Destinasi Sumatera

Nonton Serunya Pacu Jawi di Payakumbuh

Awan gelap bergelayut di langit Payakumbuh ketika saya turun dari mobil angkutan umum jam 3 sore itu. Saya melangkahkan kaki menuju salah satu warung, seorang pria dan wanita muda ada disana. Saya memesan segelas kapucino, juga memohon izin si mbak penjaga warung untuk menumpang men-charge kamera poket yang hampir seharian terpakai jeprat-jepret di Ngarai Sianok dan Lembah Harau.

Sementara minuman sedang dibuat, si pria mulai mengajakku berbincang santai. Kami berkenalan, Madi demikian nama pria itu. Umurnya tak jauh berbeda dengan saya.

Beberapa kali saya memandang ke seberang jalan raya, ke sebuah sawah yang berlumpur tanpa tanaman padi. Lalu saya pun menanyakan kepada pemuda Payakumbuh itu, jam berapa Pacu Jawi akan dimulai. Ah, masih 1 jam lagi menuju jam 4. Saya terus berbincang santai dengan Madi, sekedar untuk membunuh waktu.

Gerimis mulai menitik ke bumi saat petugas yang berbicara melalui pengeras suara mengumumkan akan dimulainya acara. Saya berpamitan dengan Madi dan menyeberang jalan menuju petak sawah tempat berlangsungnya Pacu Jawi.

Saya mencari tempat yang nyaman, dan menemukan semacam gubug di tepi arena. Beberapa orang dewasa dan anak-anak juga ada di situ.

Dari pengeras suara, petugas memanggil kelima peserta untuk race pertama. Dari sisi kanan tempat saya berdiri, satu per satu sapi dituntun masuk menuju arena menuju garis start. Cukup lama waktu yang diperlukan untuk menggiring kelima sapi dan membuat mereka berbaris sejajar di garis start.

Setelah sapi-sapi tersebut dinilai sudah rapi berbaris, petugas start pun melambaikan bendera pertanda balapan dimulai. Sapi-sapi berlari sangat cepat diikuti oleh para joki yang memegangnya, menuju garis finish.

Gerimis berubah menjadi hujan deras, dan lomba dilanjutkan. Race kedua dan seterusnya dilakukan, mulai dari sapi-sapi yang digiring masuk ke arena, membariskan sapi di garis start hingga balap dilakukan. Belasan menit waktu yang diperlukan untuk menyiapkan sapi-sapi hingga berbaris rapi di posisi start, namun hanya sekitar belasan detik saja sapi-sapi itu berlari dari start menuju finish.

Sapi yang menang dari masing-masing race akan diadu kembali di race terakhir untuk memperebutkan hadiah berupa kambing dan uang. Meski hujan turun dengan derasnya, saya dan penonton lain tetap menunggu Pacu Jawi hingga selesai. Tak hanya penonton dari Payakumbuh dan daerah sekitar saja, petugas melalui pengeras suara juga menyebutkan tamu dari luar negeri yang ikut hadir sore itu.

Selama menunggu jeda waktu dari race satu ke race selanjutnya, saya dan beberapa pengunjung yang berada di gubug saling berbincang. Beberapa kali kami harus membuang genangan air yang berada di atap terpal gubug tersebut. Menikmati kopi panas rasanya sungguh cocok untuk menghangatkan tubuh di tengah hujan deras. Bersamaan selesainya acara Pacu Jawi, hujan pun berhenti menjelang maghrib.

Saya meninggalkan arena pacu jawi tersebut dan melanjutkan perjalanan dengan mobil angkutan umum dari Payakumbuh ke Padang dengan celana, jaket dan tas ransel yang lembab

1 thought on “Nonton Serunya Pacu Jawi di Payakumbuh”

  1. Acaranya seru banget
    Tapi kok hatiku sedih ya lihat sapi-sapi itu bertanding. Gak tegaaa huhuhuhu
    Tapi ya, ini namanya kearifan lokal. Sebelum bertanding pasti sapi-sapi itu sudah disiapkan secara mental dan fisik oleh pemiliknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *