Sehat

Deteksi dan Pengobatan Kanker Hati

kanker hati

Kanker hati adalah salah satu kanker yang sering disebut sebagai silent killer karena tidak memiliki gejala yang khas. Umumnya pasien datang terlambat untuk mencari pengobatan. Mereka tidak menyadari jika mengidap hepatitis dan tidak melakukan skrining berkala (surveilans).

Global Cancer Incidence, Mortality and Prevalence (GLOBOCAN) 2018 yang dirilis oleh International Association of Cancer Registries (IARC) melaporkan bahwa di Indonesia, kanker hati secara keseluruhan memiliki angka insidensi sebesar 18.468 kasus.

Terkait dengan permasalahan kesehatan tersebut, pada hari Selasa (28/9) diadakan Diskusi Media tentang Deteksi Dini dan Pengobatan Inovatif Imunoterapi untuk Kesintasan Hidup Pasien. Acara ini diadakan melalui Zoom meeting.

Deteksi Dini Kanker Hati

DR. dr. Irsan Hasan, Sp. PD-KGEH, FINASIM dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia menjelaskan bahwa kanker hati merupakan penyebab kematian akibat kanker keempat tertinggi di dunia.

Di Indonesia, kanker hati berada pada posisi di nomor lima (jumlah penderitanya) secara keseluruhan dalam arti gabungan laki-laki dan perempuan. Namun jika dilihat pada laki-laki saja, kanker ini berada di posisi ketiga. Artinya, lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan. Perbandingannya yaitu satu perempuan berbanding empat laki-laki.

Kanker hati menyebabkan kematian tinggi. Umumnya, pasien datang terlambat untuk mencari pengobatan. Mereka tidak menyadari bahwa mengidap hepatitis. Padahal, minimal 1 dari 10 penduduk Indonesia mengidap hepatitis.

Faktor lainnya, mereka tidak melaksanakan skrining secara berkala (surveilans). Juga, tidak ada gejala yang khas. Pada umumnya gejala yang dirasakan bisa nyeri perut, perut membesar, mudah memar dan perdarahan, kulit dan mata menguning, serta berat badan turun.

Baca juga: Cara Menghitung Berat Badan Ideal dengan Benar

Sebagian besar kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut, sehingga program skrining perlu dilakukan. Untuk mendeteksi stadium awal, harus dilakukan skrining berkala pada kelompok risiko tinggi. Kelompok tersebut yaitu pengidap hepatitis, sirosis, keluarga menderita kanker hati, dan lainnya.

Dr. dr. Agus Susanto Kosasih , Sp. PK(K), MARS mengungkapkan pentingnya pemeriksaan rutin (surveilans) pada pasien hepatitis untuk mendeteksi risiko kanker hati. Surveilans sangat penting terutama pada populasi berisiko tinggi, seperti pasien Hepatitis B dan C, serta pasien lain dengan fungsi hati yang tidak normal.

Semakin cepat dideteksi, maka akan semakin cepat penanganan yang tepat. Sehingga, prognosa kanker hati juga akan semakin baik.

Rekomendasi minimal pemeriksaan adalah tiap 6 bulan sekali dengan menggunakan USG dengn tes PIVKA II dan AFP. Kadar PIVKA II diatas nilai normal dapat menjadi penanda dalam surveilans untuk menyarankan pasien mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

PIVKA II lebih sensitif dalam mendiagnosis kanker hati, terutama bila dikombinasikan dengan Tes darah untuk alfa-fetoprotein (AFP). Kombinasi PIVKA II + AFP memberikan akurasi diagnostik yang lebih baik dan dapat mendeteksi lebih banyak pasien kanker pada pasien Hepatitis B dan C.

Baca juga: Mengenal Leukemia (Kanker Darah)

Pengobatan Imunoterapi Kanker Hati

Dulu, pengobatan kanker hati menggunakan terapi sistemik atau kemoterapi. Namun pengobatan ini ternyata gagal. Kemoterapi tidak memperpanjang harapan hidup dan punya banyak efek samping.

Sejak 2008, digunakan terapi target. Obat diberikan untuk menargetkan gen dan protein spesifik yang terlibat dalam pertumbuhan dan pertahanan sel kanker. Kemoterapi dianalogikan seperti pengeboman satu area yang bisa berdampak pada daerah di sekitar target. Sedangkan terapi target seperti sniper yang mengarah kepada sasaran.

Salah satu pilihan terapi sistemik yaitu adalah obat imunoterapi atezolizumab dengan kombinasi bevacizumab. Obat tersebut telah mendapat persetujuan dari BPOM untuk pengobatan pasien kanker hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut atau yang tidak dapat dioperasi dan belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya.

Baca juga: Cek Hoaks dan Fakta Kesehatan

Persetujuan BPOM untuk imunoterapi tersebut menandai era baru pengobatan kanker hati. Harapannya, terjadi perbaikan kesintasan pasien yang lebih tinggi sehingga dapat menekan angka kematian yang diakibatkannya.

Obat imunoterapi kanker bekerja dengan cara membantu sistem imun tubuh untuk secara spesifik membunuh sel kanker. Penggunaan Atezolizumab yang dikombinasikan dengan Bevacizumab meningkatkan angka kesintasan hingga 19,2 bulan atau 34% lebih tinggi dibandingkan dengan pengobatan standar.

Selain itu juga mencegah perburukan penyakit hingga 6,9 bulan atau perbaikan hasil pengobatan hingga 35% dibandingkan dengan pengobatan standar untuk pasien kanker hati.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *