Sehat

Kelola Hidup Lebih Baik dengan Aplikasi Mindtera

kelola hidup lebih baik dengan aplikasi Mindtera

Selama hidup, kita tidak pernah lepas dari masalah. Kita perlu hadapi tiap masalah yang ada serta kelola hidup lebih baik. Salah satu caranya yaitu dengan aplikasi Mindtera.

Masalah yang kita alami bisa terjadi di lingkup pekerjaan, keluarga, asmara, dan lainnya. Jika terus-menerus terjadi tanpa penanganan yang baik, masalah bisa membuat kita menjadi stres. Situasi ini akan membawa dampak negatif terhadap tubuh kita, baik secara fisik maupun mental.

Perkenalan Awal dengan Mindtera

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah gathering berjudul “Kelola Hidup Lebih Baik dengan Aplikasi Mindtera: Kelola Stres dengan Berkesadaran”. Acara yang didakan melalui Zoom Meeting ini dihadiri para narablog sekaligus menjadi perkenalan awal dengan Mindtera.

Delapan Kecerdasan

Dalam sambutannya, co-founder Mindtera Bayu Bhaskoro mengungkapkan bahwa sejak kita berada di tingkat pendidikan dasar hingga menengah, atas, bahkan tinggi, kecerdasan intelektual (IQ) menjadi tolok ukur utama. Padahal kita memiliki 8 jenis kecerdasan, bukan hanya IQ, dan setiap kita perlu mengasah kecerdasan yang lebih kita kuasai.

Delapan kecerdasan manusia terdiri dari kecerdasan visual (spasial), kecerdasan linguistic-verbal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan intrapersonal (emosional), kecerdasan interpersonal (sosial), kecerdasan musikal, kecerdasan logis-matematis, daan kecerdasan naturalistic.

Manajemen Stres di Pekerjaan: Burnout di Pekerjaan

Sesi berikutnya dalam pertemuan tersebut membahas tentang manajemen stres di pekerjaan dengan fasilitator Devy Chan. Saat kita mengalami stres di pekerjaan yang berulang kali tanpa mampu untuk mengelolanya, bisa saja kita berada pada level burnout.

Burnout adalah keadaan di mana kita mengalami stres cukup berat sehingga mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosi akibat pekerjaan yang berkepanjangan. Tanpa kita tidak sadar, kita sudah kehabisan tenaga dan hilang semangat untuk bekerja. Tiga tanda yang perlu diperhatikan ketika stress mulai menjadi burnout, yaitu kelelahan, ketidakefektifan kerja, dan sinisme terhadap pekerjaan.

Hal-hal yang bisa membuat kita mengalami job burnout antara lain pekerjaan yang terlalu banyak, atau selalu lembur. Atau bisa juga atasan yang tidak kooperatif, rekan kerja yang tidak kooperatif, lingkungan pekerjaan yang cenderung negatif misalnya tidak membantu tetapi cenderung saling menyalahkan tanpa memberi solusi.

Penyebab lainnya dari burnout di pekerjaan yaitu tidak ada apresiasi terhadap pekerjaan yang sudah dilakukan, jarak tempat pekerjaan dan tempat tinggal yang jauh, stres terjebak macet di jalan, gaji yang tidak sesuai, bekerja tidak sesuai minat dan bakat, dan masih banyak lagi.

Strategi untuk mengatasi burnout pekerjan ini perlu mempertimbangkan apakah kita termasuk tipe intrinsik atau ekstrinsik dalam bekerja. Tipe intrinsik, yaitu orang-orang yang sumber motivasinya dari melakukan pekerjaan itu sendiri. Misalnya bekerja sebagai bagian dari berkarya, menikmati proses kerja, puas dan bahagia ketika melakukan pekerjan, puas karena berkontribusi pada orang lain dan bidang industri pekerjaan, serta bekerja yang berdampak pada personal growth.

Jika kita termasuk tipe intrinsik, strategi yang bisa dilakukan yaitu dengan menemukan ilmu baru untuk memperkaya pekerjaan saat ini (inspirasi). Atau bisa juga dengan mengingat kembali aspek yang kita sukai dari pekerjaan saat ini, mengingat kembali nilai hidup yang berhubungan dengan pekerjaan, serta mengingat kembali dampak dari hasil pekerjaan.

Sedangkan tipe ekstrinsik, yaitu orang-orang yang sumber motivasinya dari luar atau lingkungan. Cirinya yaitu termotivasi oleh reward dan insentif, melakukan pekerjaan agar terhindar dari sesuatu (seperti menganggur, tidak dimarahi orang tua, tidak dipecat), memisahkan hubungan personal dan profesional, termotivasi oleh status, jabatan, atau fasilitas.

Untuk tipe ekstrinsik, kita bisa menggunakan strategi misalnya mencari hal-hal baru yang kita sukai di luar pekerjaan yang saat ini dilakukan. Juga dengan mengingat kembali hal-hal yang selama ini didapatkan berkat pekerjaan (hubungan, uang, fame, award), mencoba menemukan value diri, mengingat kembali bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia dan berdampak pada orang lain.

Pengalaman Menggunakan Aplikasi Mindtera

Mindtera Aplikasi adalah aplikasi edutech pengembangan diri melalui multiple intelligence pertama di Indonesia. Aplikasi ini bisa diunduh di Android dan iOS. Setelah mengikuti gathering, saya mencoba menggunakan fitur atau layanan yang disediakan Mindtera. Ada beberapa kategori yang bisa dipilih, yaitu kerja, cinta, dan keluarga.

Saya memilih satu program dari kategori keluarga, yaitu “Berkelana Bersama Duka” yang dibawakan oleh Nissa Muluk. Ia adalah seorang community facilitator dan juga announcer Cosmopolitan FM, former announcer Hard Rock FM dan Indika FM.

Mindtera – Program berjenjang tidak lebih dari 5 menit sehari dan dibawakan oleh fasilitator profesional dan berpengalaman. Pada program Berkelana Bersama Duka, ada 5 sesi video di mana masing-masing sesi berdurasi 3 menit saja. Cukup singkat, namun padat dan bermanfaat.

Berkelana Bersama Duka

Alasan saya memilih program atau tema Berkelana Bersama Duka ini yaitu saya pernah merasakan duka yang bagi saya begitu berat, ketika saya kehilangan salah satu anggota keluarga. Saat duka itu datang, ada perasaan sedih, kecewa, bingung bercampur jadi satu. Bukan hal mudah bagi saya saat itu untuk merasa baik-baik saja.

Beberapa tahun lalu, saya kehilangan seorang adik. Ia sakit, hanya beberapa hari saja, lalu berpulang. Kepergian yang begitu cepat ini membuat banyak anggota keluarga kami shock. Dalam salah satu tulisan blog, saya ungkapkan apa yang saya rasakan di awal masa-masa tersebut.

Saya sebenarnya ingin segera cepat move on dari peristiwa tersebut. Namun, saya butuh waktu cukup lama untuk bisa bangkit kembali. Ternyata, ada tahap atau fase melalui duka yang baru saya ketahui setelah mengikuti program Berkelana Bersama Duka di Mindtera. Dikatakan dalam program tersebut, menurut teori Kubler-Rose ada beberapa fase yang dilalui dalam memproses duka.

1. Penyangkalan

Ada rasa penolakan ada penyangkalan untuk mengakui kenyataan bahwa orang yang kita cintai benar-benar sudah pergi selamanya. Hal ini ditandai dengan banyak pertanyaan “Apakah ini benar?”, “Ini mimpi, kan?”, dan pertanyaan lainnya.

Penyangkalan menjadi mekanisme pertahanan diri yang wajar dirasakan oleh semua manusia. Penyangkalan tidak perlu ditakutkan, namun cukup dirasakan jika rasa itu muncul. Kita perlu mengakuinya dan menjadikan rasa ini sebagai awal dari proses duka yang ada.

2. Mengarahkan Amarah

Ada kalanya kita bisa menerima kehilangan, tapi tidak berarti kita kemudian baik-baik saja. Karena rasa kehilangan itu akan berubah menjadi sebuah kemarahan. Marah bisa dikarenakan blame, guilt, atau scare. Kita perlu mengambil jeda sejenak untuk menggambarkan dengan tepat kemarahan yang sedang dirasakan.

Apakah marah karena menyalahkan, siapa yang disalahkan atas kehilangan yang dirasakan: diri sendiri, orang lain, keadaan, atau Tuhan?

Apakah marah karena ada perasaan bersalah tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada orang yang dicintai, atau merasa seharusnya masih bisa mengusahakan yang maksimal agar mereka tidak pergi secepat itu?

Atau adakah rasa takut karena ditinggalkan serta rasa malu karena ada pandangan berbeda dari orang terhadap status kita?

3. Menawar Hati dan Rasa

Di tahap ini muncul keinginan untuk menawar rasa sedih atau kehilangan yang dirasakan agar tidak lagi terasa begitu menyakitkan. Kita ada dalam situasi berandai-andai atau what if situation.

Seandainya saja aku dulu lebih peka terhadap tanda-tanda kepergiannya,
Tahu gitu aku kan bisa memberikan bantuan yang maksimal lagi,
dan masih banyak lagi pengandaian lainnya.

Pengandaian tersebut wajar kita pikirkan, dan merupakan pengalihan rasa sakit yang bersifat sementara. Tetapi jangan lupa, pengandaian tidak akan mengubah keadaan yang telah terjadi karena kita tidak hidup di masa lalu.

Kehilangan tidak diharapkan oleh siapa pun, jadi kita tidak perlu menyalahkan. Ketika kita bisa menyadari bahwa kematian sesungguhanya adalah hak prerogatif dari Sang Maha Pencipta, maka kita perlahan bisa mulai belajar menerima proses penyembuhan luka.

4. Lepas Kendali Emosi (Depresi)

Ada kalanya rasa kehilangan itu begitu besar sehingga kita keawalahan untuk menerimanya. Semuanya bercampur jadi satu dan akhirnya membuat kita menjadi depresi.

Depresi juga salah satu tahap dalam proses berduka. Tapi depresi ini bukanlah sebuah mental illness atau penyakit mental, melainkan sebuah respon wajar untuk sebuah kesedihan. Tanda-tandanya beragam, mulai dari gangguan tidur, gangguan makan, hingga gangguan pada motivasi hidup.

Walaupun wajar, jangan sampai depresi bertambah besar dan tidak dapat dikendalikan. Kita tak perlu merasa malu jika harus menangis. Menangis adalah reaksi atau ekspresi manusiawi yang sehat. Selanjutnya, kita perlu mencari orang yang bisa membuat nyaman dan aman untuk mencurahkan perasaan. Atau jika perlu, kita bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

“Asking for help is not selfish. Refusing to ask is.”

Meminta tolong adalah tanda kekuatan kita, bukan tanda kelemahan. Dengarkan diri kita, apa yang dia butuhkan saat ini, dan berikan.

5. Menerima Segala Duka (Penerimaan)

Mau menerima berarti kita dengan sadar mau menerima realita yang ada. Bukan berarti kita sudah melupakannya. Bukan berarti kita baik-baik saja atas kesedihan itu.

Tetapi kita belajar berdampingan dengan hidup yang harus kita jalani saat ini, hidup yang berbeda dari sebelumnya. Kita harus mau belajar menerimanya dengan lapang dada dan mulai mencoba membuat skenario baru untuk hidup kita.

Memang, tidak ada yang menyukai perubahan. Karena semua perubahan pasti mengganggu kenyamanan. Dari kehilangan inilah kita diajak belajar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan itu sendiri.

Menyembuhkan rasa berduka adalah sebuah proses. Setiap orang punya proses yang berbeda. Ada yang langsung dapat menerima, tetapi ada juga yang harus berada di tahap penyangkalan lebih lama. Jadi, tidak perlu membandingkan proses yang kita alami dengan proses orang lain. Jalani saja prosesnya dan kembali dengan lebih kuat lagi.

Kesan Menggunakan Aplikasi Mindtera

Setelah mengikuti setiap sesi di program Berkelana Bersama Duka, saya bisa menyadari bentuk dari rasa duka dalam setiap tahapannya. Saya menilai program ini bisa membantu kita untuk melalui setiap proses duka, belajar memaafkan diri, serta belajar menerima dan mulai menyembuhkan luka.

Fasilitator Nissa Muluk mampu membawakan program tersebut dengan baik. Ia mampu mengomunikasikan materi program, sehingga saya bisa memahami dan belajar dengan baik.

Mindtera merupakan platform edukasi untuk belajar kecerdasan emosi, sosial, fisik dan pengembangan diri seputar keluarga, cinta, dan kerja. Program-program yang ada sangat membantu kita menghadapi masalah. Mindtera bantu Kelola Hidup Lebih Baik dan #SemuaBisaDikelola.

Yuk, kita berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Kelola perasaan serta pikiran dengan aplikasi Mindtera. Temukan informasi lebih lanjut di website www.mindtera.com dan akun media sosial Mindtera.

Share this:

2 thoughts on “Kelola Hidup Lebih Baik dengan Aplikasi Mindtera”

  1. Spesifik banget ya ini platform, kalau baca infonya seseorang bisa jadi lebih mengenal siapa dirinya dan minimal bisa tahu caranya juga kalau lagi hadepin masalah kan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *