Sehat

Cek Hoaks atau Fakta Kesehatan

cek hoaks atau fakta kesehatan

Banyak informasi terkait kesehatan yang kita terima selama pandemi Covid-19. Informasi tersebut tak semuanya valid dan akurat, apakah itu hoaks atau fakta kesehatan. Bagaimana cara mengeceknya?

Kita tentu masih ingat, sejak tahun 2020 lalu beredar banyak informasi tentang pandemi. Mulai dari virus Corona tersebar akibat bocornya laboratorium di Wuhan, mengonsumsi bawang putih dapat mencegah penularan virus, hingga minum antibiotik, alkohol, atau minyak kayu putih yang dicampur air hangat dapat membunuh virus.

Nyatanya, informasi tersebut belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Lantas, bagaimana cara mengetahui apakah informasi tersebut hoaks atau fakta?

Beberapa hari lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti workshop yang diadakan oleh Tempo Institute yang bekerja sama dengan Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur). Workshop tentang Cek Fakta Kesehatan ini sarat dengan informasi dan data terkini.

Intenet dan Hoaks di Indonesia

Internet dan media sosial saat ini berkembang luar biasa. Setiap orang bisa bertukar informasi dengan sesama pengguna media tersebut. Tak hanya itu, siapapun orang bisa memproduksi dan mendistribusikan informasinya sendiri tanpa ada proses moderasi yang ketat. Hanya dalam hitungan detik, suatu informasi bisa langsung diakses dan disebarluaskan oleh warganet.

Indonesia saat ini memiliki populasi sebesar 272,1 juta jiwa. Penggunaan telepon seluler di negara kita sebanyak 338,2 juta atau 124% dari populasi. Sebanyak 175,4 juta penduduk telah menggunakan internet dan 160 juta aktif bermedia sosial.

Namun, penetrasi internet yang tinggi tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di internet. Banyak penduduk Indonesia yang terpapar oleh beragam informasi tanpa literasi memadai.

Indonesia menjadi pengguna internet keempat terbesar di dunia. Sayangnya, hal ini belum diikuti dengan literasi digital. Tingkat literasi Indonesia menempati urutan ke-70 di dunia. Sedangkan indeks literasi digital Indonesia, menurut Kominfo di angka sedang. Hal ini menyebabkan pengguna internet belum bisa membedakan antara informasi yang sesuai fakta dan hoaks.

Secara umum, informasi yang tidak sesuai dengan fakta disebut dengan hoaks. Kemudian, ada pula yang menyebutnya dengan misinformasi, disinformasi, dan mal-informasi.

Misinformasi, yaitu informasi salah yang disebarkan oleh orang yang memercayainya sebagai hal yang benar, karena ketidaktahuan orang yang menyebarkan tersebut. Hal ini bisa berupa ketidaksengajaan kesalahan seperti caption foto, tanggal, data, statistik, terjemahan yang tidak akurat, atau ketika satire ditanggapi secara serius.

Disinformasi, yaitu informasi salah yang sengaja disebarkan oleh seseorang untuk tujuan tertentu. Dengan kata lain, orang tersebut mengetahui bahwa informasi yang disebarkannya adalah tidak benar.

Mal-informasi, yaitu informasi yang berdasarkan fakta (cukup memiliki unsur kebenaran baik secara keseluruhan maupun sebagian) namun disalahgunakan untuk merugikan orang atau pihak lain.

Ada 7 macam hoaks, yaitu satire, konten menyesatkan, konten aspal, konten pabrikasi, konten tidak relevan, konteks salah, dan konten manipulatif.  Ada beberapa alasan di balik mis-diinformasi tersebut, yaitu karena jurnalisme yang lemah, untuk lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisanship, mencari uang (clickbait/iklan), gerakan politik, dan propaganda.

Baca juga: Yuk, Disiplin agar Covid-19 Ambyar!

Mengidentifikasi Situs Abal-abal

Situs abal-abal menjadi salah satu sumber infomasi palsu dan menyesatkan. Situs tersebut memproduksi informasi semata-mata untuk keuntungan (demi uang).

Ada beberapa tips untuk mengidentifikasi situs abal-abal, antara lain:

  • Cek alamat situs, jika meragukan bisa lakukan pengecekan melalui sejumlah situs seperti who.is dan domainbigdata.com. Kadang, situs abal-abal cuma beralamat di blogspot atau wordpress
  • Cek data perusahaan media di Dewan Pers, bisa melalui https://dewanpers.or.id/dataperusahaanpers
  • Cek detail visualnya, misalnya gambar logo yang jelek atau menyaru mirip situs media mainstream.
  • Waspada bila terlalu banyak iklan, media abal-abal biasanya sekadar mencari clickbait
  • Bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream, misalnya nama penulisnya jelas, cara penulisan tanggal di badan berita, hyperlink yang disediakan mengarah ke mana, narasumber kredibel atau tidak.
  • Cek About Us di laman situs media. Sesuai UU Pers, media tepercaya  memiliki badan hukum dan ada penanggungjawabnya, alamatnya jelas dan siapa orang-orangnya. Media abal-abal selalu anonim.
  • Waspada dengan judul judul sensasional. Baca berita hingga selesai, jangan hanya judulnya saja.
  • Cek ke situs media mainstream untuk memastikan informasi bisa dipercaya atau tidak.
  • Cek google reverse image search pada foto utama. Salah satu ciri situs penyebar hoaks yaitu mencuri konten dari situs lain.

Baca juga: Tetap Bahagia di Masa Pandemi

Cek Hoaks atau Fakta Kesehatan

Penggunaan media sosial yang begitu masif di masa pandemi Covid-19 kadang menimbulkan informasi yang salah dan menyebar lebih cepat dibandingkan faktanya. Fenomena ini dinamakan infodemik.

Menurut Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), jumlah hoaks kesehatan meningkat dari 7% (86 hoaks dalam setahun pada 2019) menjadi 56% (519 hoaks dalam setengah tahun pada 2020). Jumlah hoaks Covid-19 yang diklarifikasi oleh MAFINDO adalah berjumlah 492 hoaks (94,8%) dari total hoaks kesehatan selama enam bulan pertama tahun 2020. Sedangkan Kementerian Kominfo mencatat 1.471 hoaks terkait Covid-19 tersebar di berbagai media hingga 11 Maret 2021.

Terjadinya mis/disinformasi kesehatan mengakibatkan dampak buruk, antara lain:

  • Menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat;
  • Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, otoritas kesehatan dan ilmu pengatahuan (sains);
  • Demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan;
  • Sikap apatis yang memiliki konsekuensi besar karena berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat, seperti membahayakan kesehatan, bahkan sampai menimbulkan risiko kematian.

Masyarakat perlu memiliki kemampuan dasar cek fakta kesehatan. Caranya yaitu:

  • Cek sumber aslinya
  • Jangan hanya baca judul
  • Identifikasi penulisnya apakah penulis adalah seseorang yang nyata dan kredibel
  • Cek tanggal apakah informasi tersebut up to date dan relevan
  • Cek bukti pendukung lain
  • Cek bias. Bias pribadi Anda akan mempengaruhi penilaian Anda terhadap hal yang dapat dipercaya atau tidak
  • Cek organisasi pemeriksa fakta, seperti Cek Fakta Tempo atau media nasional lainnya maupun pemeriksa fakta internasional seperti AFP factcheck, dan Washington Post factcheckers. 

Untuk memeriksa fakta, khususnya seputar klaim kesehatan, tools dan teknik dasar yang diperlukan di antaranya:

  • Sumber referensi yang terpercaya seperti website resmi institusi kesehatan (WHO, CDC, Kemenkes, BPOM, IDI, IAKMI) dan jurnal ilmiah, seperti the New England Journal of Medicine, the British Medical Journal, Nature Medicine, the Lancet.
  • Studi peer-review dan pre-print. Peer review merupakan studi penelitian melewati proses evaluasi oleh tim pakar independen dari bidang keilmuwan yang sama. Peer-review umumnya dianggap sebagai gold standard dalam studi ilmiah. Sedangkan pre-print belum melewati proses peer-review.
  • Studi korelasi dan hubungan sebab akibat. Studi korelasi mengukur derajat keeratan atau hubungan korelasi antara dua variabel. Sedangkan studi hubungan sebab akibat untuk meneliti pola kausalitas dari sebuah variabel terhadap variabel lain.

Semoga informasi yang saya dapatkan dari workshop yang diadakan oleh Tempo Institute yang bekerja sama dengan Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) ini bisa membantu kita untuk mengecek hoaks atau fakta kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *