakat biasa, juga dipesan oleh tokoh agama dan politik, KPUD saat pilkada beberapa waktu lalu, hingga partai politik. Kang Agus sendiri pernah mendapatkan order dari Jepang untuk mengirimkan produk sebanyak satu kontener. Namun karena keterbatasan kapasitas, permintaan ini tidak dipenuhi.

Kang Agus terus mencoba mengembangkan anyaman bambu tidak hanya menjadi topi, tetapi juga menjadi produk lain. Salah satunya adalah produk sepatu, yang sempat pernah akan dipamerkan di salah satu pameran di Bali.

Baca juga: Warna-warni Inspirasi di Kampung Bekelir Tangerang

Namun sayangnya beberapa saat sebelum pameran, ada bagian sepatu yang lepas lemnya. Hingga saat ini Kang Agus terus mencoba memperbaiki kualitasnya agar produk sepatu ini bisa dipasarkan suatu saat nanti.

Selain memasarkan dan mengembangkan produk topi bambu, Kang Agus juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Ia membuka pendidikan non formal Sekolah Bambu yang mengedukasi masyarakat untuk siap berwirausaha.

Kegiatan Sekolah Bambu tersebut berupa pemberdayaan masyarakat terhadap hal-hal yang terkait dengan bambu. Misalnya tentang pembibitan, pembuatan kontruksi, pembuatan anyaman dan produk lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *