Destinasi Jawa

Malioboro di Ujung Malam

Tinggal hitungan menit saja menuju dua belas malam ketika saya tiba di Malioboro, setelah berjalan kaki dari penginapan di Jalan Mataram yang jaraknya cukup dekat.

Lima musisi terlihat begitu piawai memainkan gitar, banjo, drum, biola dan kontra bas. Saya ikut larut dalam permainan para pemusik yang sekaligus berperan juga sebagai vokalis untuk menghibur pengunjung.

Satu lagu yang sedang populer, Jaran Goyang, menjadi pertunjukan meriah yang diikuti dengan pengunjung yang bertepuk tangan menyesuaikan tempo lagu. Satu dua pengunjung terlihat mengambil gawai dan merekam pertunjukan artis-artis jalanan Jogja tersebut.

Begitu lagu berakhir, seorang pengunjung kemudian membuat permintaan lagu berikutnya untuk dimainkan. Sebuah intro kemudian dimainkan oleh kelima musisi, dan gesekan biola yang halus dan indah membuat saya terkagum.

“Denting piano kala jemari menari
Nada merambat di kesunyian malam”

Bait pertama yang lembut dinyanyikan, dari lagu yang cukup terkenal bertajuk “Yang Terlupakan” karya Iwan Fals. Dan begitu memasuki bagian chorus, pengunjung ikut bersama-sama bernyanyi.

“Rasa sesal di dalam hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini”

Baca juga: Mengenang Sejarah Perjuangan Nasional di Museum Benteng Vredeburg

Entah sudah berapa menit memasuki hari yang baru, keriaan kecil di pinggir Malioboro masih saja terus berlanjut. Saya beranjak dari tempat itu dan mencoba menikmati sudut-sudut yang lain. Warung-warung tenda lesehan sudah mulai sepi, hanya satu dua pengunjung yang terlihat masih menikmati gudeg, pecel lele, ayam goreng dan yang lainnya sebagai menu makan larut malam. Sementara warung yang lain sudah mulai dibereskan dan dibongkar oleh pemiliknya.

Gerobak kopi keliling terlihat ada di beberapa titik di Malioboro. Penjual kopi yang mengenakan baju tradisional khas Jawa bermotif lurik atau garis-garis hitam dan coklat setia melayani pembeli yang masih ingin bertahan menikmati malam.

Secangkir kopi hitam saya pesan, lalu saya mengambil duduk di salah satu bangku panjang yang ada di trotoar. Perlahan saya menyesap kopi sambil menikmati Malioboro selepas malam yang sudah mulai kehilangan hiruk-pikuknya.

Masih ada pengunjung lainnya di bangku-bangku trotoar Malioboro, ikut menikmati suasana kota budaya itu. Ada yang duduk seorang diri, ada pula yang berdua. Mungkin dengan teman, mungkin juga kekasih. Atau bisa saja bersama selingkuhan, entahlah.

Masing-masing larut dengan caranya untuk mencoba memberi makna bagi waktu yang ada tersebut. Saya mulai mengaktifkan tombol wifi pada gawai, dan menikmati hotspot gratis untuk membuka berita daring atau media sosial.

Beberapa pengunjung yang mungkin sudah puas (mungkin juga jenuh atau lelah) menikmati Jogjakarta mulai meninggalkan bangku-bangku trotoar Malioboro. Ada yang berjalan kaki sambil sesekali berhenti untuk berswafoto, ada pula yang memesan taksi atau ojek online.

Saya mencoba bertahan beberapa menit lagi, sembari menikmati secangkir kopi yang tersisa beberapa reguk lagi. Hingga pada akhirnya saya memutuskan menyudahi kesyahduan itu.

Saya berjalan kaki untuk kembali ke penginapan. Satu dua penarik becak terlihat masih mencoba bertahan di sudut jalan sambil berharap masih ada keberuntungan dan rezeki mampir kepadanya.

Di tengah maraknya bisnis sewa kendaraan online, mungkin ia tetap yakin masih ada tersisa penumpang terakhir yang menyewa jasa becaknya. Dan nadi Malioboro berdenyut semakin pelan, sebelum pagi nanti akan kembali mengencang.

4 thoughts on “Malioboro di Ujung Malam”

  1. Bikin salut ya kreatifitas mereka …, pedagang kopi pakai pakaian khas Jawa begitu.
    Itu jadi salah satu daya tarik tersendiri buat wisatawan.

    Semoga menginspirasi daerah lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *